kalo boleh sih...buat eka jangan "korban narsis" lah ya... coz he is my young
brother... he he he... (agak2 ga rela gitu....)
adi_1101 rk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah orang baru nih, ibu2 gaul. Tuh kan belum apa2 dah ketularan.
udah lah korban narsis terima aja ya. semoga berkah. :D
On 5/9/07, indriyani wahyu prihatiningsih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ngomongin soal narsis, gak ada habisnya...
Ini coba saya lampirkan tulisan dari idola saya, tentang narsis, yg pernah
dimuat di koran kompas, beberapa bulan lalu...
Inget ya.. ini sekedar untuk renungan bukan untuk menjadi polemik... (he he
he...ketakutan duluan nih gue...)
Salam
Indri
(Ibu2 gaul yg maniz....hehehe...ketularan narsis juga...)
Narsisus
Mohamad Sobary
Orang Yunani memiliki tokoh mitologis, Narsisus, yang jatuh cinta kepada
dirinya sendiri. Tiap kali memandang dirinya di permukaan air, Narsisus kagum
akan ketampanan wajahnya.
Novelis humoris dan tangkas memainkan ironi, Paulo Coelho, dalam kisah
pembuka novelnya, The Alchemist, menceritakan betapa banyak peri hutan merasa
iri kepada telaga, tempat tiap pagi Narsisus mengagumi dirinya.
"Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan mata jernih itu," kata
peri hutan.
"Apa dia tampan dan matanya jernih?" jawab telaga.
Lho, kamu melihatnya tiap pagi bukan?"
"Tidak. Aku tak sempat melihatnya sebab tiap kali ia jongkok di tepiku, aku
sibuk memandang kejernihan wajahku sendiri yang terpantul di matanya."
Saya kagum membaca ketangkasan humor novelis ini. Dengan ringkas dan bagus ia
hendak mengatakan, seperti para psikolog yang berurusan dengan
"abnormalitas"bahwa si telaga, mungkin maksudnya kitasering lebih narsisisus
daripada Narsisus sendiri. Sering kita berperilaku tak sehat, narsisme, tetapi
tak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa.
Gejala tak sehat ini direkam pula dalam buku Alice Miller, The Drama of the
Gifted Child: The Search for The True Self (Drama Anak-Anak Kita: Membedah
Sanubari Mencari Diri Sejati) yang menguraikan betapa berjuta-juta anak di
dunia menjadi korban watak narsisme orangtua mereka sendiri.
Kemudian anak-anak itu berangkat dewasa, secara narsistis pula. Dan ketika
menjadi orangtua, mereka pun memperlakukan anak-anak seperti dulu mereka
diperlakukan secara tak sehat.
Cinta orangtua yang narsistis tadi, pada hakikatnya wujud cinta pada diri
mereka sendiri. Orangtua menyayangi anak bukan demi si anak melainkan demi diri
sendiri.
Dan kita pun sering diperhadapkan pada sikap tak terduga. Anak yang tampak
manis dan lembut, ternyata menyimpan potensi "bom" rasa cemas, takut,
frustrasi, juga dendam secara sosial, dan dengan mudah meledak. Anak bunuh diri
tanpa alasan masuk akal. Orang dewasa membunuh dengan kejam orangtua, istri,
suami, atau anak sendiri juga tanpa alasan masuk akal.
Tentu saja tak masuk akal, sebab semua alasan terpendam di bawah sadar,
disembunyikan rapat di balik rasa cemas yang disulap menjadi kepatuhan. Mereka
patuh bukan karena patuh, tapi karena takut.
Menjadi anak saja sudah sulit. Apa lagi menjadi anak di dalam keluarga
otoriter. Menjadi rakyat itu sulit, jalanan macet, dan harus mengalah dengan
frustrasi tiap kali ada pejabat lewat dengan kawalan polisi.
Kita takut pada orangtua otoriter, guru galak, polisi, satpam, tentara,
pengawal presiden atau wakil presiden, ajudan menteri yang lebih dari menteri,
atasan di kantor yang melebihi kuasa Tuhan, dan sikap banyak Bank yang
mempekerjakan preman kejam menjadi "debt collector" berjiwa jin dan hantu.
Mengapa kita sering membikin takut orang lain, dengan rasa bangga? Mengapa
kecemasan orang lain menjadi kebahagiaan kita? Mungkin karena kita pun tak
sepenuhnya waras.
Para selebritiintelektual maupun yang sama sekali tidak intelek dan
sebetulnya membosankanhati-hatilah terhadap pengagum, atau pencinta fanatik.
Banyak tokoh dunia dibunuhjuga Ghandi yang mulia dan agungoleh pencinta dan
pengagum fanatiknya.
Mengapa banyak pencinta dan pengagum fanatik pada tokoh publik? Mungkin
karena pada dasarnya banyak orang tak pernah mendapatdan karena itu
membutuhkancinta dan kekaguman. Lalu mereka mengagumi orang lain demi diri
mereka sendiri.
Pengagum sobat saya, kiai AAgym, berbalik menjadi dengki, marah, mengutuk,
karena sobat ini dianggap cermin diri mereka, tapi cermin itu dibikin retak.
Diri mereka yang cemas, merasa kurang, merasa rendah, dan berharap, tiba-tiba
dikecewakan. Dulu AAgym pasti tak terlalu sadar bahwa kekaguman yang menjulang
ke langit dari begitu banyak warga yang butuh kagum, pada dasarnya juga potensi
kebencian. Kiai ini mungkin mengira mereka kagum pada dirinya, padahal
orang-orang itu kagum hanya pada diri mereka sendiri seperti Narsisus dan
Telaga dungu itu,
Cinta mereka tak sama dengan cinta pada Negara, yang menurut John Lenon
membuat orang rela "to kill or die for" rela berkorban. Cinta dan kekaguman
publik pada tokoh agama, seni, ilmu, filsafat, dan tokoh politik yang bisa
mudah menang pemilu, disertai "bom" kemarahan, jengkel, kecewa, benci, dan niat
balas dendam, dari memanggul setinggi langit ke niat mengubur dalam-dalam
hingga kebencian terpuaskan.
Sekarang para tokoh politik mungkin mulai sadar, betapa tak sehat suasana
pemujaan politik di masyarakat. Sang Terpuja, pelan-pelan diancam kebencian,
kemarahan, rasa kecewa, frustrasi, dan serangan politik bertubi-tubi. Musuh
politik menari-nari di atas kebencian terhadap orang lain.
Ini pun sebenarnya kedunguan yang tak disadari. Dikiranya dirinya tak mungkin
dikenai sikap serupa. Kenapa kita tak mampu mengelola cinta dan kekaguman tetap
menjadi cinta dan kekaguman?
Karena kita terbius popularitas. Kita terbius aroma pujaan, dan lupa membalas
dengan kerja keras untuk mewujudkan harapan. Jangan lupa, di dunia politik,
pendukung, pencinta, pemuja, tim sukses, intinya mendukung, mencintai, memuja,
dan menyukseskan harapan mereka sendiri. Begitu harapan dikecewakan, mereka
siap mengasah pedang pembunuh naga.
Pengagum, atau pemuja, juga dungu. Orang kok dipuja. Salah sendiri. Watak
fanatis harus diubah. Kita mencintai, atau memuja secara dewasa. Dan kalau
orang cukup dewasa, ia tak perlu pujaan. Akal, rasionalitas, dan hati harus
seimbang supaya kita bisa meminta dan bisa memberi.
Kalau membericinta dan pemujaanya harus memberi. Kita tak boleh
terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tak boleh
terlalu dekat Narsisus.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check out new cars at Yahoo! Autos.
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.