> Kalau idnic minta program gratis yah mungkin agak susah, > tapi kalau diberikan hak untuk bisa mengelola registrasi > domain dengan fee misalnya 150ribu/tahun, 50ribu masuk > ke pengelola, 100ribu ke idnic dengan target sekian domain > selama 1 tahun selama 5th, setelah itu diserahkan > sepenuhnya kepada idnic lagi.
wah ide pak Robby bagus juga agak mirip penularan teknologi pada dunia otomotif kita meski ternyata penularan teknologi itu tidak mulus dan mobil kota-kota kita masih tetap merk luar hehehehehe.... Saya hawatir dengan cara demikian, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas (bukan masyarakat ISP saja) padahal di Internet kabarnya boleh siapa saja bermain di e-commerce. Ekses penahanan domain yang dibutuhkan satu pihak akan terjadi sebab, penyedia jasa domain sudah berusaha membuat domain fiktif dulu pada server databasenya berdasarkan perkiraan kebutuhan yang didasarkan atas surveynya sendiri. ini pernah terjadi untuk domain Bandung :-), tapi itu terjadi karena IDNIC belum ada hehehehehe....tetapi saya yakin tidak akan ada konglomerat domain, sebab kasusnya beda dengan proses pembentukan konglomerat yang sudah pernah terjadi di Indonesia, mereka memang terjun ke proses produksi dan ada unsur prihatinya, wajar kalau sukses ;-). Kecuali studi IDNIC yang memprediksi kebutuhan domain masyarakat luas di Indonesia bisa dibuat, saya yakin atas dasar studi tersebut maka model seperti diatas itu tidak akan menimbulkan ekses negatif. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan dan lebih baik sekaligus merupakan usaha bagi peningkatan kualitas pemain e-commerce dari sisi type pebisnis lainnya, misalkan melibatkan pebisnis lebih banyak dari kalangan non IT :-). Salam -marno- _______________________________________________ Idnic mailing list [EMAIL PROTECTED] http://www.idnic.net.id/cgi-bin/mailman/listinfo/idnic

