salam

Kita tidak pernah merdeka Selama kita dikungkung dua fundamentalisme yang begitu kokoh, kita tidak akan pernah merdeka. Pertama: fundamentalisme sains yang menganggap bahwa apa yang telah dicapai sains modern adalah puncak tertinggi peradaban manusia yang sifatnya universal. Konon, kita harus ikut arus ini untuk bisa maju. Semua yang tak sesuai dengan ukuran sains modern sains harus dibabat habis. Sains dianggap bebas nilai, tak peduli tempat dan waktu. Seperti ’satu ditambah satu sama dengan dua’, dimana saja sama, katanya. Tak ada lagi kearifan lokal. Seolah apa yang dicapai oleh golongan manusia lain, peradaban lain, tidak lah berguna. Hanya satu yang layak hidup di dunia ini: modernisme. Itulah yang menjadi paham mainstream (arus utama) bangsa kita, terutama elitnya. Paham ini diajarkan dalam pendidikan foormal dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Golongan yang tidak ikut arus ini dianggap sebagai golongan yang jumud, ketinggalan jaman, tak rasional, penghambat kemajuan. Kedua: fundamentalisme agama. Paham ini menganggap bahwa agama sudah memberikan aturan sempurna, lengkap, dan rinci; sehingga tugas manusia hanyalah menjalankan manual yang sudah komplit itu dimana saja, kapan saja. Seolah manusia tak dibekali dengan wadag, rasa, dan akal. Seolah manusia hanyalah sekadar operator dimana standard operating prosedurnya sudah jelas ditetapkan. Seolah seluruh manusia di muka bumi ini dan tradisi-tradisinya itu kotor dan harus dipurifikasi dengan manual rinci itu. Tak ada kata waktu dan tempat, tak ada konteks, karena TEKS nya semua sudah jelas. Manual yang dirinci dari kitab suci itu selah menjadi kitab suci itu sendiri, menjadi ukuran kebenaran, yang berhak mencampakkan golongan manusia lain yang berbeda dengannya sebagai kafir, sesat, bid’ah, iblis, thaghut, dan lain sebagainya. Golongan ini semakin besar dan memiliki pengaruh yang nyata di Indonesia. Bahkan, kini fundamentalisme agama dan sains bersatu. Manusia-manusia yang disebut terdidik (dalam modern sains) menemukan wadahnya yang pas dalam fundamentalisme agama. Fundamentalisme sains dan agama bersatu, klop, karena pola pikirnya memang sama-sama fundamentalist. Modern sains dianggap sebagai sunnatullah, kebenaran Allah atas ayat-ayat kauniyyah. Sedangkan tafsirnya atas Quran dan Sunnah, dipandang sebagai kebenaran firman atau ayat-ayat tanziliyyah-Nya. Sikap beragamanya dibuat seminimalis mungkin, diluar itu biarlah sains yang menilai, kalau tidak cocok itu disebut bid’ah. Kapan kita bebas berpikir mencari yang terbaik untuk bangsa kita? Tidak ada itu! tidak perlu itu! karena solusinya sudah ready-made, sudah tersedia, tinggal kita pungut dari kitab-kitab sains modern dan tafsir-tafsir kitab suci. Keduanya bukan sekedar sumber inspirasi, tapi sumber tools yang siap pakai. Demikian katanya. Maka, manusia Indonesia sebenarnya...sudah lama berhenti berpikir. Jadi sudah merdekakah kita?

salam

sumatera Indo


Start your day with Yahoo! - make it your home page

Kunjungi Website Resmi Pondok Pesantren Al-Amien
http://www.al-amien.ac.id

Kunjungi website Qalam Online
http://www.qalam.da.ru Or http://qalamnet.cjb.net

Post Berita atau Artikel, Pasang Iklan Baris, Forum Diskusi de el el semuanya gratis.... Segera....
Kami butuh suntikan dana, kalau ada yang ingin beramal hubungi [EMAIL PROTECTED]





YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke