Nomor XL adalah nomor GSM pertama yang saya miliki. Baru dua hari
menggunakan nomor 0818 33 2528, saya mencoba mencari nomor yang lebih
bagus. Dapat! Saya memilih 0818 33 9900 agar mirip dengan nomor AMPS
saya sebelumnya, 0823 11 9900. 

Saya tak ingat tanggal tepatnya nomor XL 0818 33 9900 itu saya aktifkan.
Seingat saya sekitar November 1997. Sejak saat itu, nomor tersebut
menjadi nomor utama saya. Karena memenuhi kriteria yang ditetapkan XL,
pada 14 Maret 2006 "kasta" saya meningkat dari pelanggan "rakyat jelata"
menjadi pelanggan premium XL. 

Tahun lalu, saya merasa kinerja XL berada pada titik terburuk. Jauh
lebih buruk daripada saat XL menggratiskan biaya bertelepon pada jam
tertentu untuk pengguna nomor prabayar Bebas. Gagal panggil, panggilan
terputus di tengah percakapan, hingga sinyal hilang menjadi bagian dari
aktivitas berponsel sehari-hari. 

Saatnya berganti nomor? Belum ada keputusan. Langkah awal yang saya
lakukan, selama sekitar tiga bulan saya mencoba layanan dari tiga
operator dengan intensif. Yaitu, Telkomsel, Indosat, dan Mobile-8.
Operator lain langsung saya coret di awal karena pertimbangan cakupan
area, kemudahan roaming internasional, dan beberapa faktor lain. 

Telkomsel menjadi operator pertama yang saya eliminasi. Sebab, di ruang
kerja saya di pusat kota Surabaya, yang rata-rata saya gunakan dua hari
per minggu, sinyal Telkomsel kembang kempis. Dengan skala maksimal lima
bar, sinyal Telkomsel bergerak di nol hingga satu bar. Praktis tak dapat
digunakan berkomunikasi, walaupun sekadar ber-SMS. 

Tersisa dua kandidat: Indosat dan Mobile-8. Masing-masing memiliki plus
minus. Secara umum, menurut saya, keduanya sama-sama andal digunakan
bertelepon maupun ber-SMS. 

Khusus di ruang kerja saya, sinyal Indosat rata-rata dua bar. Saya masih
bisa memanfaatkannya untuk bertelepon dan ber-SMS dengan nyaman.
Sedangkan sinyal Mobile-8 lebih kuat. Kebanyakan tiga atau empat bar.
Komunikasi dapat dilakukan dengan leluasa. 

Hingga minggu-minggu terakhir tahun lalu, kinerja Indosat dan Mobile-8
di ruang kerja saya berimbang. Pada periode yang sama, sinyal XL nyaris
selalu lenyap total di ruang kerja saya. Nol. Emergency. SOS. Sedangkan
di luar ruang kerja, gangguan temporer atas XL masih muncul tanpa bisa
diduga kapan bakal terjadi. 

Menjelang pergantian tahun, saya putuskan memilih Indosat. Ada dua
alasan. Pertama, nomor Indosat, dalam hal ini Matrix, lebih pendek.
Nomor sepuluh digit masih tersedia. Sedangkan nomor Mobile-8 minimal
satu digit lebih panjang. 

Kedua, walaupun sinyal Indosat hanya dua bar di dalam ruang kerja, toh
saya tetap bisa berkomunikasi selancar menggunakan Mobile-8 yang
sinyalnya tiga atau empat bar. 

Efektif per 1 Januari 2009, Indosat menjadi nomor utama saya untuk
beragam hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Nomor XL tetap aktif
sebagai pendamping. 

Hari demi hari terlewati dengan baik. Komunikasi relatif lancar. Di
ruang kerja saya, pembicaraan via telepon bisa dilakukan dengan leluasa.
Begitu pula SMS. 

Mimpi buruk mulai menghampiri pada akhir Januari atau awal Februari 2009.
Di ruang kerja saya, sinyal Indosat merosot dari rata-rata dua bar
menjadi satu bar. Alhasil, komunikasi telepon hampir selalu gagal
dilakukan. Dalam kondisi terbaik pun, pembicaraan via telepon hanya
sempat terjalin selama beberapa detik, lalu terputus. Tak jarang sinyal
Indosat malahan hilang total di dalam ruang kerja. Hanya SMS yang masih
sedikit bisa diharapkan. 

Di luar ruang kerja, kinerja Indosat juga menurun. Ketika hendak
melakukan panggilan keluar, saya rata-rata perlu mengulang dua-tiga kali.
Berkali-kali saya mendapatkan keluhan kalau nomor Indosat saya tak bisa
dihubungi. 

Kemarin malam saya mencoba melakukan aktivasi BlackBerry on Demand
(BoD) Indosat. Sebelumnya, selama beberapa bulan saya lebih sering
menggunakan layanan BlackBerry One (BB One) XL. Selain lebih fleksibel
karena menawarkan layanan BlackBerry harian, ketika saya perlukan,
proses rilis PIN XL lebih cepat dan praktis daripada Indosat. Terus
terang saya masih "trauma" dengan pengalaman merilis PIN BlackBerry di
Indosat. Saat itu saya membutuhkan waktu lebih dari dua minggu dan harus
antre di Galeri Indosat. 

Dalam hitungan detik, terhitung sejak mengirimkan SMS ke 889, layanan
BoD Indosat saya sudah aktif. Luar biasa! Tetapi, yang luar biasa
ternyata hanya kecepatan aktivasi. Setelah itu yang saya rasakan "luar
binasa". 

Performa layanan terkini BoD ternyata jauh lebih buruk daripada layanan
BB One XL yang tiga minggu terakhir membaik signifikan. Browsing nyaris
selalu gagal. Berkali-kali indikator di sudut kanan atas layar
BlackBerry berubah menjadi GSM. Malam ini, telah sekitar tiga jam saya
mencoba mengunduh aplikasi Yahoo Messenger langsung dari handheld
BlackBerry. Tetapi, masih belum berhasil. 

Saya berharap pilihan saya beralih nomor utama ke Indosat tidak salah.
Sebab, keputusan itu sebenarnya saya ambil dengan berat hati dan setelah
melalui pertimbangan yang matang. Tak mudah untuk berganti nomor setelah
menggunakannya selama lebih dari sepuluh tahun, bukan? 

Sayang, kalau mencermati perkembangan terakhir, tampaknya saya salah
melangkah. Indosat yang saya harapkan mampu mengungguli "Luna Maya"
dalam menyediakan layanan komunikasi yang lancar, ternyata malahan
menyusul "Monyet". 




Salam,


Herry SW

Kirim email ke