Anda merasakan pembengkakan pada sendi? Anda perlu waspada. Apalagi jika sakit pada sendi yang berulang-ulang atau merasa otot kaku apabila tubuh berada pada satu posisi dalam jangka waktu lama. Anda prlu mencurigai rheumatoid arthritis.
Rheumatoid arthritis adalah adalah salah satu penyakit rematik yang sering dijumpai, di samping osteoarthritis, osteoporosis, atau reumatik ekstra artikuler dan non-artikuler. Di Indonesia, ungkap Prof Dr dr Harry Isbagio Sp PDKR, KGER, kasus rheumatoid arthritis pada usia di atas 18 tahun diperkirakan 0,1 sampai 0,3 persen dari jumlah penduduk. ''Pada anak dan remaja di bawah 18 tahun sekitar 1 banding 100.000 orang,'' ungkap Presiden Rheumatology Association of ASEAN ini di
Jakarta, pekan lalu.
Walaupun jumlah kasus tersebut terhitung rendah, menurut Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) ini, tapi penyakit ini sangat progresif. Penyaki ini bahkan paling sering menyebabkan kecacatan dan ketidakmampuan. Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama terserang, cacat terjadi setelah 2-3 tahun bila tidak diobati.
Salah sasaran
Penyebab rheumatoid arthritis masih belum diketahui pasti. Demikian menurut dr William C Shiel Jr. FACP, FACR dalam situs Medecine Net. Tak heran jika penyebab rheumatoid arthritis ini masih terus diteliti di berbagai belahan dunia. Namun agen infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur, kerap dicurigai sebagai pencetusnya. Sejumlah ilmuwan juga percaya, bahwa faktor genetik dan kondisi lingkungan pun ikut mendorong datangnya penyakit ini. Lebih lanjut Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis adalah penyakit akibat kekebalan alami tubuh yang menyerang diri sendiri atau autoimmune. Bisa dikatakan, serangan sistem kekebalan tersebut ''salah sasaran''.
Penyebab rheumatoid arthritis masih belum diketahui pasti. Demikian menurut dr William C Shiel Jr. FACP, FACR dalam situs Medecine Net. Tak heran jika penyebab rheumatoid arthritis ini masih terus diteliti di berbagai belahan dunia. Namun agen infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur, kerap dicurigai sebagai pencetusnya. Sejumlah ilmuwan juga percaya, bahwa faktor genetik dan kondisi lingkungan pun ikut mendorong datangnya penyakit ini. Lebih lanjut Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis adalah penyakit akibat kekebalan alami tubuh yang menyerang diri sendiri atau autoimmune. Bisa dikatakan, serangan sistem kekebalan tersebut ''salah sasaran''.
Sistem kekebalan tubuh adalah ''organisasi'' yang rumit, terdiri dari sel dan antibodi yang dirancang untuk menghancurkan para penyusup jahat yang masuk ke dalam tubuh, termasuk infeksi. Karena dampaknya bisa meliputi sejumlah organ lain dalam tubuh, Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis disebut sebagai penyakit sistemik.
Penyakit peradangan pada sendi-sendi ini biasanya dirasakan, terutama pada sendi-sendi di bagian jari dan pergelangan tangan. Selain itu, kerap pula dirasakan pada bagian bahu, lutut, dan kaki. Pada stadium lanjut, penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya akan menurun. Gejala lain yang kerap dirasakan adalah gejala sistemik berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan juga menurun, lemah, dan kurang darah. Namun kita pun harus berhati-hati. Menurut Shiel, bisa saja penderita penyakit ini
tidak merasakan gejalanya.
Tak kenal usia
Penyakit ini tidak mengenal batas usia, dari anak-anak sampai usia lanjut. Hanya saja, golongan yang lebih banyak menderita rheumatoid arthritis ini terutama pada dewasa muda sampai pertengahan. Penyakit ini juga tidak mengenal jenis kelamin. Pria maupun wanita bisa terkena, meskipun wanita lebih banyak dibandingkan dengan perbandingan, yakni 3 : 1.
Penyakit ini tidak mengenal batas usia, dari anak-anak sampai usia lanjut. Hanya saja, golongan yang lebih banyak menderita rheumatoid arthritis ini terutama pada dewasa muda sampai pertengahan. Penyakit ini juga tidak mengenal jenis kelamin. Pria maupun wanita bisa terkena, meskipun wanita lebih banyak dibandingkan dengan perbandingan, yakni 3 : 1.
