bos Tom, ada benernya juga sih... tapi ada sesuatu yang penting, rakyat miskin dinegara ini cuma bisa jadi "boneka" yang dengan gampang ditindas, pendidikan mereka ditelantarkan, kesehatan mereka tidak dipedulikan (walaupun ada kesehatan untuk rakyat tidak mampu, itu juga diberi fasilitas sebatas penyakit flu ato pusing aja, kl penyakit jantung ato ginjal, Rumah sakit mana mo peduli)
Maksud saya disini, Globalisasi emang baik, hanya masyarakat kita yang masih blum siap...Emang untuk Globalisasi kita hanya tinggal tunggu waktu...Alih2 menyejahterakan Indonesia, akhirnya hanya akan menjadi "Penjajahan" model baru.... Untuk Globalisasi...mental dan pengalaman masyarakat harus dipersiapkan dulu....memang nantinya kita akan sejajar dengan negara2 kaya...tapi apakah anda rela kalau keturunan anda selalu ditindas oleh orang asing?? (karna blum siap menghadapi globalisasi) sekian uneg2 dari saya... ________________________________ From: Tom Thio <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, February 23, 2009 16:46:02 Subject: [IdRO] Dukung Globalisasi Sebar Luaskan ini Supaya Negara kita Bisa Nyusul Semua Negara Maju Globalisasi itu sesuatu yang seharusnya kita terima dengan gembira. Globalisasi akan memakmurkan bangsa kita paling tidak sampai semakmur negara negara kaya. Abis itu pinter pinternya kita buat maju duluan. Coba bayangkan. Gaji orang Indonesia umumnya jauh lebih rendah dari pada gaji orang Amerika. Tukang cuci di Indonesia di bayar $100 per bulan. Di Amerika, dengan minimum wage $7 aja, tukang cuci bakal bikin $1400 per bulan. Jadi gaji orang Amerika itu 14 kali lebih gede dari gaji orang Indonesia. Dalam kompetisi yang menang ya yang murah. Jadi kita pasti mampu bersaing dengan Amrik. Nah, normalnya, tentu saja banyak orang Indonesia pengen pindah ke Amrik. Tapi kan nggak bisa karena orang Amrik melindungi pekerja mereka dari persaingan. Tapi ada tapinya. Inget nggak di sekolah pernah diajarkan tentang bejana berhubungan? Kan tinggi air di bejana berhubungan biasanya sama. Kalo nggak, air akan mengalir dari bejana yang tinggi ke yang rendah. Ya tentu saja tidak persis sama. Kalo hubungannya mampet, tentu perlu waktu. Begitu juga dengan harga semua barang. Harga semua barang akan "cenderung" sama. Kalo harga barang di kota A tinggi dan di kota B tinggi, maka uang akan mengalir dari kota ke kota B untuk membeli barang di kota B. Simple kan? Gitu juga dengan upah manusia. Upah manusia akan cenderung sama dalam ekonomi pasar murni. Upah orang Indonesia, dalam ekonomi pasar murni, akan sama dengan upah orang di Amerika. Kalo tidak orang Indonesia pergi ke Amrik. Masalahnya, orang Indonesia yang tidak punya kemampuan khusus, tidak bisa pergi ke Amerika karena undang undang keimigrasian. So, bejananya tidak berhubungan. Nah, globalisasi membantu menghilangkan ganjalan ini. Kalo orang nggak bisa pindah ke Amerika ya pekerjaan di Amerika yang pindah kesini. Sejak negara kita mendukung globalisasi banyak aliran modal asing masuk bikin pabrik di Indonesia. Akhirnya banyak pekerjaan di Amerika pindah ke mari. Bahkan negara kita negara paling tandus sekalipun di dunia ini, tetep aja penduduk kita akan bisa bekerja. Gajinya pun akan makin mendekati gaji pegawai negara kaya. Ibaratnya ember globalisasi itu memberi satu lubang tambahan supaya uang di Amerika bisa mengalir kemari. Idealnya ya pekerja Indonesia bisa kerja di Amrik dan semua bisnis di Amrik bisa pindah ke Indonesia. Idealnya itu ember lobangnya dua. Tapi dengan globalisasi, paling nggak udah lobang satu. Kan lumayan? Beberapa pekerjaan, seperti internet marketing, design, hampir semuanya sudah bisa dilakukan di Indonesia lho. Jadi negara kita bisa cepat kaya. Tapi globalisasi tidak selamanya bisa lancar. Ada faktor faktor di negara kita yang memang "dari sononnya" bikin negara kita miskin. Itu globalisasi pun nggak bisa nolong sampe bangsa kita mau tobat. Faktor itu adalah campur tangan pemerintah dalam ekonomi dan kehidupan pribadi. Ya emang Amrik bisa kaya kan nggak karena sumber daya alam doang. Memang banyak hal yang mereka lebih bener dari kita. Ekonomi pasar, persaingan bebas, dan kebebasan individu akan membuat negara kaya. Tapi itu semua kita bisa tiru. Ada harga yang harus dibayar supaya kita bisa makmur. Harga itu bukan kerja keras saja. Tapi juga persaingan bebas. Kita tidak akan bisa makmur kalau bisnis bisnis yang productive harus mensubsidi bisnis bisnis yang tidak efficient. Sebaliknya bisnis yang paling maju harus maju terus dan jadi besar, seperti Wall Mart. Bisnis yang tidak mampu bersaing ya memang harus tutup. Jadi semua bisnis yang ada efficient dan productive. Contoh faktor yang memiskinkan kita adalah ekonomi biaya tinggi. Kalo korupsi banyak dan perijinan susah ya investor akan pikir pikir buat bikin pabrik di Indonesia. Contoh. Misalnya ongkos buruh di Amerika 1 juta dolar. Misalnya ongkos buruh di Indonesia 100 ribu dollar. Tapi biaya nyogok di Indonesia 900 ribu dollar. Tentu saja investor akan tetap taro pabriknya di Amerika. Mana sogokan nggak tax deductible lagi. Selain itu kita juga bersaing dengan negara negara yang lebih bersih dan masih miskin seperti Cina dan India. Globalisasi juga akan mengurangi masalah ini. Globalisasi akan mengurangi kekuatan pemerintah untuk mengganggu pasar dan menindas buruh. Kalo kekuasaan politik pejabat berkurang, mereka tidak akan mampu membebani ekonomi. Akhirnya buruh kita bisa bersaing dengan adil dengan negara lain. Masalah lain yang menggangu adalah campur tangan pemerintah yang membuat susah buruh buruh Indonesia untuk keluar negeri. Saya sering mendengar tentang TKW yang sesudah balik ke Indonesia diperas oleh tukang bus. Nasib TKW TKW itu adalah nasib seluruh buruh di Indonesia. Kalo buruh bisa kerja diluar negeri, jumlah buruh di Indonesia akan berkurang. Nantinya upah buruh juga akan naik dengan sendirinya. Simple kan? Dengan menindas TKW TKW yang bikin duit banyak di Dubai, pemerintah sudah menurunkan upah buruh di seluruh Indonesia. Mungkin supaya sogokan bisa lebih gede kali ya? Kenyapa TKW bisa diperas? Karena mereka harus menggunakan bus yang disupply oleh pemerintah. Lucu kan? Nggak diatur juga pasar ngatur beres kok malah pemerintah ngotot mau "melindungi" TKW dengan "memaksa" TKW buat pake bis pemerintah. Tidak ada orang dewasa dengan IQ normal keatas yang perlu dilindungi dari pilihannya sendiri. Punya pilihan bisa jadi berbahaya. Tapi campur tangan pemerintah pasti akan lebih bahaya lagi. Jadi kita harus menentang semua regulasi pemerintah yang bertentangan dengan kebebasan individul. Nah, coba kita kalo naik taksi mewah sekalipun, kita jarang kan diperas? Kenyapa? Karena kita punya pilihan. Kita tinggal pilih taksi taksi yang bereputasi, seperti gamya dan blue bird. Good bye deh pemerasan. Sekali saja saya diperas ama tukang taksi saya tidak akan memakai semua taksi yang mereknya sama. Lalu berita akan tersebar. Bahkan tanpa penjara pun pasar ngatur sendiri karena pengusaha akan berusaha jaga nama. Lha kok banyak orang yang anti globalisasi? Itu adalah orang orang yang terbiasa mengambil keuntungan dengan menindas orang