Senin, 09 Juni 2008, http://www.mediakonsumen.com/Artikel2470.html
 
Apa yang terjadi setelah BBM dinaikkan? Yang paling gampang 
terlihat, karena sering menjadi berita di berbagai media, adalah 
mengeluhnya pengemudi kendaraan umum dan penumpangnya. Salah satu 
keluhan para pengemudi angkutan umum itu adalah dilema dalam 
menaikkan tarifnya, karena kuatir penumpang berkurang. Jika tidak 
mereka naikkan, maka penghasilan mereka yang sebelum BBM dinaikkan 
sudah kurang dari layak akan semakin berkurang. 

Misalnya di salah satu TV swasta, seorang pengemudi taxi 
mengungkapkan, sekarang ia hanya bisa pulang ke rumah dengan 
mengantongi uang maksimal RP20.000,- setiap harinya, padahal 
sebelumnya bisa mencapai RP50.000,-. Dengan uang RP50.000 sehari 
saja, saya sulit membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka 
bersama keluarganya untuk bisa hidup layak, sehat dan apalagi untuk 
membangun masadepan keluarga mereka yang kompetitif. Saya sulit 
membayangkan bagaimana membiayai anak-anak mereka supaya tetap sehat 
dan bagaimana membiayai pendidikan yang cukup supaya bisa bersaing 
di masa depan nanti.

Itu sebabnya para pengemudi ini memiliki alasan yang tidak 
terhindari untuk saling serobot, melanggar rambu lalu-lintas, tidak 
perlu santun, dan lain-lain perilaku buruk di jalan. Demo sudah 
mereka lakukan sejak hari pertama BBM dinaikkan. Beberapa demo 
mereka sangat emosional. Tetapi akhirnya mereka menyadari demo tidak 
bisa mereka teruskan karena mereka bukan pada posisi untuk dapat 
berdemo, karena ketika mereka berdemo, mereka tidak menghasilkan 
uang, padahal tabungan pun tidak punya juga. Betapa takdir hidup 
mereka di tangan pemerintah, bukan di tangan TuhanÂ….

Apa pun yang terjadi, tarif angkutan umum akhirnya dinaikkan secara 
resmi oleh pemerintah. Namun berapa pun kenaikan tarif angkutan umum 
itu, apakah kenaikannya bisa mengatasi kesulitan hidup para 
pengemudi itu? Tentu tidak, karena daya beli mereka sudah berkurang 
karena kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Jadi kesulitan 
hidup mereka tentu bertambah, sehingga yang paling gampang mereka 
lakukan adalah tetap menjadi setan jalanan, bahkan dengan tingkat 
yang lebih parah lagi agar uang yang mereka bawa pulang bertambah. 
Polisi pun tetap berada dalam situasi yang gamang, antara 
menertibkan dengan menegakkan hukum dan memanfaatkan situasi ini 
untuk keuntungan sepihak. Situasi jalanan yang tanpa hukum ini, 
tentu juga berpengaruh pada pengemudi kendaraan pribadi yang 
akhirnya juga ikut-ikutan menjadi biadab. Maka, akhirnya jalan raya 
kota-kota besar di Indonesia akan terus menjadi potret morat-
maritnya sebuah negeri. Siapa pun yang datang ke Indonesia akan 
langsung menyaksikan kebiadaban para pengemudi kendaraan, baik yang 
umum maupun pribadi. Sebuah situasi yang konyol dan memalukan. 

Kritik saya di atas bukan tanpa tawaran solusi atau saran. Menurut 
saya, sudah saatnya pemerintah memberikan tunjangan kepada para 
pengemudi angkutan umum ini. Meski pun langkah ini sesaat dan 
menyerderhanakan persoalan, tetapi itu lebih baik dibanding tidak 
melakukan apa pun untuk mengurangi dampak kenaikan BBM pada sektor 
transportasi umum di perkotaan. Tunjangan itu terutama diberikan 
untuk pendidikan dan kesehatan. Mengapa? Supaya kesempatan mereka 
untuk berubah nasib menjadi lebih besar. Jika orangtuanya hanya 
pengemudi angkutan umum, maka berilah kesempatan pada anak-anaknya 
untuk menjadi lebih baik dari itu, dengan memberikan mereka 
kesehatan yang baik dan pendidikan yang cukup. Selebihnya orang tua 
tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Kemudian jika mau lebih jauh lagi menangani angkutan umum di kota-
kota besar, tentu harus juga memikirkan konsep yang lebih terpadu. 
Misalnya di dalam konsep yang lebih terpadu itu diperhitungkan 
penggunaan BBM secara efisien. Misalnya, jenis kendaraan yang 
digunakan dalam transportasi umum. Jika menggunakan kendaraan tipe 
kecil dengan kapasitas 10 atau 12 orang (seperti angkot atau 
mikrolet) tentu harus dipertimbangkan karena lebih boros BBM 
dibandingkan kendaraan dengan kapasitas lebih besar (seperti type 
Isuzu Elf). Dengan kendaraan yang kapasitasnya lebih besar ini tentu 
juga bisa sekaligus mengurangi jumlah kendaraan umum yang berada di 
jalanan, sehingga jumlah kendaraan umum yang harus berlomba-lomba 
mendapatkan penumpang pun berkurang. Berkurangnya jumlah kendaraan 
umum ini bisa mengurangi kesemrawutan lalu-lintas dan tentu 
mengurangi penyebab gangguan jiwa atau gangguan prilaku bagi rakyat, 
bahkan mungkin juga bisa mendorong rakyat di lapis bawah untuk tidak 
mudah tertarik pada ideologi kekerasan. 

