Nih..nyang begini nih aye demen...bukan soal permintaan orang-orang nyang
katenye orang pinter nyang pengen plesir naek motor aje minta masup
tol..moge-moge beneran tuh pak walikote mao bantuin si Vika sekoleh nyang
tinggi...kalau aye jadi orang kaye..aye duluan deh nyang bayarin
die..sayang..aye Cuma bisa bantu doe aje smoga banyak orang nyang bisa
nyekolahin anak-anak pinter dari kalangan kagak mampu...

Ade

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of mama
raisya
Sent: 20 Juni 2007 10:59
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [sehat] [OOT]Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN
Terbaik

http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=55
7

Vika Cikita, Putri Tukang Parkir yang Meraih Nilai UN Terbaik
se-Sumbar

Jum'at, 15-Juni-2007, 10:11:43
Telah dibaca sebanyak 175 kali


Kerap Jalan Kaki dari Jati Rumah Gadang ke Sekolah. Kemiskinan sangat dekat
dengan kebodohan. Tapi hal itu tak berlaku pada Vika Cikita, siswa SMA 1
Padang, yang ternyata anak seorang tukang parkir di kota ini. Vika mampu
membuka mata siapapun, bahwa kemiskinan keluarganya bukan halangan baginya
menggapai nilai fantastis di sekolah. Vika berhasil meraih nilai ujian
nasional (UN) terbaik se-Sumbar.


Sebuah rumah kayu dan berlantai kayu di Jati Rumah Gadang No VII Kelurahan
Jati Kecamatan Padang Timur, ternyata menyimpan mutiara.
Jika berkunjung ke kediaman Ridwan dan Indrawati-orangtua Vika-memang cukup
sulit menemukannya. Maklum, kita harus berjalan kaki ke lokasi yang disebut
warga sekitar Jati Rumah Gadang itu. Rumah itu ditempeli stiker keluarga
miskin. Tak ada ruang tamu. Hanya sebuah beranda dilengkapi tiga sofa usang.
Jika anda tamu, di sofa usang itulah anda bisa melepas kepenatan. Ridwan dan
Indrawati akan menyambut dengan senyuman. Tulus. Disusul kemudian Vika
keluar dari kamar.

Di sinilah, Vika Cikita, 17 tahun, anak pertama Ridwan, tinggal dan belajar
setiap hari. Vika menceritakan hampir setiap hari dia ke
sekolah berjalan kaki. Jika ada ongkos dari bapaknya yang menjadi tukang
parkir di kawasan Bioskop Raya Teather Padang, Vika terkadang tetap jalan
kaki. Rute Vika jalan kaki ke sekolahnya di SMAN 1 Padang melalui jalan
kecil tembus ke Universitas Dharma Andalas di Jalan Perintis Kemerdekaan,
lanjut ke Jalan Sudirman melalui belakang rumah Gubernur, dan langsung
menuju ke SMAN 1. Ukuran waktunya lebih kurang 45 menit, bahkan satu jam
perjalanan.

Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu, dari kecil Vika sudah
terlihat cerdas. Itu berkat *air susu ibunya*. Sang ibu juga tak
menyangka. Karena menurut Indrawati sejak kecil Vika makannya tidaklah yang
mewah-mewah. Terpenting bernilai gizi, seperti tempe,
tahu, telur, dan sayuran. Vika Cikita pun bukan tipe manja dan mudah
berpatah arang. Cita-cita digengamnya kuat penuh semangat. Inilah pemicunya.
Vika selalu berhasil membuktikan hal itu sejak SD dan SMP. Bahwa ia harus
mampu membuat bahagia orangtuanya, walaupun tanpa merengek-rengek ikut les,
seperti kebanyakan anak-anak berada.

"Bagaimana mau les, ke sekolah saja Vika berjalan kaki karena tidak ada
ongkos. Walaupun begitu Vika tetap harus sekolah, karena dengan pendidikan
itulah kita dapat mengangkat derajat kita," ujar peraih peringkat pertama
nilai UN tingkat Sumatera Barat ini kepada Padang Ekspres, sembari
meletakkan segelas air putih.Kamu tentu sangat bahagia?

"Iya, Vika langsung sujud syukur pada Allah SWT saat mendengar pengumuman
itu.Jujur, Vika tidak menyangka kalau Vika meraih
peringkat satu UN. Karena, yang terpenting bagi Vika bagaimana Vika bisa
lulus dengan nilai yang baik," ujar Vika yang lantas membenahi
jilbabnya.Yang membuat Vika was-was saat ini adalah apakah ia lulus dalam
SPMB atau tidak nantinya dan biaya kuliahnya, walaupun begitu Vika sangat
berharap ia dapat kuliah. Hal inilah yang menyebabkan orangtuanya
mati-matian mengumpulkan uang agar ia bisa ikut bimbel SPMB.

