Baru-baru ini lembaga penelitian politik Internasional dari badan riset Australia mempublikasikan sebuah laporan riset dan menyatakan, bahwa iklim maupun pemukaan air laut yang berangsur-angsur naik bukan saja dapat mengancam secara langsung kehidupan sebagian negara kepulauan, apalagi negara Asia yang penduduknya sebagian besar terpusat di sepanjang pantai atau daerah pinggir sungai, seperti misalnya Sungai Kuning di China dan Delta Chang jiang, terutama Kota Shanghai dan kota-kota lainnya, serta negara yang ber-topografi rendah, misalnya Bangladesh, akan menghadapi krisis terendam air.
Laporan terkait menuturkan : "Pemanasan global dikompres (pemotongan) hingga dalam waktu satu abad terjadi, dan representatifnya adalah tantangan serius terhadap kemampuan penyesuaian diri manusia dan organisme, perubahan lklim yang datang secara tiba-tiba akan membuat ekosistem bumi yang sudah lemah di dorong melampaui titik genting yang tak mampu ditahan lingkungan, sehingga menimbulkan masalah setiap orang." Bukan fiksi Pada 2001 silam, menurut informasi dari yayasan alam dunia, bahwa negara kepulauan dari Samudera Pasifik, Tuvalu, mengumumkan, karena efek rumah kaca yang menyebabkan permukan ari laut terus beranjak naik, segala upaya yang dilakukan negara dinyatakan gagal, dan sekitar 11.000 warga di seluruh negeri terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Tuvalu telah menandatangani perjanjian dengan Selandia Baru, yaitu warga negara dari seluruh negeri Tuvalu akan dipindahkan ke Selandia Baru. Sejak 1995-2002, semenanjung Kutub Selatan akan kehilangan sandaran es sekitar 12.500 km persegi, setara 4 kali lipat dengan luas wilayah Luxembourg. Dalam majalah natural Inggris yang terbit pada Agustus 2005 lalu, para ilmuwan menuturkan bahwa kerekahan penyangga es erat hubungannya dengan pemanasan global, dan kerekahan ini mungkin mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Bagi China, jika permukaan laut naik 1 meter, maka 1/3 areal Shanghai akan tergenang air laut. Saat itu, sejumlah besar masyarakat di kawasan tanah rendah di sepanjang pantai akan pindah ke pedalaman, akibatnya sumber makanan dan air bukan saja menjadi sangat langka, selain itu juga dapat mengakibatkan gejolak sosial politik karena perpindahan penduduk secara besar-besaran. Pada 2004 silam, ketika film Hollywood The Day after Tomorrow yang membuat publik di seluruh dunia menyadari akan krisis cuaca, manusia tampak betapa kecilnya (tak berarti). Efek visual yang hidup membuat jantung kita berdebar, ekspresi pengungsi yang terpojok karena cuaca membuat setiap orang yang menyaksikan film membunyikan lonceng peringatan. Jika manusia tidak mengambil langkah-langkah positif terhadap pemanasan global saat ini, maka setiap dari kita mungkin akan menjadi pengungsi cuaca seperti yang tercermin dalam film tersebut. Bumi yang akan datang. Pemanasan global memberi dampak pada perubahan hidup manusia, dan terkadang merupakan suatu perubahan (pikiran atau watak karena pengaruh yang halus dan tak terasa). Perubahan-perubahan ini, adalah memaksa pergi orang-orang secara perlahan dari akar lingkungan yang dikenal dan meninggalkan kampung halaman. Pada Juli 2006 lalu, dengan berdasarkan riset ilmiah atas perubahan iklim saat ini, reporter dari The Guardian post Inggris yakni David Adam menuturkan, jika kita tidak melakukan perbaikan atas kondisi terkait saat ini, membiarkan suhu sedunia naik, maka akan terjadi perubahan yang bagaimana di Inggris dalam 80 tahun ke depan. Analisanya sangat menarik dan meyakinkan, bahwa dampak langsung pemanasan global terhadap bangsa Inggris meliputi : Sampai pada tahun 2020 nanti, karena naiknya suhu, masa libur di Inggris akan bertambah. Namun, bagi Taman Nasional yang sudah overload saat ini, wisatawan yang datang pada masa liburan akan menjadi satu problem yang lebih serius. Sampai pada tahun 2050 nanti, pengungsi dari Eropa Selatan yang kekeringan dan menyerbu ke Inggris akan semakin banyak. Dan pengungsi dari negara Banglasdeh yang kerap dilanda bencana banjir itu juga akan meningkat. Alat transportasi umum yang ada sekarang, misalnya kereta api di London, yang mana oleh karena tidak adanya air conditioner, maka akan menjadi tak tertahankan saat musim panas tiba. Sampai pada tahun 2080 nanti, aktivitas bermain ski akan kembali menjadi kepatenan orangorang berduit, sebab cuaca yang terik akan menyebabkan biaya permainan ski meningkat. Prediksi yang sama juga dapat terjadi di China, hanya saja, bagaimana menghadapi perubahan hidup yang disebabkan perubahan cuaca bagi negara berkembang seperti China, dengan penduduknya yang padat dan sumber alam yang terbatas ini ? Jika masa libur bertambah karena naiknya suhu, apakah instalasi umum kita dapat menghadapi tantangan terhadap panas terik yang akan datang ? Jika pengungsi dari negara-negara dengan topografi rendah di sekitar menyerbu masuk ke negara tertentu, apakah dapat kita terima dan mengurus mereka? Jika suhu terus naik, dan di kota yang sudah menjadi perapian, apakah orang-orang dapat hidup hanya tergantung pada Air Conditioner ? Jika permukaan laut naik, kota Shanghai dan kota di sepanjang pantai akan tergenang air, bagaimana kita menjamin kelancaran perpindahan orang-orang dan hidup mereka selanjutnya ? Jika rumah kita tergenang banjir, maka akan kemana kita menyelamatkan diri ? Kewajiban setiap orang Perubahan cuaca adalah adalah satu masalah kolektif, bagaimana mencegah agar tidak menjadi pengungsi cuaca, bukan hanya tugas dan tangung jawab satu negara, melainkan kewajjiban setiap umat manusia. Memberi definisi pengungsi cuaca dari sudut Internasional, yakni bagaimana menjadi suatu konvensi internasional bagi mereka, agar badan pengungsi PBB mendapat dana dan menempatkan personel yang diperlukan untuk menangani pengungsi cuaca. Ini adalah tugas utama. Jika ingin mencegah kejadian tragis seperti dalam film tersebut, maka yang paling pokok adalah mengurangi jumlah pengeluaran gas efek rumah kaca. Meskipun sejumlah besar negara dewasa ini sudah berupaya mencegah pemanasan cuaca, misalnya perjanjian (Protocol Kyoto), namun itu hanya sebuah awal. Untuk mencegah pemanasan global masih perlu upaya kita bersama. Selain itu, membuat undang-undang dan peraturan kebijakan lingkungan yang sehat, sistem kebersihan umum yang memenuhi syarat, adalah kunci tindakan prevetif (pencegahan) . Bagi China, jika suhu dunia terus naik, maka tidak saja daerah sebelah timur yang bertanah rendah yang lebih maju ekonominya itu akan tergenang air, gletser di dataran tinggi bagian barat juga tidak dapat mengatur volume air Jianghe, kekeringan dan banjir akan terjadi silih berganti di tanah daratan China. Dan untuk mencegah pemanasan global, China sepenuhnya tidak boleh menjauhkan diri dari masalah ini. Negeri Barat "terbakar" Sejak memasuki bulan Juli, gelombang panas yang bergelora menyerang Eropa dan Amerika. Sedemikian panasnya hingga es yang menjulang di Swedia habis terkikis, dan begitu juga di Kalifornia, AS listrik padam dalam skala luas, dan London, Inggris, bahkan prajurit penjaga Istana Buckingham yang megah berteduh dan berjaga di bawah pohon, bahkan karyawan perusahaan yang paling memperhatikan penamilan busana melepaskan stelan jas dan menggantinya dengan celana pendek ke kantor. Di pantai seberang Samudera Atlantik, Amerika, di pantai barat California juga mengerang dalam kepanasan. Pada 28 Juli lalu, Pemerintah California mengatakan, "gelombang panas yang berlangsung selama 2 pekan terakhir telah merenggut nyawa lebih dari 120 orang, memecahkan record tertinggi dalam sejarah." Begitu juga dengan ternak ambruk berjatuhan. kurang lebih sudah 25.000 ekor sapi perah mati kepanasan di Caifornia tengah hingga saat ini. Tapi, jumlah ternak piaraan yang mati lebih fantastis lagi, yakni mencapai 700.000 ekor. Negeri timur "terendam" banjir Yang sangat kontras dengan suasana melawan hawa panas di Eropa dan Amerika adalah, Korut, Korsel, Jepang di Asia Timur dan India di Asia Selatan justru sedang berjuang menghadapi badai hujan dan banjir, di sejumlah besar daerah berubah menjadi daerah yang terendam air. Pada juli lalu, terjangan hujan badai yang melanda berbagai daerah di Korut menyebabkan ratusan orang tewas dan hilang, sawah yang terendam banjir mencapai ratusan ribu hektar, di antaranya termasuk daerah pertanian Huanghai yang oleh Korut disebut "gudang pangan". Di Korsel, tepatnya sejak 14-19 juli lalu, badai hujan yang berkesinambungan telah mengakibatkan 25 orang tewas dan 24 hilang. Akibat banjir, telah menyebabkan hampir 4.600 orang dari 2.000 keluarga menjadi korban, dan sebanyak 2.175 rumah tergenang air. Banjir dan longsor yang disebabkan hujan lebat, di Jepang dan India menelan ratusan korban terhanyut banjir dan terkena petir. Tapi, bencana kali ini membuat ilmuwan mulai tertarik terhadap hubungan antara geologi dengan cuaca. Sejumlah geolog mencemaskan, lumeran glester yang disebabkan pemanasan global dapat mengeluarkan energi dalam kerak bumi yang ditekan, sehingga dengan demikian menyebabkan perubahan geologi yang serius, dan mengakibatkan gempa, tsunami dan letusan gunung berapi serta bencana alam lainya. Dalam menghadapi bencana, segala kekuasaan, kedudukan dan kepentingan menjadi tidak berarti. Singkirkan semua purbasangka, mari bersatu, untuk tidak menjadi pengungsi cuaca, mungkin adalah masalah yang lebih utama daripada perang atau konflik yang terjadi saat ini. (Sumber Secret China) Ngeblog Belajar Hipnotis --> http://pengobatan-alternatif.blogspot.com Ngebahas Pengobatan Alternatif --> http://groups.yahoo.com/group/ pengobatan-alternatif