Rheumatoid arthritis, kata Harry, mengakibatkan peradangan pada lapisan dalam pembungkus sendi. Penyakit ini juga berlangsung tahunan, menyerang berbagai sendi dan biasanya simetris (jika sendi lengan kiri, maka sendi lengan kanan pun terserang, red). Jika radang ini menahun, akan terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi, tulang, otot, dan ligamen dalam sendi.
Harry mengakui, sampai kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang dilakukan, umumnya ditujukan hanya untuk mengurangi nyeri, mengurangi peradangan, menghentikan
kerusakan sendi, memperbaiki fungsi sendi, dan membuat pasien nyaman.
Pengobatan untuk rheumatoid arthritis tersebut terbagi dua, yaitu menggunakan obat-obatan dan tindakan non-farmakologis. Obat-obatan tersebut misalnya penghilang nyeri dan radang. Sedang yang bersifat non-farmakologis meliputi tidakan perlindungan pada sendi, fisioterapi dan rehabilitasi, psikoterapi, serta pembedahan.
Saat ini, ada beberapa obat yang digunakan untuk terapi rheumatoid arthritis. Antara lain obat antiradang non-steroid (NSAIDs) untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri; obat antirheumatik (DMARDs) dan steroid yang dapat mengurangi peradagangan dan menghambat kerusakan sendi. Yang terbaru adalah pengembangan biologic response modifiers (BRMs) untuk pengobatan.
Cegah outcome
Meski obat-obat yang ada baru sebatas mengurangi penderitaan pasien, namun Harry mengingatkan agar si pasien tidak putus asa. Jangan sampai pasien merasa bahwa percuma berobat karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Penderita juga bisa penderita putus asa, depresi dan akan merasa penyakitnya bertambah berat. Akibat lain, penderita mencari pengobatan alternatif yang belum tentu kebenarannya atau menjadi korban dari penjual obat yang menjanjikan penyembuhan.
Meski obat-obat yang ada baru sebatas mengurangi penderitaan pasien, namun Harry mengingatkan agar si pasien tidak putus asa. Jangan sampai pasien merasa bahwa percuma berobat karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Penderita juga bisa penderita putus asa, depresi dan akan merasa penyakitnya bertambah berat. Akibat lain, penderita mencari pengobatan alternatif yang belum tentu kebenarannya atau menjadi korban dari penjual obat yang menjanjikan penyembuhan.
Reumatik ini, menurut Harry, sebagaimana halnya penyakit lainnya seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes mellitus (kencing manis), yang penting adalah mencegah outcome atau akibat lanjutan dari penyakit tersebut. Hipertensi misalnya, yang perlu dicegah adalah akibatnya seperti stroke, gagal jantung, atau ginjal.
Bagaimana dengan reumatik Dia mengatakan, walaupun penyakit reumatik bermacam-macam jenisnya tapi outcome-nya hampir sama. Antara lain, sendi cacat dan kemampuan yang menurun.
Jadi, datanglah berobat ke dokter bila merasakan gejala rheumatoid arthritis. Tujuannya, agar dapat segera diberikan tindakan medis. Jangan sampai
penyakit sudah terlanjur parah, baru dilakukan pengobatan.
Tips:
Apabila dokter menyatakan Anda menderita rhematoid arthritis, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:
* Jaga kondisi tubuh Anda. Jika kegemukan, kurangi berat badan.
* Jadikan badan Anda lebih lentur dan mudah bergerak. Lakukan senam setiap hari untuk meningkatkan kelenturan otot.
* Jika terdapat pembengkakan, biarkan sendi yang membengkak itu beristirahat.
Apabila dokter menyatakan Anda menderita rhematoid arthritis, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:
* Jaga kondisi tubuh Anda. Jika kegemukan, kurangi berat badan.
* Jadikan badan Anda lebih lentur dan mudah bergerak. Lakukan senam setiap hari untuk meningkatkan kelenturan otot.
* Jika terdapat pembengkakan, biarkan sendi yang membengkak itu beristirahat.
Anda merasakan pembengkakan pada sendi? Anda perlu waspada. Apalagi jika sakit pada sendi yang berulang-ulang atau merasa otot kaku apabila tubuh berada pada satu posisi dalam jangka waktu lama. Anda prlu mencurigai rheumatoid arthritis.
