Dicaci di Awal, Disuka Kemudian... Pingkan Elita Dundu
Pada awal perencanaan hingga uji cobanya, proyek busway di jalur khusus mendapat kecaman berbagai pihak. Penyempitan badan jalan, pembangunan jalur yang lama, serta penebangan pohon di jalur yang dilaluinya terus menuai kritik. Sekarang, orang mulai menyukai kehadiran busway. Kapan busway sampai Ciledug? Kapan ke Pamulang? Kapan ke Tangerang?" Begitulah pertanyaan sejumlah rekan setiap kali diinformasikan bahwa DKI Jakarta akan membangun koridor baru bus di jalur khusus itu. Itu berarti kehadiran busway yang dulunya dicaci banyak kalangan, khususnya pengguna mobil pribadi, mulai dirasakan manfaatnya. Para pengguna mobil pribadi juga ingin bisa menikmati busway dari rumah ke kantornya. Akan tetapi, tentu saja Pemerintah Provinsi DKI tidak bisa merealisasikan semua permintaan itu. Apalagi kalau harus memperpanjang jalur busway hingga ke Tangerang dan Bekasi sebab pembangunan yang sekarang saja harus dilakukan secara bertahap. Saat ini yang sudah dioperasikan baru tiga koridor dari 15 yang direncanakan. Ketiganya adalah Koridor I (Blok M-Kota), Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni), dan Koridor III (Harmoni-Kali Deres). Itu pun masih terdapat banyak kendala, seperti pengadaan bus di Koridor II dan III yang belum sepenuhnya selesai. Meski demikian, saat ini pembangunan empat koridor baru hampir selesai dan akan segera menyusul empat koridor lainnya. Seperti sebelumnya, ambisi untuk mengoperasikan koridor baru itu selalu tidak diikuti perencanaan yang baik. Sampai Desember ini, misalnya, baru 13 sasis dan mesin untuk bus transjakarta Koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas), V (Kampung Melayu-Ancol), VI (Ragunan-Rasuna Said), dan VII (Kampung Melayu-Kampung Rambutan) tiba di Jakarta. Sasis dan mesin dari Korea untuk bus berbahan bakar gas itu baru tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (5/12), bersama dengan 11 sasis dan mesin untuk Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni) dan III (Harmoni-Kali Deres). "Sekarang sedang diuji keselamatannya oleh Departemen Tenaga Kerja," ungkap Direktur PT Hyundwoo Trading Indonesia Buyung Atang. Setelah menjalani uji keselamatan, selanjutnya sasis dan mesin itu akan dibuatkan badan bus di perusahaan karoseri. Kalau saja proses pengujian itu perlu waktu satu pekan dan karoseri satu bulan, artinya pertengahan Januari mendatang baru bisa dioperasikan 13 bus transjakarta untuk keempat koridor baru. Padahal, menurut rencana, empat koridor itu akan diuji coba pada 15 Januari dan dioperasikan 20 Januari 2007, dengan target empat jalur itu dilintasi 100 bus! Percepat pengadaan bus Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono beberapa kali menyatakan, untuk keperluan itu bisa meminjam bus dari koridor lain. Persoalannya, dari koridor mana bus itu akan dipinjam kalau untuk Koridor I, II, dan III saja belum sepenuhnya terpenuhi? Boleh saja Dinas Perhubungan DKI dan Badan Layanan Umum (BLU) transjakarta berdalih pengadaan bus transjakarta dilakukan secara bertahap sampai terpenuhinya kebutuhan 203 unit pada akhir tahun 2007. Mungkinkah DKI akan mengulangi lagi kesalahan akibat ketidaksiapan dalam hal pengadaan bus di Koridor II dan III yang terus tersendat-sendat? Dinas Perhubungan DKI mencatat, kebutuhan armada bus transjakarta di Koridor I sebanyak 130 unit. Namun, yang terealisasi sampa saat ini hanya 91 unit. Di Koridor II dan III, dari kebutuhan 204 bus, yang tersedia baru 71 bus. Kekurangan armada juga memberikan dampak terhadap pelayanan di Koridor I (Blok M-Kota) karena pada saat tertentu (jam pulang kantor) sejumlah armada ikut diperbantukan ke Koridor II dan III. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Kendaraan Bermotor di Jalan (Organda) DKI Herry Rotty mengemukakan, Pemerintah Provinsi DKI seharusnya bersikap tegas terhadap konsorsium pengadaan bus. Desakan lain dari DPD Organda DKI adalah segera melelang kuota pengadaan bus untuk operator lain yang sekarang belum masuk konsorsium. Terlepas dari persoalan yang masih membelit konsorsium penyedia bus yang terdiri dari lima perusahaan bus kota di Jakarta, busway saat ini sudah menjadi sarana transportasi yang diminati masyarakat. Coba saja lihat pada jam-jam sibuk pagi dan sore, atau pada jam makan siang, bus transjakarta Koridor I selalu penuh sesak. Calon penumpang bahkan harus antre panjang di halte-halte. Dari sisi pendidikan disiplin masyarakat, busway juga berhasil membuat orang mau antre dengan tertib, meskipun masih ada yang perlu dibenahi di dalam halte. Misalnya, tak jarang calon penumpang berjejal-jejal dan berebut berdiri di dekat pintu. Soal keamanan dan kenyamanan, harus diakui bus transjakarta relatif baik, tetapi memang masih harus terus ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan menambah jumlah bus sehingga penumpang tak perlu berdesakan, tak perlu antre panjang, dan headway (jarak kedatangan antarbus) tiga menit dapat tercapai! Untuk percepatan pengadaan bus, tidak bisa tidak, Dinas Perhubungan atau BLU transjakarta harus tegas terhadap anggota konsorsium yang belum memenuhi kewajibannya. Kalau perlu, anggota konsorsium yang tak memenuhi kewajibannya dicopot dan diganti dengan operator lain, entah perusahaan otobus atau koperasi angkutan yang lain. Semua itu mengingat selama ini masyarakat sudah cukup tersiksa oleh pembangunan prasarana busway yang dilakukan serentak di sejumlah ruas jalan, seperti Jalan Harsono RM, Warung Buncit, HR Rasuna Said, Latuharhari, Pemuda, Pramuka, Matraman Dalam, Sultan Agung, Galunggung, Jalan Raya Bogor, Mayjen Sutoyo, Otista, Jatinegara Barat, Jatinegara Timur, Matraman Raya, Salemba, Kramat Raya, dan Gunungsahari. Akankah pengorbanan dari jutaan pengguna jalan yang setiap hari rela bermacet-macet ria itu masih ditambah lagi dengan penderitaan sepanjang tahun 2007 akibat penyediaan bus tersendat-sendat? Apalagi, Pemerintah Provinsi DKI masih berencana membangun lima koridor baru pada tahun 2007. Bisa dibayangkan betapa panjangnya derita masyarakat yang ditimbulkan oleh busway. Gas masih bermasalah Persoalan lain yang masih dihadapi pada proyek busway adalah soal penyediaan bahan bakar gas yang masih sangat terbatas. Direktur Operasional PT Transbatavia (konsorsium Koridor II dan III) Jabes Sihombing menjelaskan, instalasi stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang ada sudah cukup memenuhi secara rutin armada bus transjakarta di dua koridor tersebut. Selain pelayanan bahan bakar gas di SPBG PPD di Daan Mogot (melayani bus Koridor III), selama ini PT Transbatavia juga menggunakan SPBG Petros di Perintis Kemerdekaan (Koridor II). "Apabila salah satu dari kedua SPBG tidak berfungsi dengan baik, selama ini kami menggunakan SPBG di Jalan Pemuda. Diharapkan, akhir Desember SPBG Petros di Rawa Buaya sudah bisa digunakan sehingga bus Koridor III bisa mengisi gas di SPBG tersebut," papar Sihombing. Masalah lain, tekanan bar gas yang dipasok dari PT Perusahaan Gas Nasional di instalasi Muara Karang sampai ke SPBG terkadang, jika bocor di laut, tidak mencapai angka minimum 6 bar-idealnya 8-9 bar-untuk menghasilkan tekanan 200 bar ketika mengisi ke bus transjakarta. Akibatnya, mesin SPBG tidak bekerja secara maksimal sehingga berpengaruh terhadap proses pengisian bahan bakar gas ke kendaraan.... [Non-text portions of this message have been removed]
