Sebuah artikel yang bagus..bahkan bisa dibilang sangat bagus...

Ade

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Sartika Puspita Sari
Sent: 04 September 2007 21:43
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [BundaInBiz] [OOT]Pelangi Keluarga: Andai Boleh Memilih


{ Saya tersentuh sekali membaca cerita ini, dan hampir tiap kali membacanya,
hampir tiap kali itu pula tak kuasa menahan air mata.sungguh tersindir, saya
membayangkan andai Mas Bagas (anak saya) sudah lebih besar {skr usianya msh
31 bln} , mungkin dia akan mengatakan hal yang sama seperti lakon Nisa dalam
cerita ini.}


Pelangi Keluarga: Andai Boleh Memilih


14 Jun 07 10:04 WIB

Oleh Indah Prihanande

Jam 24 malam saya baru tiba dirumah. Perjalanan dari Jakarta menuju
Pandeglang hari itu terasa lebih panjang. Alasan apalagi kalau bukan karena
kemacetan akut yang menyerang Jakarta hampir disemua ruas jalan. Suami saya
menunggu di depan teras rumah. Secangkir kopi susu hangat menemaninya
menghalau dinginnya udara luar. Dia selalu begitu. Teras itu menjadi ruang
favoritnya ketika malam tiba. Kedua anak saya telah tertidur lelap di tempat
tidur terpisah. Setelah mandi dan baca koran sebentar, akhirnya tiba untuk
tenggelam dalam lelap dan nyenyak. Entah berapa lama terpejam, tiba-tiba
terasa ada yang menarik tangan saya dengan sangat hati-hati. Kemudian tangan
ini dielus dan diciuminya dengan lembut. Saya berusaha memicingkan mata, oh,
rupanya anak pertama saya Annisa (9 tahun) yang melakukannya. Saya tidak
langsung bereaksi. Sengaja membiarkan ini berlanjut. Kemudian dia
menempelkan tangan lembutnya kepipi saya. Dengan sangat perlahan dia
berbisik: "Bu, ..ibu.bangun bu, pindah yuk, bobonya sama Nisa.." Kami
beranjak perlahan, khawatir membangunkan suami. Kemudian, saya dan Nisa
tidur di bawah satu selimut besar. Dingin agak berkurang. Jam di Handphone
menunjukkan pukul 02:00 dinihari. Tak sabar Nisa memulai pembicaraan. 

"Bu, Nisa lagi buat gelang dan kalung dari manik-manik untuk dijual". 
"Jualannya ke mana?" 
"Tadi sih muter kerumah temen-temen. Sebelumnya dijual disekolah". 
"Laku gak?" 
"Ada yang laku ada yang nggak. Uang nya sudah dibelikan manik-manik lagi.
Besok mau buat lagi. " 
"Yang bikin gelang dan kalungnya siapa? Nisa sendiri?" 
"Bukan. Bertiga sama Teh Rifda dan Fajrin. Teh Rifda digaji 1. 000, kalau
Fajrin 500. "Saya menahan senyum di tengah gelap. Terasa lucu mendengar
kalimat terakhirnya. Entah bagaimana cara mereka bersepakat menentukan gaji
dalam nilai rupiahnya. Malam itu, spesial dia membangunkan saya untuk
membagi cerita serunya.**

Saya tengah ingin melempar waktu ke beberapa tahun yang lalu. Pada suatu
kesempatan berbincang dengannya, Saya mengajukan pertanyaan standar
untuknya. "Nisa punya cita-cita apa nak..? 
"Nisa pengen jadi seperti ibu. Ibu jadi apa tuh sekarang? Akuntan ya? Nisa
mau seperti itu, kerja dengan komputer.." serangkaian kalimat tadi lancar
meluncur tanpa beban."Oh, iya. Kalau gitu Nisa harus rajin belajar supaya
cita-citanya tercapai.."

"Iya Bu. Nanti kalau Nisa sudah kerja, kita kekantornya bareng ya. Nisa
maunya satu kantor sama ibu. Ntar ibu yang ongkosin Nisa ya" 

"Iya" ada tawa yang tertahan. Obrolan masih berlanjut..

"Ntar kita duduknya bareng ya Bu, Satu meja" Saya tersenyum dalam hati. 
Dia berfikir dengan caranya sendiri.

Kemudian, dia melanjutkan lagi, 
"Ntar kita makannya bareng, pulangnya juga bareng"

Saya tak tahan untuk segera menggodanya: 
"Iya, ntar naik ojeknya juga bareng. Nisa tetap duduk di depan ya?"

Dia berfikir sebentar, kemudian menjawab: 
"Wah, kayaknya nggak bisa deh bu, ntar kan badan nisa sudah gede, tukang
ojeknya nanti terhalang oleh badan Nisa"

"Oh iya ya" saya manggut-manggut serius, mengiyakan argumennya. Kemudian, di
tengah suasanan hati saya yang tak jelas antara gembira, haru, terenyuh dan
lucu tersebut, saya mengajukan satu pertanyaan lagi untuknya.

"Kenapa Nisa ingin bekerja menjadi seperti ibu?"

Dengan kilat binar matanya yang bening dia menjawab lugas dan tuntas.

"Nisa ingin terus bersama ibu. Nisa ingin ke mana-mana bareng sama ibu.
Pokoknya Nisa gak mau jauh dari ibu. Kalau Nisa bekerja seperti ibu, berarti
kan Nisa bisa samaan terus dengan ibu."

Tuhan.., itulah jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang membuat jantung ini
seolah dihantam godam berton-ton beratnya. Seketika hati saya berkabut. Saya
sedih dan terenyuh dengan cita-citanya itu.

Tadinya saya menduga bahwa dia memimpikan profesi saya. Bahwa dia mengenal
dan ingin menjadi seperti saya. Ada bangga menyelinap ketika pembicaraan itu
berlangsung. Saya seolah menjadi model yang sempurna untuknya. Namun,
sesungguhnya bukan itu yang menjadi alasan akan cita-citanya. Dia merindukan
saya. Dia menginginkan kehadiran ibu dalam setiap saat waktu yang
dilewatinya. Dia menginginkan kebersamaan itu.

Kemudian, dengan kapasitas berfikir anak usia 6 tahun, dia berusaha mencari
jalan keluar atas keinginan yang belum didapatkannya. Dia tengah menyusun
taktik. Dalam gambarannya, jika dia kelak menjalani profesi seperti ibu,
maka dia tidak akan kehilangan kebersamaan dengan sosok yang dirindukannya
itu.

Saya menangis haru atas cita-citanya itu. Jika mungkin saya boleh memilih,
ingin rasanya menemaninya setiap saat, ingin menjadi orang pertama yang
menyaksikan setiap perkembangannya, ingin mendampinginya dalam setiap
kesempatan suka dan dukanya, ingin melewati kebersamaan lebih panjang lagi.
Melewati setiap rangkaian peristiwa dengan kedekatan yang sesungguhnyapun
saya merindukannya. Untuk saat itu saya membiarkan hati saya berduka. Saya
mengakui akan kesedihan itu.

Bukan, bukan karena ingin meratapi nasib! Saya tidak tengah menyesali akan
tugas yang tengah dijalani. Tugas yang telah menyita sebagian waktu
kehidupan yang dimiliki. Saya hanya tengah ingin berdamai dengan kenyataan.
Mencari cara agar hilang segala kesedihan, untuk kemudian berdamai dengan
perasaan sendiri.

Walau bagaimanapun saya sangat yakin, ada potongan puzzle kehidupan yang
harus diselesaikan satu persatu dengan sepenuh ikhlas. 
Dan mungkin kini, sudah saatnya harus memiliki strategi untuk beranjak
kepada potongan berikutnya.

Dan sekarang, saya tengah menyusun dan mewujudkan 'ingin' itu. Walaupun
mungkin tak ideal seperti yang lainnya. Namun saya akan terus berdoa dan
berusaha. Saya ingin selamat menyusun sisa rangkaian kehidupan yang saya
miliki, yaitu melewati kebersamaan dengan penuh makna dan cinta dengan
anak-anak tercinta itu.

[EMAIL PROTECTED] Com Untuk Annisa dan Aisya: terima kasih atas segala
cintamu nak!

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke