Apa maksud tulisan ini?
/bara

> Oleh Budiarto Shambazy
www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/25/utama/3855590.htm

> Jadwal bus di kota yang teratur selalu tepat,
> kecuali jika terjadi force majeure. Beda dengan bus
> di Jakarta yang selama hampir setengah abad tak bisa
> diandalkan.
> 
> Busway, salah satu moda bus rapid transit (BRT),
> ingin mengakhiri penyakit itu. BRT disebut dengan
> quality bus karena tujuannya memberikan servis lebih
> baik.
> 
> Ia disebut rapid transit karena melayani jarak
> menengah-jauh, bukan jarak dekat. Ia cepat karena
> tak sering singgah di halte walau kecepatannya tak
> sampai 100 km/jam.
> 
> BRT ditentang karena butuh dana besar untuk
> membangun jalan khusus-misalnya BRT Orange Line di
> Los Angeles, Amerika Serikat. BRT Rapid, juga di Los
> Angeles, menambah kemacetan karena dioperasikan di
> jalan umum.
> 
> Makanya busway di Jakarta jalan pintas yang
> kontroversial sehingga warga Pondok Indah
> menentangnya. Hanya di sana ada sebuah jalan besar
> dihiasi patung-patung berlampu sorot.
> 
> Hanya di sana banyak portal, tong, atau polisi
> tidur. Anda pasti kesasar jika masuk Pondok Indah
> saat malam karena nyaris semua jalan ditutup portal.
> 
> Sebagian warga mengajukan class action terhadap
> pemerintah yang menaikkan tarif tol. Rakyat bukan
> hanya membiayai investasi pembangunan tol, PLN pun
> tiap bulan menagih biaya penerangan jalan.
> 
> Banyak yang tak tahu berapa kecepatan
> maksimal/minimal di tol. Akibatnya, mobil di
> belakang suka memencet klakson meski Anda benar
> karena spidometer menunjukkan kecepatan maksimal 80
> km/jam.
> 
> Banyak juga mobil melaju di jalur paling kanan di
> bawah kecepatan minimal 60 km/jam. Mereka itulah
> yang justru suka ngedumel "jalan tol macet melulu".
> 
> Saat masuk terowongan mobil menyalakan lampu hazard
> yang kelap-kelip, bukannya "lampu besar". Saat tol
> macet, konvoi pejabat pun tak sungkan-sungkan ngebut
> di bahu jalan.
> 
> Kalau menabrak kucing, biasa sang sopir berhenti,
> mengelilingi bangkai kucing tujuh kali, dan berhenti
> menyetir 40 hari. Jika menabrak orang, ya lari.
> 
> Ketika lewat jembatan berpohon beringin sopir
> membunyikan klakson tiga kali sambil mengucapkan
> doa-doa "sakti". Kalau ada huruf tanda larangan
> berhenti di tepi jembatan, siapa yang peduli?
> 
> Hari Sabtu lalu, jalan protokol ditutup dalam rangka
> Car Free Day. Namun, Bang Yos meninjau
> pelaksanaannya dengan mobil.
> 
> Wagub baru dapat jatah Camry anyar dan para anggota
> DPRD kebagian Altis baru. Seorang anggota DPRD
> berkilah bahwa Altis itu untuk menjalankan "tugas
> perjalanan".
> 
> Jadi jalan itu milik siapa sih? Walau semua aturan
> menyebut "jalan umum", semua merasa paling berhak.
> 
> Cepék man penguasa tikungan, bukan polisi. Tak
> sedikit orang penting menutup jalur lambat di depan
> rumahnya dengan portal seolah-olah milik pribadi.
> 
> Jalan adalah "lajur politik". Ia bak taman bermain
> bagi tiap aktor untuk mempraktikkan politik karena
> jalan lebih bergengsi ketimbang nongkrong di istana
> atau ngelamun di Gedung MPR/DPR.
> 
> Jalan efektif untuk tiap jenis perjuangan. Ia jadi
> "tujuan wisata" utama pengunjuk rasa dan juga sarana
> ampuh untuk menarik simpati dari rakyat.
> 
> Di jalanlah demonstran meneriakkan demokrasi, meski
> metromini yang mengangkut mereka parkir seenaknya.
> Di jalanlah pendemo mengaku membela kepentingan
> umum, meski mereka membuang sampah sembarangan.
> 
> Kalau situasi tegang, aparat memblokade jalan karena
> demonstran menutup jalan. Kalau situasi sudah cair,
> giliran para pedagang bakso dan teh botol menguasai
> jalan.
> 
> Ingat, republik ini lahir di tepi jalan saat
> Proklamasi diucapkan di halaman rumah di Jalan
> Pegangsaan. Bangsa ini pecah juga di jalan akibat
> ulah Letkol Untung dan anak buahnya berkeliaran di
> jalan-jalan di Monas, Menteng, dan Kebayoran.
> 
> Periodisasi sejarah bangsa ini disimbolkan dengan
> proyek pembangunan jalan. Belanda membangun
> Anyer-Panarukan dan Orde Lama punya Jalan Jakarta
> Bypass bantuan dari AS.
> 
> Orde Baru terkenal suka membangun tol yang lebih
> mahal daripada Taj Mahal. Orde Reformasi masyhur
> berkat kultur "jalan-jalan" pejabat/politisi yang
> rajin melawat/studi banding ke luar negeri.
> 
> Di republik ini kata jalan sangat politis. Bung
> Karno marah jika revolusi "berhenti di tengah
> jalan", Pak Harto minta rakyat berkorban demi
> pembangunan saat tanahnya digusur untuk pelebaran
> jalan.
> 
> Setelah Pak Harto tumbang, reformasi enggak pernah
> jalan. Kini kita suka merenung apakah ada jalan
> keluar atau jalan pintas agar republik ini selamat?
> 
> Jenderal Besar AH Nasution penggagas ideologi "Jalan
> Tengah" yang kebablasan jadi Dwifungsi ABRI. Rakyat
> yang kecewa lebih percaya kepada "parlemen jalanan"
> daripada parlemen beneran.
> 
> Pengendara di Ibu Kota sering tak tahu penyebab
> jalan macet total. Sampai kini tak ada yang tahu
> kenapa republik gégér gara-gara pelatih karateka
> dipukuli polisi Malaysia ketika sedang jalan-jalan.
> 
> Aparat keamanan tak hafal nama jalan tempat Nurdin
> Halid ditangkap. Maklum di Menteng ada puluhan nama
> jalan, mulai dari nama pulau, kota, sampai pahlawan.
> 
> Di antara kita banyak preman jalanan. Mereka tak
> tumbuh normal karena "besar di jalan".
> 
> Mereka doyan nongkrong daripada kerja, suka
> berwacana daripada tutup mulut, dan tak jantan alias
> gemar keroyokan. Sungguh kasihan. 




       
____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
http://searchmarketing.yahoo.com/

Kirim email ke