Cilandak Town Square

 

Shop Till You Drop on Wednesday


  

         

 

         

 

Akhirnya sampai juga saya ke Cilandak Town Square (Citos) pada hari Rabu,
setelah tertunda beberapa kali. Kebetulan, saya juga janjian makan siang
dengan seorang teman, yang kantornya berjarak beberapa puluh meter dari
sana. 

Tapi, kenapa juga harus Rabu? Sebab, dua tahun belakangan, Rabu di Citos
selalu istimewa, apalagi bagi perempuan dan para shopper. Bagi sebagian
orang, bertandang ke Citos pada setiap hari ketiga telah menjadi wisata
belanja tersendiri.  

Pada hari itu, muncul barang-barang yang tidak dijual di hari-hari lain.
Yup, ada bazaar beraneka ragam barang di tempat nongkrong anak muda di
kawasan Jakarta Selatan itu. Ada baju, asesoris, sepatu, tas, karpet, bed
sheet dan masih banyak lagi. Harganya pun cukup terjangkau, meski tidak
semuanya murah.  Itu pun belum harga mati, masih bisa ditawar kok. 

Siang itu, ketika sampai di lobby utama, kemeriahan bazaar langsung
terlihat. Ruang terbuka berbentuk lingkaran itu dipenuhi dengan stand-stand
kecil yang berlomba menjajakan dagangan mereka. Siap menunggu serbuan para
shopper. Suasana semakin semarak dengan adanya suguhan live music di salah
satu sisi lobby. 

"Silakan, kak. Lihat-lihat aja dulu," sapa ramah dari seorang perempuan muda
di salah satu stand baju yang saya masuki. 

"Ok," jawab saya sambil melihat-lihat koleksi Agnes, nama sang pemilik,
sekaligus menjadi label dari gerai itu.  

Koleksinya cukup lengkap. Ia menjual blouse, kaos, baju terusan model
vintage, asesoris, tas dan juga sepatu. Semuanya dibeli langsung dari
Bangkok, Thailand, kata Rina, adik Agnes. Harganya berkisar Rp 50.000 hingga
Rp 200.000 rupiah. 

Di seberang Agnes, terdapat stand yang menjual kaos-kaos sisa ekspor dengan
harga berkisar Rp 30.000 hingga Rp 60.000 rupiah. Lalu, di bagian lain, ada
juga gerai yang menyediakan baju-baju muslim dari sutra dengan harga
berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000. 

Jika di lobby utama sarat dengan berbagai macam busana, tidak demikian yang
saya temui di hall yang memanjang di depan gerai-gerai makan di Citos. Di
sepanjang jalan ini, terlihat berbagai pernak-pernik dan aksesories unik.
Sebagian besar, hand made alias buatan sendiri. Wow, benar-benar
menyenangkan, terutama bagi para aksesories freak! 
Hal itu pula yang dilakukan San-san dan kakaknya, Dewi. Duet kakak beradik
ini merangkai berbagai bead (manik-manik) menjadi beragam asesoris seperti
kalung, gelang dan anting-anting yang unik dan cantik. Hasil rangkaian
tersebut dijual dengan harga Rp  40.000 hingga Rp 150.000.

Kita sering hunting sampai Thailand dan Hongkong untuk mencari batu-batu
yang unik. Kalau hanya mengandalkan dalam negeri, agak susah. Modelnya
terbatas," aku San-san, yang sudah sering mengikuti bazaar di Citos ini.

Lalu, di stand yang berbeda, ada Atik dan temannya, Miko yang membuat
asesoris  khusus dari beragam mutiara, mulai dari mutiara air tawar hingga
Swarozki. 

Kalung mutiara air tawar putih bercampur biru model choker, misalnya, dijual
dengan harga Rp 75.000. Sementara kalung mutiara rangkap tiga bercampur
Swarozki ditawarkan dengan harga Rp 350.000. 

Itu baru sebatas asesoris. Masih ada yang lain loh. Beberapa  stand menjual
sepatu-sepatu cantik dengan harga berkisar Rp 150.00. Pun ada juga tas-tas
kulit buatan Hongkong seharga Rp 150.000 hingga Rp 300.000. 

Buat yang butuh sprei baru, juga tersedia berbagai pilihan dari bahan yang
lembut dengan berbagai corak yang elegan. Aneka pelapis tempat tidur ini
dijual dengan harga Rp 90.000 hingga Rp 300.000.    

Well, cukup sudah saya memanjakan mata di sepanjang siang ini, menikmati
kawasan wisata belanja Rabu-an ini, meski tidak ada satu pun yang saya beli.
(Abis, giliran saya suka, tidak sesuai dengan kantonghehehe!). Handphone
juga sudah berdering, panggilan teman saya untuk makan siang.Selamat
berbelanja!!!  


Penulis: Angelina Maria Donna



 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke