Tren pengguna internet semakin mengarah pada akses dengan kecepatan
tinggi dengan tarif murah. Peran serta industri lokal dalam hal ini
akan dapat mempercepat terwujudnya kondisi tersebut.

Awal tahun ini, Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf
Iskandar mengungkapkan bahwa industri telekomunikasi harus
dikembangkan oleh industri dalam negeri. "Selama ini industri
telekomunikasi (dan infomasi – Red) di Indonesia seperti vacuum
cleaner saja. Mengumpulkan uang recehan jadi sangat besar, kemudian
mengalir ke luar," ujarnya dalam acara `Telecommunication Partnership
Forum' di Hotel Shangri-La, Jakarta, 26 Februari lalu.

Pendapat itu tidak berlebihan mengingat sebagian besar lahan bisnis
bidang TIK masih didominasi pemain-pemain asing. Tender infrastruktur
untuk proyek Palapa Ring contohnya, sebagian besar masih dikuasai oleh
pemain asing. Sementara sejak lama berbagai perangkat jaringan
telekomunikasi yang digunakan operator kita pun banyak disuplai vendor
luar negeri.

Kesiapan Industri Lokal
Minimnya kapasitas produksi dan rendahnya kualitas produk lokal
dituding sebagai penyebab keengganan para operator menggunakan produk
buatan dalam negeri. Hal tersebut ditampik Direktur Utama PT Inti,
Abdul Aziz. Ia menyatakan kesiapannya untuk ikut serta dalam tender
proyek sebesar Palapa Ring. "Inti punya pengalaman panjang dalam
industri telekomunikasi Indonesia," paparnya. Menurutnya, latar
belakang itu menjadikan Inti sangat mengetahui seluk beluk kebutuhan
telekomunikasi di tanah air. "Ini saatnya industri lokal diberi
kesempatan untuk membuktikan kemampuannya," tambahnya berapi-api.


Lebih lengkap : www.teknopreneur.com

Kirim email ke