Siang..
Aku mau kasih bonus utk Temans Miners sebuah artikel yang menurut ku
bagus banget..
Jjr, dalam hati ku menangis ketika membaca artikel ini serta terbayang
saat kemarin ikut memberikan paket ta'jil sederhana ala Miners....
Mungkin sebuah lontong isi & aqua adalah sebuah hadiah terindah bagi
mereka..
Namun sungguh teramat indah bila qta saling memberi dan ulurkan
tangamu kepada sesama..
Mega
====================================================
Lontong Isi & Aqua
Cerita saya terinspirasi dari kegiatan saya pergi bekerja sehari-hari
menggunakan kereta api kelas Ekonomi Bekasi - Jakarta Kota. Letak
kantor yang cukup jauh membuat kereta jadi satu-satunya pilihan
kendaraan yang `serba lebih'; lebih cepat, lebih irit, lebih lancar,
meski ada lebih lainnya yang tidak menguntungkan; lebih desak-desakan,
lebih rawan pencopet, lebih banyak laki-laki iseng, dan lebih nyebelin
kalau ternyata keretanya telat, atau bahkan mati di tengah-tengah
jalan. Tapi topik cerita saya bukan membahas tentang kereta api kelas
ekonomi ini.
Pagi ini, saya melihat seorang nenek yang sudah renta duduk bersandar
pada salah satu tiang penyangga stasiun.Bajunya kumal dan lusuh. Ia
hanya diam, di depannya tidak ada kaleng atau wadah apapun untuk
menaruh uang. Bisa saya artikan, ia tidak sedang meminta-minta. Walau
begitu, ada saja orang yang menjejalkan uang ke tangan sang nenek,
lalu nenek itu mengucapkan terima kasih. Entah keinginan dari mana,
saya menghampiri nenek tersebut. Sembari menunggu kereta, pikir saya.
Saya berjongkok di sebelah nenek tersebut. Si nenek menyadari
kehadiran saya dan berkata,
"Berangkat kerja, Neng?" sambil tersenyum.
Sekarang saya bisa lebih memperhatikan wajahnya. Tidak ada lagi rambut
hitam di kepalanya, wajahnya penuh kerutan disana sini, matanya
abu-abu seperti orang yang sudah tua lainnya. Tapi senyumnya hangat
dan terlihat tulus. Saya mengangguk mengiyakan pertanyaan nenek
tersebut.
Lalu saya bertanya, "Nenek tinggal di sekitar sini?".
Lagi-lagi nenek itu tersenyum dan menunjuk sebuah tempat di pinggiran
kereta.
"Saya bukan tinggal, tapi tidur dan hidup disana." Hati saya miris
mendengar jawaban tersebut.
Tempat itu bukan gubuk, apalagi sebuah rumah, melainkan hanya sebidang
tempat yang disulap menjadi tempat tinggal oleh nenek tersebut.
Beralaskan koran, sebuah buntelan yang saya perkirakan isinya beberapa
helai baju, sebuah piring dan sebuah gelas aqua kosong.Lalu saya mulai
bertanya hal lainnya:
Saya : Maaf Nek, Anaknya ada berapa?
Si Nenek : Empat. 2 laki-laki, 2 perempuan.
Saya : Lalu dimana mereka? (Saya tahu lancang berkata seperti ini,
tapi saya penasaran)
Si Nenek : (Menggeleng) Saya tidak tahu. Saya dengar satu anak
laki-laki saya masuk penjara, dan saya tidak tahu kemana yang 3
lainnya.
Saya : Udah berapa lama Nenek gak ketemu mereka?
Si Nenek : (Menggeleng lagi) Lupa. Yang pasti sudah lama banget.
Saya terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu, tapi jelas saya tidak tahu
apa yang saya pikirkan. Saya hanya SEDIH! Bagaimana bisa anak-anaknya
membuang seorang ibu yang sudah melahirkan mereka dengan susah payah
ke dunia ini? Terlebih lagi, lihat keadaan Nenek ini.
Saat saya asik berenang dalam pikiran saya, Nenek itu berkata, "Saya
tidak mau mengemis seperti ini, tapi saya butuh uang untuk makan."
"Biasanya Nenek makan apa?" Tanyaku..
Ia pun menjawab,"Lontong isi dan aqua, yah syukur-syukur kalau ada
uang lebih, Nenek bisa beli nasi pakai tempe."
Saya meneguk ludah dengan susah payah, memposisikan diri saya di
posisi Nenek itu? Entahlah, pasti serasa kiamat.
Nenek itu menambahkan, "Kalau ada uang lebih, saya ingin membelikan
baju lebaran untuk anak cucu saya."
My God, ia masih bisa memikirkan anak-anaknya yang telah
meninggalkannya?? Tepat di seberang peron saya, ada sebuah keluarga.
Ayahnya buta, ibunya menggendong anak yang paling kecil, dan dua anak
laki-lakinya duduk di peron tanpa alas apapun. Mereka terlihat
bahagia, meski (maaf) miskin. Si Nenek melihat mereka dengan pandangan
hampa, atau kesepian tepatnya. Jelas saja, sebentar lagi Lebaran akan
datang. Yang beragama muslim sangat bahagia, karena ini moment yang
pas untuk berkumpul bersama keluarga.
Lalu bagaimana dengan Nenek ini? Pergi kerja menggunakan kereta api
mengharuskan saya melihat banyak hal menyedihkan. Disaat 25% penduduk
jakarta membeli mobil baru, ganti HP, pergi dugem, shopping di
mall-mall mewah, 15% hidup dengan sederhana, 60% hidup dengan serba
kekurangan. Disaat hanya 10% yang beriman dan ikhlas menerima
keadaannya, 50% lainnya merusak moral mereka sendiri; dengan merampok,
mencuri, mencopet, prostitusi, dan banyak lainnya. Kereta yang saya
tunggu sudah memasuki stasiun. Saya merogoh kantong dan mengambil uang
20ribu lalu menjejalkan ke tangan Nenek tersebut sembari berkata,
"Nenek harus makan ayam hari ini, kalau ada sisa bisa disimpan untuk
beli baju lebaran cucu Nenek."
Lalu si nenek mengucapkan terima kasih. Sambil memasuki kereta, saya
berpikir, Nenek itu saja masih menyimpan harapan untuk bisa bertemu
dengan anak cucunya (bahkan berniat membelikan baju lebaran!), kenapa
saya tidak bisa menyimpan secuil harapan juga akan adanya perubahan
pada nasib negeri kita ini?
Sebentar lagi Lebaran tiba, sucikan hati, sucikan diri. Beramal bukan
hanya di bulan Ramadhan, beramal bukan hanya lewat materi. Berikan
senyum anda pada orang-orang disekitar anda. Tanpa anda sadari itu
adalah amalan yang besar nilainya apabila anda kerjakan setiap saat! .
Sumber : Anonymous
------------------------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.39/1045 - Release Date: 10/2/2007 6:43 PM