Apa yang saya tulis di atas hanya contoh saja dari berbagai 
persoalan hidup di tingkat bawah yang tidak kunjung dicarikan jalan 
keluarnya sejak dulu hingga sekarang. Padahal persoalan hidup yang 
meracuni nurani ini bisa menjerumuskan orang untuk mengidap ideologi 
kekerasan. 

Perasaan tidak diperlakukan dengan adil tidak hanya dirasakan oleh 
pengemudi angkutan umum, tetapi di berbagai sektor. Misalnya pekerja 
di sektor industri juga paling rentan terhadap ideologi kekerasan. 
Terutama karena pengusaha sekarang diberi "kehormatan" 
dan "kemuliaan" yang amat tinggi untuk memberangus masa depan para 
pekerja Indonesia agar tetap menjadi "kuli kontrak" sejak tahun 
pertama bekerja hingga tua-renta karena memikul hidup yang berat. 
Mereka adalah orang-orang yang kurang memiliki kesempatan untuk 
menambah skill kerjanya dan pendidikannya, namun sayang pemerintah 
memperlakukan mereka dengan tidak adil. Mereka telah diberi "takdir" 
untuk selama-lamanya menjadi "budak" yang angka penghasilannya hanya 
ditentukan oleh pemerintah dan pengusaha melalui apa yang 
disebut "upah minimum" setiap beberapa tahun sekali saja.

Belum lagi persoalan-persoalan masyarakat miskin kota yang salah 
satu pembelanya adalah Wardah Hafidz. Persoalan mereka misalnya, 
ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja atau 
berpenghasilan, mereka menciptakan usaha kaki-lima untuk memiliki 
penghasilan. Tapi sayang usaha kaki-lima ini begitu mudah dipandang 
oleh pemerintah sebagai musuh negara yang pantas diburu dan 
dimusnahkan dari pemandangan kota-kota besar. Mereka yang bukan 
karena pilihan bebasnya telah menjadi pengusaha kaki-lima itu tidak 
diberikan pilihan lain atau solusi jika mereka tidak boleh menjadi 
pengusaha kaki-lima. Barangkali pemerintah memang bermaksud untuk 
menjebak mereka untuk menjadi pencoleng atau penjahat. Atau 
menjerumuskan mereka ke dalam kelompok yang menyebarkan atau menanam 
ideologi kekerasan.

Jika persoalan-persoalan kelas bawah seperti itu bisa diminimalkan, 
tentu kita bisa lebih giat berdoa atau berharap, agar masyarakat 
bawah tidak mudah tertarik pada para penyebar ideologi kekerasan 
yang ditawarkan individu, kelompok, organisasi, atau aliran agama 
apa pun. Meniti kehidupan yang lebih baik atau membangun masa depan 
yang lebih baik tentu lebih menarik dibandingkan masuk ke dalam 
kumpulan orang-orang yang di dalamnya diajarkan kebenaran mutlak 
hanya miliknya sendiri. Sayangnya kelompok seperti ini sering 
berlatarbelakang agama.

Kepercayaan kepada Tuhan atau agama sebelum datangnya para nabi 
yang "samawi" menurut ilmu psikologi dan sosiologi tumbuh karena 
ketidakmampuan manusia memecahkan misteri kehidupan ini atau misteri 
munculnya kehidupan ini dan kemana kehidupan ini berakhir. Pemahaman 
tentang Tuhan dan agama kemudian terus berkembang lebih jauh menjadi 
jawaban bagi persoalan bertahan hidup hingga menjadi arah 
perkembangan peradaban manusia. Agama, bahkan menurut sains, amat 
dibutuhkan umat manusia. Betapa banyak sekali arah peradaban manusia 
terinspirasi dari agama. Begitu juga banyak aturan hidup sehari-hari 
atau aturan hidup bernegara yang berasal atau terinspirasi dari 
ajaran agama, termasuk larangan untuk melakukan pemaksaan kehendak 
dengan kekerasan. Bahkan secara individual, kepercayaan kepada Tuhan 
memberi kepuasan bathin tiada terkira bagi para pencari kebenaran 
tentang hidup. 

