Riset baru-baru ini menunjukkan pemanasan global mungkin lebih buruk daripada perkiraan, karena efek pencairan permafrost - tanah beku permanen - yang dapat melepaskan gas "rumah kaca," karbon dioksida. Komputer memprediksi temperatur pada masa yang akan datang akan lebih tinggi jika gas-gas ini turut diperhitungkan. Ilmuwan mengatakan peningkatan temperatur atmosfir bumi sebagian besar disebabkan oleh emisi gas-gas buatan manusia yang menimbulkan panas, terutama karbon dioksida. Tetapi penemuan terbaru menyatakan bahwa bumi juga memiliki andil, karena turut melepaskan karbon dioksida.
Hal ini disebabkan sejumlah besar karbon terperangkap di dalam permafrost. Setelah berabad-abad, tanah beku ini telah mengumpulkan lapisan-lapisan debu tebal yang terbawa angin, timbunan akar-akaran, dan organik lainnya atau bahan yang mengandung karbon yang terbawa pergerakan gletser (sungai es). Sepanjang permafrost tetap membeku, karbon tinggal di dalam tanah tersebut. Tetapi ahli botani Ted Schurr dari Universitas Florida mengatakan bahwa temperatur yang lebih tinggi akan mencairkan tanah beku tersebut, melepaskan berbagai senyawa gas rumah kaca, yang kembali akan menaikkan temperatur. Schurr melakukan perjalanan ke Siberia untuk mengumpulkan contoh permafrost sampai tiga meter di bawah permukaan. Ia melaporkan dalam jurnal Science, bahwa ketika permafrost mencair di dalam laboratorium, mikroba-mikroba akan mencerna karbon tersebut dan mengubahnya menjadi gas karbon dioksida. "Itu seperti makanan yang ada di dalam lemari es anda," jelas Schurr. "Jika makanan benar-benar dingin, bakteri dan jamur tidak dapat melakukan aktifitas mereka. Sekarang jika anda hangatkan tanah organik ini, anda mencairkannya, maka mikroba dapat mencerna dan mengubahnya menjadi gas karbon dioksida. Gas ini kemudian masuk atmosfir dan menambah kandungan karbon pada atmosfir." Para ilmuwan mengetahui berapa banyak gas karbon dioksida yang umat manusia lepaskan ke angkasa setiap tahunnya, tetapi hingga sekarang belumlah jelas berapa banyak gas rumah kaca yang bumi dapat bebaskan. Schurr menemukan bahwa kandungan dalam permafrost di Siberia jauh lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya dan dapat berpotensi menggandakan konsentrasi karbon dioksida saat ini. Penelitian kedua mengkonfirmasikan efek rumah kaca. "Kami menggambarkannya sebagai satu penampungan amat besar yang mengandung sekitar 500 milyar ton karbon," kata Schurr. "Sebagai perbandingan, atmosfir saat ini mengandung sekitar 730 milyar ton. Kita sedang bicarakan tentang kandungan karbon yang tersimpan di dalam permafrost di Siberia yang hampir menyamai jumlah karbon pada atmosfir saat ini." Dalam studi lainnya yang dipublikasikan pada jurnal Geophysical Research Letters, Margaret Torn dari Universitas California - Berkeley menunjukkan dampak faktor tambahan rumah kaca ini pada iklim global. "Kami menemukan sejumlah besar pemanasan akibat faktor tersebut, yang belum kami perhitungkan, " kata Torn. "Forum Antarpemerintah Mengenai Perubahan Iklim atau (Intergovernmental Panel on Climate Change / IPCC), belum lama ini memperkirakan bahwa kita mungkin dapat mengalami pemanasan sebesar 5,8 derajat Celsius pada akhir abad 21. Tetapi jika reaksi umat manusia sama seperti pada masa lalu, kita akan meningkatkan pemanasan hingga 7,7 derajat Celsius." Studi terakhir ini hanya merupakan langkah menuju suatu pemahaman yang lebih menyeluruh tentang rumitnya struktur atmosfir. Ilmuwan masih sedang berusaha untuk menggabungkan faktor-faktor lain rumah kaca seperti awan, debu, dan bahan-bahan pencemar lainnya ke dalam analisa mereka. Torn berkata, semakin banyak faktor-faktor tersebut diketahui, maka akan dapat digunakan untuk memperbaiki model iklim yang ada. Sumber: (Mark Robson) VOA News / The Epochtimes Ngeblog Belajar Hipnotis --> http://pengobatan-alternatif.blogspot.com Ngebahas Pengobatan Alternatif --> http://groups.yahoo.com/group/pengobatan-alternatif
