Menjadi Perawan Tua Bukanlah Hina Sebut saja namaku Bella, umur 36 tahun, sekarang berdomisili di Helsinki-Finlandia. Aku menikah dengan orang sini (bule Finland). Aku sih cuma mau berbagi cerita tentang kakak perempuanku yang sampai saat ini masih lajang juga alias belum menikah walau usianya udah hampir 38 tahun.
Kakakku itu seorang guru sekolah, pegawai negeri di Sumatera, di tanah kelahiran kami. Ia berpendidikan sarjana pendidikan dari PTN. Kalau di lihat dari wajah dan fisik tidak ada yang kurang darinya, postur tubuh juga ok. Cuma itu jodoh kok sepertinya jauh darinya. Terus terang kakakku itu tidak punya masalah dengan pekerjaannya, kariernya sangat bagus selalu diutus ke berbagai pelatihan mewakili sekolahnya. Dia pun ditawari untuk menjadi kepala sekolah. Semua berjalan lancar. Namun kembali ke jodoh dia telah berusaha semaksimum mungkin baik itu secara aktif (lewat biro jodoh, internet.dll), begitu juga secara tradisional dia pun berobat alternatif, namun jodoh belum juga datang. Saya pun sudah berkali kali menjodohkannya (kenalan saya orang asing) namun tetap juga tidak berhasil membuat mereka sampai ke pernikahan. Kebanyakan alasannya karena dia tidak mau melepaskan status pegawai negerinya dan pindah ke negara lain. Dia katakan perkawinan belum tentu bisa menjamin masa depannya walaupun dengan orang asing yang katanya hidupnya terjamin. Bagaimana kalau perkawinan itu cuma berlangsung singkat sedangkan dia sudah melepaskan pekerjaannya? Apa yang akan terjadi nantinya.?? Menurutnya, menjadi pegawai negeri sudah mendapat pensiun walau kecil, dan kelak hidupnya terjamin dan tidak perlu menyusahkan orang lain. Makanya dia lebih memilih pekerjaannya dari pada menikah . Dia pun sudah beberapa kali membina hubungan dengan laki-laki Indonesia, namun tidak jua berhasil ke jenjang perkawinan, katanya sih kebanyakan laki laki yang di kenalnya itu cuma mau enaknya aja. Tetapi dia tetap tidak putus asa, dia tetap mencari, "Its just cause not the right person but who knows some day???" Anyway, saya cuma membayangkannya, tinggal di daerah adalah tidak mudah buatnya untuk menepis pandangan orang orang kepadanya, kenapa belum juga menikah?? bisa menjadi gosip dimana mana , selalu di curigai. Tetapi orang tuaku sangat bijaksana, mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung mengenai jodoh. Selama kakakku tidak menyusahkan orang lain, tidak bergantung hidupnya dengan orang lain, tidak melakukan hal yang buruk dan merugikan diri atau orang lain, buat ortu tidak kawin juga tidak masalah. Yang penting dia menikmati hidupnya. Aku senang dengan pandangan ortuku, menekannya akan membuatnya menjadi stres, kurang percaya diri dan sedih. Biarkan semua mengalir seadanya. Ibuku selalu menjawab pertanyaan tetangga dengan jawab "Entahlah, aku nggak tahu kapan dia mau kawin, sudah besar dan bersekolah tinggi dan itu urusannya.". Dan tetangga pun akhirnya bosan bertanya. Namun tak bisa dipungkiri, dari curhat-nya kepada saya, saya bisa tahu keresahannya. Tetapi dia bilang tak ingin memaksakan diri, yang penting dia berusaha. Dia pun tak ingin mengambil jalan pintas seperti menjadi istri kedua, menjadi simpanan atau merebut suami orang. Buatnya kebahagian seperti itu adalah bahagia semu. Buatnya dia ingin mencari seseorang yang memang pantas untuk dinikahi, dihargai dan dihormati dan yang bisa menerimanya apa adanya. Sampai saat ini kakakku sangat menikmati hidupnya, menikmati pekerjaannya, dia sangat perhatian dengan anak didiknya, membuatnya lupa akan masalah dirinya yang masih melajang sampai saat ini. BUATNYA TETAP LAJANG BUKANLAH HAL YANG HINA, BUKAN PULA HARUS ASAL KAWIN HANYA DEMI STATUS. . Life its too short for that .... Dan kalau jenuh, maka dia akan travelling mengunjungi adik adiknya yang sudah menikah dan memiliki anak dan enjoy dengan mereka. Terus terang aku tak tahu kapan dia akan mengakhiri masa lajangnya itu. Biar waktulah yang menjawab..." Salam,(Bella) [Non-text portions of this message have been removed]