Sayangnya sebagian dari kita telah menjadikan pemahaman terhadap 
agamanya atau keyakinannya sebagai kebenaran mutlak. Dunia ini 
dianggap hanya bisa menjadi lebih baik jika semua orang memiliki 
keyakinan atau agama yang sama. Orang-orang yang tidak mengikuti 
mereka atau menghalangi akan dianggap kafir atau musuh yang pantas 
dilenyapkan. Persoalan berkeyakinan seperti ini sudah muncul sejak 
ribuan tahun lalu, sejak pertama kali manusia mulai mempercayai 
adanya pencipta, penguasa, dan pengatur kehidupan manusia atau alam 
semesta. Persoalan ini juga dialami oleh pengikut agama apa pun, di 
Eropa, Arab, Afrika, Asia atau di mana saja. Tanpa bermaksud menjadi 
pesimistis terhadap perkembangan peradaban manusia, sejarah umat 
manusia sebenarnya di berbagai tempat di permukaan Bumi penuh dengan 
pertumpahan darah beratasnama agama.

Ada pertanyaan besar yang sudah sejak lama ditanyakan banyak orang, 
yaitu (jika begitu) apakah agama mengajarkan kekerasan? Tentu saya 
tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena memancing diskusi panjang 
dan sekaligus memprovokasi adanya kekerasan terhadap diskusi itu. 
Tulisan ini hanya mencoba mengindentifikasi atau menggambarkan apa-
apa yang di luar agama tetapi bisa memicu kekerasan di sekitar kita 
dengan beratasnama agama.

Namun tulisan ini, akhirnya terpaksa menyinggung sebuah persoalan 
yang sedang menjadi "hantu perpecahan" di Indonesia akhir-akhir ini 
dan persoalan ini muncul karena situasi morat-marit yang saya 
gambarkan di atas. Front Pembela Islam (FPI) disebut telah melakukan 
kekerasan sepanjang keberadaannya selama 10 tahun terakhir ini dan 
terutama kekerasan di Monas. 

Apakah FPI harus dibubarkan? Begitulah wacana ini menjejali seluruh 
media akhir-akhir ini. Tentu pembubaran FPI tidak menyelesaikan akar 
persoalan sebenarnya sebagaimana sudah saya gambarkan di atas. Akar 
persoalan tentu saja bukan Ahmadiyah, sebagaimana dijadikan 
pembenaran pada kekerasan yang dilakukan FPI di Monas. Ahmadiyah 
hanya menjadi picu bagi FPI yang terlanjur sering merasa pemerintah 
tidak mengakomodasikan aspirasi mereka tentang negeri yang saleh 
tanpa maksiat, tanpa kebobrokan moral, tanpa pertunjukan aurat atau 
pornography, atau tanpa penodaan agama. 

Persoalan Ahmadiyah yang dianggap sesat, menyimpang dan menodai 
Islam sebaiknya diselesaikan dengan memberi cap bahwa Ahmadiyah 
sesat. menyimpang dan menodai. Pembubaran Ahmadiyah nampaknya bukan 
penyelesaian yang baik jika mengambil contoh sikap Nabi Muhammad SAW 
sendiri yang tidak pernah menggunakan kekerasan ketika menghadapi 
kelompok lain yang berbeda keyakinan. Saya tidak ingin lebih jauh 
berargumen mengenai apakah Ahmadiyah sesat atau tidak sesat, karena 
itu bukan porsi saya. Tetapi saya yakin porsi saya adalah untuk 
mengatakan, bahwa memaksa orang lain dengan kekerasan untuk 
melakukan apa pun termasuk untuk berkeyakinan adalah menyalahi 
aturan apa pun. Itu berlaku juga untuk orang-orang yang mendorong 
atau menginspirasikan orang lain, terutama orang-orang yang menjadi 
pengikutnya untuk melakukan kekerasan.

Kesalahan pemerintah SBY yang utama adalah bukan karena tidak 
membubarkan Ahmadiyah, tetapi karena tidak mampu mengurus negeri 
morat-marit ini. Jadi mari bantu mereka yang menjadi korban 
kebijakan kenaikan tarif BBM. Mereka adalah misalnya para pengemudi 
angkutan umum, pekerja yang terus-menerus dikontrak, pengusaha kaki-
lima yang diburu seperti musuh negara, atau masyarakat miskin di 
kota-kota besar yang hidupnya terombang-ambing para gubernur yang 
terus menerus ingin "membasmi" mereka. Jadi jangan membuang-buang 
waktu untuk bertengkar satu sama lain dengan menggunakan omong-
kosong soal agama.

Jojo Rahardjo
http://jojor.blogspot.com


Kirim email ke