Pagi..

Dari kemarin, qta bicarakan ttg masalah provider GSM & CDMA..
ternyata qta semua yang berada didunia yang bebas, kalah cihuy dgn
orang2 yang ada di Nusa Kambangan alias para nara pidana kelas kakap.
Mereka pake telepon satelit utk menjalankan dagangannya..
Keluar dari Nusa Kambangan, kekayaan ga' berkurang..

Just info aja sih.. ;)

Mega
============================================
Ditjen Pemasyarakatan Selidiki di Nusakambangan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/14/Politikhukum/3836388.htm
=====================

Jakarta, Kompas - Direktorat Jenderal atau Ditjen Pemasyarakatan
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia bekerja sama dengan Badan
Narkotika Nasional serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan menyelidiki indikasi penggunaan telepon satelit oleh
narapidana Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.

Ditjen Pemasyarakatan juga meminta Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri dugaan aliran dana dari
narapidana (napi) kasus narkotika di lembaga pemasyarakatan (LP) di
Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Untung Sugiyono di
Jakarta, Kamis (13/9). Ia bertemu dengan pimpinan PPATK dan Badan
Narkotika Nasional (BNN) untuk menindaklanjuti dugaan penggunaan
telepon satelit oleh napi di Nusakambangan.

Sinyalemen itu pernah dilontarkan Kepala Pelaksana Harian BNN I Made
Mangku Pastika. Ia menyinyalir sejumlah napi di Nusakambangan, yang
diduga adalah anggota jaringan pengedar narkotika, masih mengendalikan
transaksi dari dalam sel. Salah satu caranya melalui telepon satelit.

Menurut Untung, "Kami telah mengadakan pertemuan dengan Kepala
Pelaksana Harian BNN dan PPATK. Pembahasannya bukan seperti yang
diberitakan media, yaitu ditemukan telepon satelit, tetapi ada
indikasi penggunaan telepon satelit oleh napi di Nusakambangan.
Indikasi ini kami ketahui tiga minggu lalu. Setelah kami peroleh
informasi, kami melakukan koordinasi dengan polda setempat. Bersama
dengan petugas LP dan polisi, kami melakukan penggeledahan, tetapi
tidak ditemukan."

Untung menambahkan, beberapa hari lalu Ditjen Pemasyarakatan
mengadakan pertemuan dengan BNN dan PPATK. "Dalam pertemuan, dari BNN
mengusulkan secara bersama-sama memasang alat atau apa gitu, jika ada
informasi lalu bisa diolah dan dicatat untuk menjadi bahan
pengembangan penyelidikan," ujar dia lagi.

Kesepakatan kedua yang diambil dari pertemuan itu adalah
menginventarisasi orang yang berkunjung ke LP di Nusakambangan supaya
diketahui mereka bekerja sama dengan siapa dalam LP atau bekerja untuk
kelompok siapa.

"Ketiga, terkait dengan upaya percepatan pengurangan jumlah penghuni
LP, yaitu program pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas,
khusus bagi napi narkotika sebelum keputusan pembebasan bersyarat dan
cuti menjelang bebas dikeluarkan, mereka ditempatkan di Panti
Rehabilitasi BNN," kata Untung.

Saat ditanya kaitan kehadiran PPATK dalam pertemuan itu, Untung
menjelaskan, "Kami mau mencari tahu kemungkinan adanya aliran dana
orang yang ada di dalam LP. Mereka yang ada di dalam itu kebanyakan
bandar. Jadi, kami ingin tahu datanya dari PPATK."

Ditanya soal informasi penuhnya kontrakan di Cilacap, yang diduga
disewa anggota jaringan pengedar narkotika, ia mengatakan, "Kami tak
sampai ke sana. Bisa saja kontrakan itu digunakan keluarga karena jauh
dari tempat asalnya. Sekarang pesawat ke Cilacap sudah tak ada lagi."
(vin)

Kirim email ke