Rheumatoid arthritis adalah adalah salah satu penyakit rematik yang sering dijumpai, di samping osteoarthritis,
osteoporosis, atau reumatik ekstra artikuler dan non-artikuler. Di Indonesia, ungkap Prof Dr dr Harry Isbagio Sp PDKR, KGER, kasus rheumatoid arthritis pada usia di atas 18 tahun diperkirakan 0,1 sampai 0,3 persen dari jumlah penduduk. ''Pada anak dan remaja di bawah 18 tahun sekitar 1 banding 100.000 orang,'' ungkap Presiden Rheumatology Association of ASEAN ini di Jakarta, pekan lalu.
Walaupun jumlah kasus tersebut terhitung rendah, menurut Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) ini, tapi penyakit ini sangat progresif. Penyaki ini bahkan paling sering menyebabkan kecacatan dan ketidakmampuan. Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama terserang, cacat terjadi setelah 2-3 tahun bila tidak diobati.
Salah sasaran
Penyebab rheumatoid arthritis masih belum diketahui pasti. Demikian menurut dr William C Shiel Jr. FACP, FACR dalam situs Medecine Net. Tak heran jika penyebab rheumatoid arthritis ini masih terus diteliti di berbagai belahan dunia. Namun agen infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur, kerap dicurigai sebagai pencetusnya. Sejumlah ilmuwan juga percaya, bahwa faktor genetik dan kondisi lingkungan pun ikut mendorong datangnya penyakit ini. Lebih lanjut Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis adalah penyakit akibat kekebalan alami tubuh yang menyerang diri sendiri atau autoimmune. Bisa dikatakan, serangan sistem kekebalan tersebut ''salah sasaran''.
Penyebab rheumatoid arthritis masih belum diketahui pasti. Demikian menurut dr William C Shiel Jr. FACP, FACR dalam situs Medecine Net. Tak heran jika penyebab rheumatoid arthritis ini masih terus diteliti di berbagai belahan dunia. Namun agen infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur, kerap dicurigai sebagai pencetusnya. Sejumlah ilmuwan juga percaya, bahwa faktor genetik dan kondisi lingkungan pun ikut mendorong datangnya penyakit ini. Lebih lanjut Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis adalah penyakit akibat kekebalan alami tubuh yang menyerang diri sendiri atau autoimmune. Bisa dikatakan, serangan sistem kekebalan tersebut ''salah sasaran''.
Sistem kekebalan tubuh adalah ''organisasi'' yang rumit, terdiri dari sel dan antibodi yang dirancang untuk menghancurkan para penyusup jahat yang masuk ke dalam tubuh, termasuk infeksi. Karena dampaknya bisa meliputi sejumlah organ lain dalam tubuh, Shiel menjelaskan, rheumatoid arthritis disebut sebagai penyakit sistemik.
Penyakit peradangan pada sendi-sendi ini biasanya dirasakan, terutama pada sendi-sendi di bagian jari dan pergelangan tangan. Selain itu, kerap pula
dirasakan pada bagian bahu, lutut, dan kaki. Pada stadium lanjut, penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya akan menurun. Gejala lain yang kerap dirasakan adalah gejala sistemik berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan juga menurun, lemah, dan kurang darah. Namun kita pun harus berhati-hati. Menurut Shiel, bisa saja penderita penyakit ini tidak merasakan gejalanya.
Tak kenal usia
Penyakit ini tidak mengenal batas usia, dari anak-anak sampai usia lanjut. Hanya saja, golongan yang lebih banyak menderita rheumatoid arthritis ini terutama pada dewasa muda sampai pertengahan. Penyakit ini juga tidak mengenal jenis kelamin. Pria maupun wanita bisa terkena, meskipun wanita lebih banyak dibandingkan dengan perbandingan, yakni 3 : 1.
Penyakit ini tidak mengenal batas usia, dari anak-anak sampai usia lanjut. Hanya saja, golongan yang lebih banyak menderita rheumatoid arthritis ini terutama pada dewasa muda sampai pertengahan. Penyakit ini juga tidak mengenal jenis kelamin. Pria maupun wanita bisa terkena, meskipun wanita lebih banyak dibandingkan dengan perbandingan, yakni 3 : 1.
Rheumatoid arthritis, kata Harry, mengakibatkan peradangan pada lapisan dalam pembungkus sendi. Penyakit ini juga berlangsung tahunan, menyerang berbagai sendi dan biasanya simetris (jika
sendi lengan kiri, maka sendi lengan kanan pun terserang, red). Jika radang ini menahun, akan terjadi kerusakan pada tulang rawan sendi, tulang, otot, dan ligamen dalam sendi.
Harry mengakui, sampai kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang dilakukan, umumnya ditujukan hanya untuk mengurangi nyeri, mengurangi peradangan, menghentikan kerusakan sendi, memperbaiki fungsi sendi, dan membuat pasien nyaman.
Pengobatan untuk rheumatoid arthritis tersebut terbagi dua, yaitu menggunakan obat-obatan dan tindakan non-farmakologis. Obat-obatan tersebut misalnya penghilang nyeri dan radang. Sedang yang bersifat non-farmakologis meliputi tidakan perlindungan pada sendi, fisioterapi dan rehabilitasi, psikoterapi, serta pembedahan.
Saat ini, ada beberapa obat yang digunakan untuk terapi rheumatoid arthritis. Antara lain obat antiradang non-steroid (NSAIDs) untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri; obat antirheumatik
(DMARDs) dan steroid yang dapat mengurangi peradagangan dan menghambat kerusakan sendi. Yang terbaru adalah pengembangan biologic response modifiers (BRMs) untuk pengobatan.
Cegah outcome
Meski obat-obat yang ada baru sebatas mengurangi penderitaan pasien, namun Harry mengingatkan agar si pasien tidak putus asa. Jangan sampai pasien merasa bahwa percuma berobat karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Penderita juga bisa penderita putus asa, depresi dan akan merasa penyakitnya bertambah berat. Akibat lain, penderita mencari pengobatan alternatif yang belum tentu kebenarannya atau menjadi korban dari penjual obat yang menjanjikan penyembuhan.
Meski obat-obat yang ada baru sebatas mengurangi penderitaan pasien, namun Harry mengingatkan agar si pasien tidak putus asa. Jangan sampai pasien merasa bahwa percuma berobat karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Penderita juga bisa penderita putus asa, depresi dan akan merasa penyakitnya bertambah berat. Akibat lain, penderita mencari pengobatan alternatif yang belum tentu kebenarannya atau menjadi korban dari penjual obat yang menjanjikan penyembuhan.
Reumatik ini, menurut Harry, sebagaimana halnya penyakit lainnya seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes mellitus (kencing manis), yang penting adalah mencegah outcome atau akibat lanjutan dari penyakit tersebut. Hipertensi misalnya, yang perlu dicegah adalah akibatnya seperti stroke,
gagal jantung, atau ginjal.
Bagaimana dengan reumatik Dia mengatakan, walaupun penyakit reumatik bermacam-macam jenisnya tapi outcome-nya hampir sama. Antara lain, sendi cacat dan kemampuan yang menurun.
Jadi, datanglah berobat ke dokter bila merasakan gejala rheumatoid arthritis. Tujuannya, agar dapat segera diberikan tindakan medis. Jangan sampai penyakit sudah terlanjur parah, baru dilakukan pengobatan.
Tips:
Apabila dokter menyatakan Anda menderita rhematoid arthritis, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:
* Jaga kondisi tubuh Anda. Jika kegemukan, kurangi berat badan.
* Jadikan badan Anda lebih lentur dan mudah bergerak. Lakukan senam setiap hari untuk meningkatkan kelenturan otot.
* Jika terdapat pembengkakan, biarkan sendi yang membengkak itu beristirahat.
Apabila dokter menyatakan Anda menderita rhematoid arthritis, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:
* Jaga kondisi tubuh Anda. Jika kegemukan, kurangi berat badan.
* Jadikan badan Anda lebih lentur dan mudah bergerak. Lakukan senam setiap hari untuk meningkatkan kelenturan otot.
* Jika terdapat pembengkakan, biarkan sendi yang membengkak itu beristirahat.
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.
SPONSORED LINKS
| Regional bgan | Regional truck driving jobs | Regional truck driving jobs |
| Arizona regional multiple listing service | United regional health care system | Regional gift basket |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "iklan-mini" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
