Rabu, 11 Juli 2007, Pelaku Mirip di Kelapa Gading
Sementara itu, ada keterangan yang menarik yang muncul dari ahli forensik RSCM Dr Mun'im Idries. Dikatakan, dari segi profil kriminal, ada kemiripan antara kasus mutilasi di Klender Timur dengan kasus bocah korban sodomi di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada April lalu. Meski korban sebelumnya tidak sampai dimutilasi, namun menurut Mun'im ciri-ciri perlakuan terhadap korban hampir sama. "Korbannya sama-sama bocah laki-laki, sama-sama disodomi, waktu ditemukan keduanya sama-sama telungkup," kata ahli forensik RSCM ini. Sebelum dibunuh, korban sodomi di Kelapa Gading juga mengalami kekerasan fisik cukup sadis. Selain ditemukan bekas jeratan di leher, hasil otopsi RSCM juga menemukan adanya luka dalam cukup parah. "Yang di Kelapa Gading itu hatinya pecah," kata Mun'im. Mun'im tak mau berandai-andai soal adanya dugaan pelaku sebagai orang yang sama. Dia hanya mengingatkan, bahwa di antara ciri-ciri penderita psikopat, tindakan sadis yang mereka lakukan biasanya bertahap. Berdasarkan pengalaman, kasus pertama mula-mula korban disodomi lalu dibunuh dengan cara dijerat. Korban berikutnya bisa jadi disayat, berikutnya lagi bisa kepalanya dihilangkan dan seterusnya. "Kalau soal siapa sindikat pelakunya itu urusan polisi nanti," elaknya. Beberapa temuan lain hasil otopsi korban, selain menggunakan pisau kecil yang tajam diduga untuk memotong tulang pinggang, pelaku juga menggunakan pisau yang lebih besar. Setidaknya ini melihat bekas potongan tulang yang hanya satu atau dua kali tebasan. Mun'im sedikit menyayangkan kondisi jasad korban saat dibawa ke RSCM. Tidak lengkapnya barang bukti penunjang, diakui Mun'im cukup menyulitkan proses otopsi. "Waktu dibawa kesini barang buktinya sudah rusak. Sudah polisinya nggak ngasih data lagi," ketusnya. Secara teoritis, Mun'im mengatakan, ada empat poin penting yang harus diperhatikan baik oleh polisi maupun oleh dokter forensik terkait keberhasilan pengungkapan sebuah kasus. Pertama, yakni tentang waktu pemeriksaan, menurut Mun'im makin cepat makin baik. Kedua, berhubungan dengan keaslian barang bukti. Menurutnya, agar terjadi kesinambungan koordinasi, sebenarnya dimungkinkan dokter ikut melakukan pemeriksaan bersama dokter ke TKP. Ketiga, menyangkut teknik pemeriksaan. Potongan-potongan daging kecil di sekitar korban misalkan, menurut Mun'im penting untuk diidentifikasi apakah termasuk bagian daging dari tubuh korban atau justru milik orang lain. Keempat, menyangkut siapa identitas korban. "Nah yang terakhir ini kami perlu bantuan media biar cepat ketemu siapa anggota keluarganya," ujar Mun'im. (did) Rabu, 11 Juli 2007, Sebar Foto Cari Identitas Minim Petunjuk, Bocah Dimutilasi dan Sodomi Bocah laki-laki korban sodomi yang tubuhnya dipotong dua di Jalan Raya Klender Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, masih menjadi misteri. Untuk mempercepat pengungkapannya, polisi menyebar foto korban dengan harapan ada keluarga dan kerabat yang mengenali yang bisa dimintai keterangan. Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dahana mengatakan, pihaknya belum menemukan titik terang. "Ada kemungkinan korban adalah anak jalanan atau dibuang oleh anggota keluarganya," ujar Dahana. Untuk mempercepat tugas, dia membentuk tim khusus yaitu gabungan anggota Polres Jakarta Timur dengan Polsek Cakung. "Untuk mencari identitas korban, penyidik akan menyebarkan foto korban kepada masyarakat," paparnya. Menanggapi dugaan penjualan organ tubuh, perwira ini menolak untuk memberikan komentar. "Identitas korban dikenali dulu, baru nanti akan mengembang ke arah mana," elaknya. Dia berharap, dengan melakukan penyebaran foto, maka pihak keluarga dapat mengenali korban sehingga penyelidikan menemukan titik terang. "Semoga warga ada yang mengenali wajah korban," harapnya. Untuk proses penyebaran foto, di wilayah Jakarta Timur, pihaknya memanfaatkan polmas sebagai ujung tombak. "Mungkin diletakkan di pos keamanan setempat," tambahnya. Selain melakukan penyebaran foto, penyidik juga masih meminta keterangan sejumlah saksi mata yang berada di lokasi kejadian. "Motifnya masih dalam penyelidikan. Karena motif itu bisa saja mengarah ke arah mana saja, baik penjualan organ tubuh, ilmu hitam, atau pun yang lainnya," papar Kapolsek Cakung Kompol Subandi. Subandi berjanji akan berusaha keras untuk mengungkap kasus pembunuhan sadis itu. Sebab, jika tak segera ditangkap, bisa saja terjadi akan memakan korban-korban lain. "Saya berharap warga dan media dapat membantu penyelidikan kami," tuturnya. Untuk sementara, tambahnya, salah satu pendukung penyelidikan adalah hasil otopsi yang dilakukan oleh dr Mun'im Idries dari Forensik RSCM. "Pelaku sangat sadis dan ada kemungkinan memiliki kelainan seperti robot gedek," imbuhnya. (mos) sumber: indopos.co.id