Sederhana: Vika Cikita (kanan) bersama Ny Indrawati di rumahnya yang
sederhana. Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Insert) menyanggupi untuk memberi
beasiswa bagi Vika hingga tamat.


"Hanya untuk mencari uang Rp250 ribu untuk bimbel SPMB, ayah Vika
benar-benar harus banting tulang mencari uang. Makanya Vika
benar-benar serius agar lulus, doakan ya, Kak," tuturnya. Ketika masih
kecil, Vika bercita-cita menjadi dokter karena ia ingin
membantu orantuanya yang tak mampu. Ayah Vika berpropesi sebagai tukang
parkir sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.Tetapi setelah masuk ke
bangku SMA, Vika mulai menyadari keadaannya. Keinginannya untuk masuk
Fakultas Kedokteran terasa jauh dari dirinya. "Darimana uangnya, Kak, untuk
biaya sekolah ini saja Vika dibantu oleh sekolah,. Jadi, tidak mungkin
rasanya jika Vika mengikuti keinginan Vika.

Lalu Vika dianjurkan guru di sekolah untuk berkuliah di UNP dengan harapan
agar Vika langsung menjadi guru.Makanya ketika ada program Penelusuran Minat
dan Kemampuan (PMDK) Vika lalu memilih jurusan Fisika UNP.Tetapi sayang Vika
tidak lulus di sana padahal untuk beli formulir PMDK saja Vika dibantu
guru-guru," keluhnya dengan mata berkaca-kaca.Ketika ditanya ke depan ia
ingin memilih jurusan apa jika hendak kuliah Vika menjawabnya dengan
bingung, bukan karena tak tahu jawabannya tetapi karena ia takut biayanya
akan memberatkan orangtuanya."Yang terpenting Vika ingin cari jurusan yang
kuliahnya sebentar dan biayanya murah," tukasnya.

Pergaulan Vika di Sekolah

Guru-guru di sekolah Vika mengaku, perilaku Vika sama sekali tak berbeda
dari anak-anak lain. "Tidak ada minder sedikit pun berteman
walau kadang ia tak jajan, tak terlihat ia mengeluh pada siapapun.
Teman-temannya pun tak melihat sebelah mata pada Vika, mereka malah membantu
Vika jika terlihat Vika belum makan atau jika ada acara-acara sekolah, tak
segan-segan temannya membantu," ujar Wakil Kepala Bidang Kesiswaan,
Drs.Ramadansyah.

Alumni SMP 5 Padang ini memang sangat rendah hati sekali, walau banyak media
yang ingin mewawancarainya.Ia tetap mengatakan bahwa ia takut dibilang
terlalu diekspos karena ia belum apa-apa dibanding teman-teman lainnya.
Bahkan, ia sangat menghargai teman-temannya yang selama ini membantunya.
"Teman-teman Vika sering membantu Vika, jika Vika tidak ada uang jajan.
Makanya, Vika tak ingin mengecewakan teman-teman," tutur Vika. Saat
mengetahui keberhasilan Vika, orangtua Vika senang tetapi tak terlalu kaget
karena memang dari kecilnya Vika termasuk anak yang cerdas dan kreatif.

"Ketika kecil, Vika sering diundang menyanyi di pesta pernikahan atau
acara-acara kelurahan. Dandanannya pun tak kalah dibanding
penyanyi-penyanyi cilik lainnya.Tetapi, hobi Vika ini terhenti saat ia mulai
SMP mungkin karena ia tahu keadaannya," tutur ibu Vika,
Indrawati (41).Ibu Vika sangat berharap agar ada pihak nantinya yang
membantu biaya sekolah Vika. "Jujur, saya tak mampu membiayai kuliah Vika
nantinya. Tapi, saya tak pernah mematikan harapan dan keinginan anak
saya.Mudah-mudahan ada jalannya," tutur Indrawati.

Wako Ulurkan Kasih

Saat berita ini ditulis, Padang Ekspres mendapat telepon dari Wali Kota
Padang, Drs. Fauzi Bahar, M.Si. Subhanaullah, ternyata kabar
luar biasa datang dari orang nomor satu di Kota Padang itu, Fauzi Bahar
menyanggupi untuk membiayai kuliah Vika hingga ia tamat.
"Dimanapun Vika nantinya kuliah, saya akan membiayainya hingga ia menamatkan
kuliahnya. Silahkan Vika ingin kuliah di mana," tegas
Fauzi. (***)


[Non-text portions of this message have been removed]



==========================================================================
" Mailing list SEHAT didukung oleh Hewlett-Packard StorageWorks Division.
SEHAT Internet Access & Website didukung oleh CBN Net.
Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : XEROX, Bhumiyamca,
Arutmin, HBTLaw dan Ibu Marissa Muliadi yg telah dan konsisten mensponsori
program kami, PESAT (Paket Edukasi Orang Tua Sehat)."

Kunjungi kami di :
http://www.sehatgroup.web.id/

Kirim email ke