Eksekutif.com - Jakarta, Rokok kretek yang memiliki
kandungan tar dan nikotin tinggi, terancam di black
list dan dilarang beredar. Belakangan, spesialis rokok
kretek mulai serius menggarap "rokok sehat" kategori
low tar low nicotin

Jenis rokok yang diproduksi di Indonesia tergolong
unik dimana rokok kretek jauh lebih dominan ketimbang
rokok putih yang sebenarnya relatif kecil resikonya
terhadap gangguan kesehatan. Sejak awal sigaret kretek
menjadi primadona para perokok di tanah air. Rokok
kretek menguasai hampir 90% dari total produksi
industri rokok. Sigaret kretek dibuat dari tembakau
rakyat yang diramu dengan cengkeh, saus, dan bumbu
rokok lain, sehingga menghasilkan cita rasa khas
sebagai rokok mantap. Tak pelak jika banyak yang
kecanduan jenis rokok ini.

Padahal, dibalik kenikmatan kepulan asap tembakau ini,
sejumlah penyakit mengancam jiwa penghisapnya. Apalagi
sigaret kretek kandungan tar dan nikotinnya cukup
tinggi. Berdasarkan survey yang pernah dilakukan BPOM,
rokok kretek buatan pabrik rokok dalam negeri,
rata-rata memiliki tar 40 hingga 60 mg dan nikotin 3
mg. Ini berbeda dengan jenis rokok di negara-negara
maju di mana rokok putih lebih dominan. WHO sendiri
telah berkali-kali mengingatkan akan bahaya tembakau
dan menghimbau anggotanya agar memberi perhatian
khusus terhadap rokok, diantaranya dengan menurunkan
toleransi kadar tar dan nikotin.

 Belakangan para spesialis rokok kretek, seperti
Sampoerna, Dharum dan Wismilak mulai serius menggarap
rokok putih. Kendati pasar rokok putih selama ini
dikuasai dua raksasa internasional, Philip Morris
Indonesia (BATI), toh mereka tetap berusaha merengsek
pasar ini. Misalnya PT HM Sampoerna Tbk yang telah
sukses dengan rokok "Bukan Basa-Basi- A Mildnya, Maret
2001 meluncurkna rokok putih St Dupont, yang mengambil
segmen kelas premium.

Sukses Sampoerna dengan A-Mild yang terkenal dengan
iklan-iklan kreatifnya, baik di layar kaca maupun
media cetak, tampaknya telah memancing pemain rokok
lain di pasar ini. Misalnya LA Light yang meluncurkan
tahun 1996. Disususl Country sekitar tahun 1998 yang
konon peredarannya hanya di Medan. Kemudian pada
kwartal III tahun 1999, keluar produk serupa, Bentoel
Mild. Dan ternyata Star Mild dan Bentoel Mild mendapat
respon pasar yang cukup menggembirakan. Bahkan kedua
rokok ringan itu, kini menjadi tulang punggung
Bentoel.
 "Dengan adanya isu global, seperti konvensi
internasional di bidang pengendalian tembakau atau
dikenal FCTC dan adanya pembatasan kandungan tar dan
nikotin pada rokok sebagaimana PP 81/1999, ke depan
tantangan industri rokok kretek makin berat. Karena
itu, tak ada pilihan lain kecuali mengikuti tren
global dengan memproduksi "rokok sehat", yang rendah
tar dan nikotin," ungkapnya kepada Eksekutif di
Jakarta baru-baru ini.
Terima kasih anda sudah membaca artikel ini sampai
dengan selesai. Untuk mendapat informasi lain yang
bermanfaat klik di http://rich9.cjb.net

luhut indra
08129085300
yahoo massenger : luhut09



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iklan-mini/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke