Silakan dibaca-baca untuk santapan pagi hari. Maaf kalau kurang
bermanfaat. Maklum, masih nubie. 



Salam,


Herry SW

===
Bodi Aluminium, Harga Premium

Karena tidak ada penerbangan langsung Palangkaraya-Surabaya, siang itu
penulis harus transit di Bandara Soekarno Hatta Surabaya. Sesaat setelah
mendarat di Jakarta, penulis bergegas menuju sebuah gerai makanan cepat
saji. 

Suatu transaksi hendak dilakukan dengan seseorang yang belum pernah
penulis jumpai. Sejak beberapa hari sebelumnya, kami telah melakukan
pembicaraan via email dan Yahoo Messenger. 

Barang yang ditransaksikan belum beredar resmi di Indonesia. Yaitu,
Nokia Booklet 3G. Beberapa menit mengeceknya, penulis menganggukkan
kepala. "Oke, saya ambil. Tolong ketikkan nomor rekeningnya," ujar
penulis sambil mengulurkan ponsel. 

Dana Rp 7,5 juta penulis transfer ke rekening penjual via mobile banking.
Lewat iPhone yang digenggamnya, penjual memeriksa mutasi rekening.
"Sudah masuk, Pak," tukasnya. Transaksi selesai. 

Booklet adalah netbook pertama yang dihadirkan Nokia. Namun, perusahaan
asal Finlandia itu lebih suka menyebutnya mini laptop. Bodinya terbuat
dari aluminium yang diklaim sama dengan logam serupa yang digunakan
dalam proses pembuatan pesawat.

Tebal Booklet tak sampai dua cm. Tepatnya, 264 x 185 x 19,9 mm.
Sedangkan beratnya hanya 1,19 kg.  Layar Booklet berukuran 10,1 inci
dengan resolusi 1.280 x 720 piksel. Hal yang menarik, layar itu berlapis
kaca sehingga tampak mewah dan lebih cemerlang. Pengguna tak perlu
mengatur cahaya layar pada posisi tertinggi. Tingkat pencahayaan 40
persen justru lebih nyaman untuk mata. 

Di bawah layar, terdapat sederet indikator untuk memantau kondisi
baterai dan fitur yang sedang digunakan. Bila lampu indikator baterai
berwarna merah, berarti daya baterai maksimal tersisa 30 persen. Saat
daya baterai masih lebih dari 30 persen, lampu indikator akan menyala
biru. 

Keyboard netbook bersistem operasi Windows 7 Starter itu tergolong
nyaman, baik untuk pengguna berjari tangan kecil maupun besar. Di sisi
kiri Booklet tersedia speaker, konektor audio 3,5 mm, dua konektor USB,
dan konektor HDMI. 

Sementara itu, di sisi kanan, terdapat sebuah speaker, tombol power,
konektor USB, dan konektor charger. Ada pula SD card reader dan slot
kartu SIM. Slot kartu SIM? Ya. Sebuah modem HSPA telah ditanamkan ke
Booklet. Dengan mengacu pada informasi di control panel, modem itu
bermerek Globe Trotter yang sejak lama dikenal andal. Pengguna tak dapat
bertelepon via Booklet. 

Spesifikasi teknis lain Booklet, di antaranya, prosesor Intel Atom Z530
1,6 GHz, RAM 1 GB, harddisk 120 GB, dan kamera 1,3 megapiksel. Ada pula
wifi, bluetooth, dan GPS terintegrasi. 

Booklet dibekali dengan baterai 16 sel. Jauh lebih besar daripada aneka
merek netbook yang maksimal memakai baterai enam sel. Asyiknya, Nokia
mampu merekayasa sehingga Booklet tetap ringan dan tipis, meski memakai
baterai berkapasitas ekstrabesar. 

Dibandingkan kebanyakan netbook yang beredar di pasar, Booklet sanggup
menciptakan kesan pertama yang sangat memikat. Cantik, mungil, tipis,
sekaligus mewah. Soal harga yang premium, itulah konsekuensi yang harus
dibayarkan oleh konsumen. Hingga kemarin belum ada keputusan apakah
Booklet akan dipasarkan resmi di Indonesia. (Herry S.W.)

===

Tahan Delapan Jam Nonstop

Baterai yang tahan lama, menurut penulis, menjadi kelebihan utama Nokia
Booklet 3G. Selama menguji pakai netbook itu, penulis mengatur
pencahayaan layar pada 40 persen. Power plan sengaja diposisikan pada
balanced untuk mendapatkan performa yang seimbang antara kecepatan dan
konsumsi baterai. 

Aktivitas yang dilakukan adalah mengetik dan selalu terkoneksi dengan
internet memakai modem HSPA terintegrasi. Setiap beberapa menit pasti
ada email masuk maupun keluar. Sesekali penulis melakukan browsing via
Mozilla Firefox dan chatting menggunakan Yahoo Messenger. 

Hasilnya, dengan perilaku pemakaian seperti itu, baterai Booklet
rata-rata sanggup bertahan delapan jam. Minimal 7 jam 50 menit dan
maksimal 8 jam 10 menit. Teorinya, baterai Booklet mampu siaga hingga 12
jam. Jangka waktu itu tampaknya bisa dicapai, asalkan pengguna melakukan
beragam penyesuaian. Misalnya, Booklet tidak dihubungkan ke internet,
pencahayaan layar pada posisi terendah, dan hanya membuka satu aplikasi
ringan. Power plan juga mesti diatur ke power saver. 

Keyboard nyaman dan bodi kukuh menjadi kelebihan lain Booklet. Saat
digunakan, netbook itu sunyi karena tidak dilengkapi dengan kipas alias
fan. Desain yang cermat membuat Booklet dapat dipakai terus menerus
tanpa menimbulkan panas pada bodi. Biarpun diajak bekerja keras,
maksimal penulis hanya merasakan sedikit kehangatan di bagian bawah bodi. 

Sisi minus Booklet, ia tidak dilengkapi dengan VGA out. Kalau ingin
menghubungkan Booklet dengan proyektor LCD, pengguna harus membeli
aksesori tambahan. Modem terintegrasi netbook itu juga tak dapat dikunci
pada jaringan 2G atau 3G saja. 

Ada lagi? Indikator baterai Booklet kurang cerdas. Tidak ada tanda yang
menunjukkan bahwa proses pengisian ulang baterai telah tuntas. Hanya ada
indikator baterai dengan lampu berwarna biru yang menginformasikan bahwa
kondisi daya baterai telah lebih dari 30 persen. Selanjutnya, silakan
menerka, apakah indikator itu bermakna 40 persen, 60 persen, atau sudah
100 persen penuh. (hsw)

Kirim email ke