lain karena mereka nyogok pejabat. Mereka biasa menindas orang lain tapi sekarang tidak bisa lagi karena keadilan dan kebesaran pasar sudah mencapai seluruh dunia. Jadi nggak bisa lagi. Sama lah kalo budak budak pada bebas, pemilik budak mencak mencak dong? Orang yang anti kebebasan individu itu mau memperbudak orang lain. Mereka benci kebebasan. Kalo kita bebas memilih, kita nggak bisnis ama mereka. Moralitas ditentukan oleh yang berkuasa untuk memaksimalkan kemakmuran power elite. Makanya kesannya pasar bebas jahat karena itu opini penguasa. Jahat buat yang menindas ya baik buat kita kita orang kecil. Tull nggak? Contohnya adalah pabrik mobil di Amerika. Nih liat gambarnya http://img369. imageshack. us/img369/ 6012/bailoutyk2. jpg Contoh lain adalah pekerja pekerja di Amerika yang dilindungi dari persaingan. Mereka terbiasa menindas pengusaha dengan mengekang kebebasan pengusaha di Amerika untuk menggaji immigrant. Pekerja di Amerika itu TAKUT bersaing dengan pekerja di Indonesia. Makanya mereka ngigo kalo globalisasi kejam buat pekerja Indonsesia. Bullshit kan? Contoh kita lihat harga baju di Indonesia. Sebelum globalisasi, ber ton ton baju dari Cina datang ke Indonesia dengan harga murah. Itu kan sudah bukti nyata betapa kebesaran dan kemurahan pasar mencapai negeri kita. Lalu baju itu dibakar. Kan sayang. Coba jaman dulu orang yang baik adalah orang yang memberi baju dan makanan kepada yang miskin. Ini baju datang banyak murah kok dibakar? Alkitab bilang orang yang masuk sorga itu mereka yang memberi pakaian kepada orang miskin. Ya ngasih ama jual murah kan ampir sama. Mustinya penyelundup baju murah masuk sorga dong. Orang yang anti globalisasi bisa masuk neraka lho. Nggak bagi baju aja udah jahat, eh malah menghalangi baju murah datang. Dulu VOC membantai rakyat banda karena menyelundupkan rempah rempah. Masak kita udah 60 taon lebih merdeka mau kaya VOC membatasi perdagangan bebas? Maksudnya adalah supaya pejabat bisa menguntungkan mafia tekstil yang pasti sudah nyogok gede ke partai partai politik. Padahal pengusaha tekstil itu kan sudah kaya. Kasian dong rakyat miskin nggak bisa beli baju dengan harga murah? Banyak dari mereka bajunya sudah tidak layak pakai. Lalu rakyat miskin ditipu. Dibilang kalo globalisasi jahat supaya dukung system yang merugikan mereka. Bikin baju nggak efficien, kemahalan. Mereka bukannya investasi supaya customer mau beli malah lobby pejabat. coba liat pabrik dieropa. Mereka jual baju jauh lebih mahal dari Cina laku aja. Saya punya temen main tekstil. Dia bilang designer kita laku di luar negeri. Ya kalo baju dari Cina dateng ke Indo ya kita kejar pangsa menengah keatas dong? Whatever it is, siapapun yang melayani pasar akan makmur dalam globalisasi. Di Amerika Nadya Suleman ngotot maksa bikin anak 8 biji. Dia nggak productive. Dia bikin anak aja. Lalu dapat subsidi jutaan dolar dari pemerintah untuk menghidupi anak dan bayar biaya persalinan. Orang miskin lain yang kerja keras buat kaya malah dipajaki supaya bisa bayar ibu ibu seperti Nadya dan supaya nggak kaya kaya. Ya tentu saja majoritas orang miskin pengen bikin anak banyak banyak tanpa pusing untuk productive. Abis susah. Mau kaya susah karena ada pajak penghasilan. Kasian wong cilik mau kaya dengan jujur dipersulit. Ntar uangnya buat pengusaha kaya yang bisa lobby pejabat. Hilangkan saja pajak penghasilan. Ganti kek dengan pajak bensin, pajak tanah, dan pengurangan pengeluaran pemerintah. Nantinya orang miskin jadi pada kaya. Ntar kalo mereka kaya mereka nggak takut lagi cerita cerita gimana caranya buat kaya. Subsidi anak itu hukuman buat yang nggak punya anak. Ini faktor utama juga kenyapa di Indonesia banyak orang miskin. Ya kalo buruh pabrik bikin anak lebih banyak daripada pengusaha, mau sampe kapan juga upah buruh nggak bisa tinggi. Yang banyak upahnya kan kecil. Subsidi yang pemerintah berikan, seperti subsidi pendidikan dan subsidi kesehatan memotivasi orang untuk bikin anak. Itu semua adalah hukuman buat yang nggak bikin anak banyak kan? Orang miskin yang menunda membuat anak supaya mereka bisa maju bisnis malah ditindas. Pengusaha kecil yang ekonominya lebih robust dari pengusaha besar sering kali diperlakukan tidak manusiawi oleh pemerintah. Masak becak dijadiin rumpon? Masak gerobak pedagang kakilima di sita? Emangnya ada peraturan tantrib boleh seenaknya nyita barang? Kalo ada denda kan musti lewat pengadilan dulu. Kalo orang kaya parkir sembarangan apa mobilnya disita juga? Kok orang miskin yang udah bener diteken? Kok hukuman tidak proporsional sekali dengan kerugian yang ditimbulkan. Rampok, penipu, dan koruptor seringkali hukumannya malah lebih ringan. Banyak "perlindungan" untuk pekerja sebetulnya adalah pajak terselubung. Kita tidak perlu jamsostek. Sama seperti orang amrik nggak perlu Social security. Uang paling aman ya ditangan sendiri. Saya pernah denger orang di Full Gospel ngajarin "Cuman ada satu bisnis nggak pake modal. Bisnis sendiri digedein." Terus terang cuman itu doang sih bagian kotbah yang saya inget. Sejak kapan sih uang ditangan pejabat korup bisa aman? Memberi uang ke pemerintah untuk "dikelola" itu seperti memberi konci mobil ke orang yang memang udah punya reputasi maling. Lalu kita tinggal nangis uang kita ilang dan menyalahkan "krisis moral". Padahal, percaya kepada campur tangan pemerintah dan bukannya pada diri sendiri dan pilihan sendiri itu kan emang geblek. Mutinya orang yang bekerja keras, mau jadi pengusaha, dan menunda bikin anak yang dapat subsidi modal. Orang yang bikin anak banyak banyak dan nggak bisa menghidupi mustinya dituntut. Berani bikin anak kok nggak tanggung jawab? Faktor yang paling fatal dan merupakan sebab utama kemiskinan di seluruh negara demokrasi adalah norma norma sexual yang bertentangan dengan nilai nilai kompetisi, seperti RUU APP konyol yang barusan keluar ini. Coba faktor utama kenyapa orang miskin adalah karena bapaknya miskin. Kalo cewek prefer cowok kaya, kok bisa ada anak yang bapaknya miskin? Tanya kenapa? Banyak cewek udah bener pilih cowok kaya di discotique kok nggak boleh. Lha ntar kalo mereka ngotot mau nikah lalu nggak bisa dapet yang kaya siapa yang biayaain anaknya? Biarkan dong cewek memilih. Mau nikah dulu atau tidak itu tidak penting buat perekonomian. Yang penting cowoknya MAMPU dan MAU bayar buat anak tanpa subsidi. Banyak cowok nikah tapi ninggalin bininya atau nggak mampu bayar malah tidak apa apa. Eh cowok yang tanggung jawab tapi prefer punya simpenan aja malah dikejar kejar. Ini akan memiskinkan kita. Saya lihat Gus Dur dan SBY juga sudah lumayan mendukung globalisasi. Ya saya sih prefernya Gus Dur tapi ya udah lah kalo nggak bisa milih. Jaman Gus Dur saya kaget melihat negara saya jadi negara terbaik didunia. Kok sekarang kita jadi budak terorist lagi karena negara kita takut ama terror. Sekarang Gusdur nggak boleh jadi president. Itu namanya menghilangkan pilihan rakyat, supaya kita bisa ngalah ama koruptor. So sebar ini ke semua tempat. Dukung globalisasi. Globalisasi akan memakmurkan kita. DUKUNG GLOBALISASI. ... New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]
