Stres? Ngemil Aja! 


Apa benar ya ngemil itu bisa meredakan stres? Coba Anda perhatikan, bila di
kantor pada saat jam-jam sibuk atau menjelang sore, tanpa disadari pasti ada
keinginan untuk mengonsumsi makanan ringan atau minum manis. Kebanyakan
orang dewasa senang ngemil untuk berbagai alasan, seperti mengurangi stres,
kepenatan selama bekerja atau sebagai selingan ketika sedang bersantai
bersama teman atau keluarga. 

Di Amerika Serikat,  50 persen orang yang sedang mengalami stres atau emosi
negatif akan langsung mencari makanan kudapan. "Saat stres lari ke ngemil
adalah hal yang wajar dan sebaiknya kita tidak mengabaikan keinginan itu.
Karena jika ada perasaan takut untuk ngemil, maka akan membuat imun tubuh
menurun dalam waktu enam jam," kata Hanny Muchtar Darta, praktisi di bidang
Emotional Intelligence (EI).  

Terjadinya penurunan kadar gula dalam darah biasanya dimulai empat jam
setelah konsumsi makan utama. Organ hati tidak mampu lagi memasok gula darah
karena persediaan karbohidrat yang dapat diubah menjadi gula darah sudah
terkuras habis. Pada saat kadar gula darah menipis, akan timbul rasa lapar.
Bila rasa lapar itu didiamkan saja, maka kadar gula darah akan semakin
merosot. Akibatnya, tenaga akan menurun karena gula darah merupakan sumber
energi yang siap pakai. 

Selain itu, pikiran juga akan sulit berkonsentrasi, perasaan gelisah, dan
mudah emosi. Untuk mengembalikan kadar gula darah menjadi normal, ngemil
merupakan cara yang tepat untuk memulihkan semangat dan emosi. 

Hanny menambahkan, dengan ngemil selain memberikan tambahan kalori yang
memang diperlukan sebelum makan besar tiba, seseorang dapat juga memperoleh
kembali emosi positif dan energi positif mereka setelah seharian bekerja.
"Setelah ngemil biasanya tenaga akan terisi lagi dan siap menjalankan
rutinitas hidup. Anggap saja ngemil sebagai upaya kita untuk memberikan
penghargaan kepada diri sendiri setelah melakukan serangkaian kegiatan dan
menyita pikiran dan emosi kita," ujar Hanny yang ditemui di sela-sela
pengenalan snack baru di Restoran En Dining, Plaza EX baru-baru ini.  

Menurut Hanny, memang ada keterkaitan antara kebiasaan ngemil dengan situasi
emosional seseorang. Sehingga bukan satu hal yang luar biasa apabila
kebiasaan ngemil menjadi kebiasaan dari sebagian besar anggota masyarakat.
Terutama untuk menyeimbangkan situasi emosional mereka. Di Indonesia
rata-rata ngemil dilakukan empat kali dalam sehari. Jumlah ini sangat
signifikan  dibandingkan jumlah rata-rata orang makan hidangan besar dalam
sehari. 

Ngemil sehat 

Biar pun kita boleh ngemil, tidak berarti bisa sembarangan saja. Ngemil
boleh tapi jangan terlalu berlebihan. Supaya kita tetap langsing, sebaiknya
pilihlah camilan yang mengenyangkan dan rendah kalori, terutama yang banyak
mengandung air. Selain cukup mengenyangkan dan rendah kalori, camilan berupa
buah-buahan segar umumnya lebih praktis penyiapannya.

Ngemil sehat dapat juga diambil dari jatah makanan harian. Namun, kita harus
mengurangi sebagian porsi makanan utama, terutama makanan yang berkalori.
Pada saat tertentu, boleh saja menikmati snack kemasan siap santap dengan
kalori yang terbatas. 

Sebaiknya jauhi camilan berupa kue-kue basah, baik yang manis maupun gurih,
karena umumnya padat kalori. Bahan-bahan untuk membuat kue basah biasanya
memiliki kalori yang tinggi, seperti tepung, gula, dan santan. Minuman sirup
dan berbagai jenis minuman ringan (soft drink) sebaiknya juga ditinggalkan
karena memiliki kandungan kalori yang tinggi. 

Nah, daripada menikmati minuman yang tinggi kandungan gulanya, lebih baik
kita mengonsumsi teh tawar atau teh pahit. Selain tidak mengandung kalori,
minuman teh juga mengandung tanin dan senyawa berkhasiat lainnya yang mampu
mengikat lemak dari makanan.

So, yuk rame-rame ngemil! (dam)



Sumber: Warta Kota



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke