Seharian belum sempat mengunduh dan membaca email masuk, eh... sekali
tarik langsung ada ratusan email. Bakal begadang sampai sahur nih. :)

Sebelum konsentrasi memelototi banyak email, di tengah malam ini
saya kirimkan satu posting asal dan iseng dulu ah. 

Alkisah, pada 7 April lalu Esia menawarkan skema tarif terbaru di Jawa
Timur dan Bali. Tarif percakapan diturunkan. 
* Dari Esia ke Esia Rp 40 per menit.
* Dari Esia ke PSTN lokal dan FWA lokal Rp 80 per menit.
* Dari Esia ke GSM lokal Rp 480 per menit.
* Dari Esia ke nomor tujuan selain yang disebutkan di atas Rp 800 per
menit. 

Pada 21 Agustus 2009, XL menawarkan promo "Paket XL Harga CDMA". Promo
ini hanya berlaku untuk XL Prabayar bernomor area Jabodetabek dan
Bandung. Skema tarifnya:
* Dari XL ke XL Rp 80 per menit. 
* Dari XL ke nomor lokal operator lain Rp 480 per menit.
* Dari XL ke nomor interlokal operator lain Rp 800 per menit. 

Walaupun angka-angkanya tidak sama persis, amat mungkin XL mendapatkan
ilham dari skema tarif Esia. 

Waktu terus bergulir. Anjing terus mengeong, kucing terus mengembik. Ups,
salah ya. :)

Hari ini, 26 Agustus 2009, Esia menghadirkan Bispak dan BASMI. Eits,
jangan berpikir negatif dulu. Bispak ala Esia bukanlah bisa... yang bisa
dipakai itu... tuh. Bispak merupakan kependekan dari "Bisa Pakai Tarif
Mana pun". Sedangkan BASMI adalah singkatan dari "Bebas, As, simPATI,
Mentari, dan IM3". 

Hmm... sebenarnya nggak bisa BASMI ya? Nama yang tepat adalah XASMI.
Sebab, XL tidak lagi memiliki produk bernama Bebas. Yang ada adalah XL
Prabayar. 

Dengan Bispak dan BASMI, intinya Esia hendak menantang para penggunanya.
Kalau pengguna Esia merasa tarif operator GSM tertentu lebih murah,
silakan coba deh. Nomor tetap Esia, namun skema tarifnya mengikuti
operator GSM yang dianggap murah. 

Dung! Dung! Dung! Genderang perang tampaknya mulai ditabuh. Kita lihat
saja bagaimana kelanjutannya. 

Kalau saya tidak silap ingatan (bukan hilang ingatan lho...), pada
Ramadan dua tahun lalu tambur perang tarif mulai ditabuh. Sindir
menyindir lewat iklan menjadi marak. Apakah hal serupa akan terulang
lagi saat ini? 

Tebakan saya, kali ini mungkin ada tambahan peserta. Yaitu, para kaum
moralis, ahli bahasa, dan pemerhati norma. 



Salam,


Herry SW

Kirim email ke