Pagi..

Sabtu pagi head line news Kompas guede banget, ttg Geng di SMA 34.
Yang aku tahu SMA 34 termasuk salah satu sekolah top di Jakarta
Selatan. Baca koran di sabtu pagi dan sambil berfikir.. apakah seperti
pelajar di Indonesia, khususnya di Jakarta ??

Cerita ttg penyiksaan dilingkungan sekolah.. jjr, aku jadi ngeri
sendiri.. setelah geng motor di bandung.. skrg geng sekolahan di
Jakarta..

Temans Miners...
Bagi yang punya anak-anak yang sudah sekolah.. tetap perhatikan
putra-putrinya..
Jangan mengganggap para siswi di sekolah menjadi aman.. !! krn aku
tahu banyak sekolah ada punya geng cewek yang melakukan hal serupa
seperti geng cowok..

Oh ya, apakah ada temans Miners yang pernah mengalami hal serupa ??
atau mungkin [duluuuuu...] waktu sekolah ikutan geng serupa di SMA 34
??
Mungkin bisa saling cerita disini ??

be Carefull..

Mega
[ygsedihmelihatpelajarIndonesia]
====================================================
---------- Forwarded message ----------
From: Agus Hamonangan
Date: Sat, 10 Nov 2007 23:59:30 -0000
Subject: Geng di SMA 34 Siksa Yunior

Para Siswa Senior Anggota Geng Juga Melakukan Pemalakan

===================================
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/11/utama/3984492.htm
=====================


Jakarta, Kompas - Kekerasan di kalangan remaja kian merebak dan
terorganisasi. Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X
SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, disiksa seniornya hingga
menderita patah tulang. Fadhil diduga dianiaya anggota geng Gazper,
yang beranggota ratusan siswa SMA 34.

Kekerasan itu terungkap lewat penuturan Herry S Sirath, orangtua
Fadhil. Penyiksaan itu ditengarai juga terjadi terhadap siswa kelas X
(kelas I) lainnya hingga beberapa siswa juga mengalami patah
tulang.Penyiksaan terhadap Fadhil dan siswa lainnya diduga dilakukan
siswa kelas XII (kelas III) anggota geng itu.

Pihak korban telah melaporkan penyiksaan itu ke Kepolisian Resor
Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (8/11). Korban melaporkan lima siswa
senior anggota geng Gazper, yang ditengarai paling bertanggung jawab
dalam peristiwa itu. Fadhil juga sudah menjalani visum untuk
penyidikan lebih lanjut

Menurut Herry, sejak masuk SMA 34, anaknya sudah dipaksa seniornya
untuk bergabung dengan geng Gazper. Karena menolak, Fadhil sering
mendapat teror mental dan pukulan.

Karena tidak tahan, Fadhil akhirnya menerima tawaran kakak kelasnya
untuk bergabung dengan geng terbesar di sekolah unggulan itu.
Keputusan itu justru makin membuatnya mendapat siksaan fisik lebih
keras.

"Pada September lalu, tulang lengan kirinya patah akibat dipaksa
berkelahi melawan dua pentolan geng yang paling jago silat. Dua minggu
lalu, di lengan kiri Fadhil juga terdapat tiga luka bekas sundutan
rokok. Saat saya tanya, dia berbohong dan mengatakan patah tulang
karena jatuh dan sundutan rokok terjadi secara tidak sengaja," kata
Herry.

Penyiksaan itu, kata Herry, terungkap setelah Fadhil membolos sekolah
pada Jumat (2/11). Setelah didesak, Fadhil mengaku terpaksa membolos
karena hari itu adalah hari penyiksaan dari senior kepada yunior.

"Saya sangat marah mendengar hal itu dan langsung menghubungi kepala
dan wakil kepala sekolah. Saya juga sempat mengumpulkan 250 siswa
anggota geng Gazper di aula sekolah dan menemui lima orang yang
menyiksa anak saya pada Selasa (6/11)," kata Herry.

Menurut Herry, berdasarkan keterangan Fadhil, geng Gazper terbentuk
sejak 10 tahun lalu dan terus melakukan kaderisasi terhadap
siswa-siswa baru. Dua tahun lalu kepala sekolah sudah mengetahui
keberadaan geng itu, tetapi belum mengambil langkah tegas untuk
membubarkannya.

Selain Fadhil, seorang siswa kelas X juga mengalami patah tulang
akibat penyiksaan. Selain itu, puluhan murid laki-laki juga sering
disiksa di dalam kamar mandi sekolah.

Pemalakan

Selain menyiksa siswa yunior, pentolan-pentolan geng Gazper juga
melakukan pemalakan terhadap seluruh siswa. Jumlah yang diminta dari
setiap angkatan bervariasi, tergantung permintaan para senior.

Cara pemalakan itu dilakukan melalui koordinator geng di setiap
angkatan, yang disebut sebagai "jenderal". Setiap angkatan memiliki
lima sampai 10 "jenderal", yang diambil dari siswa yang paling jago
berkelahi.

"Saya meminta ketegasan kepala sekolah dan mengeluarkan siswa yang
terlibat," kata Herry.

Kepala Sekolah SMA 34 Ahmad Mukri mengatakan, kelima siswa yang
dilaporkan ke polisi itu kini sedang dalam pertimbangan untuk diberi
sanksi. "Masih dalam proses (pemberian sanksi). Kalau membahayakan,
paling maksimal mereka  dikembalikan ke orangtua (dikeluarkan)," kata
Ahmad.

Soal laporan pihak korban ke kepolisian, Ahmad berpendapat kasus itu
sebaiknya diselesaikan secara internal saja. "Mengingat yang terlibat
masih usia sekolah. Jangan sampai masa depannya hancur," ujar Ahmad.

Peristiwa bullying atau kekerasan di sekolah yang terakhir kali
mencuat di media massa adalah kasus di SMA Pangudi Luhur (PL), Jakarta
Selatan. Korbannya adalah Blasius Adi Saputra (18), siswa kelas I.
Kasus itu dilaporkan ke Kepolisian Resor Jakarta Selatan, tetapi
hingga kini tidak jelas kelanjutannya. Pihak sekolah telah
mengeluarkan empat dari 12 siswa yang dilaporkan ke polisi. Adi
sendiri akhirnya keluar dari PL dan memilih mengikuti homeschool.

Ivan Wibowo, pengacara yang pernah menangani kasus bullying
mengatakan, kasus bullying bisa semakin merebak jika proses penegakan
hukum tidak dijalankan secara tegas, termasuk kepada anak-anak.

"Karena sering kali kasus kekerasan selalu diselesaikan dengan damai,
akhirnya tercipta pemahaman pukul-memukul itu tidak masalah, mental
masyarakat jadi rusak," kata Ivan.

Tindakan melapor ke polisi kerap kali menjadi pelik bagi korban.
Sebab, tekanan dari sesama siswa di sekolah terhadap si korban sangat
kuat. Hal tersebut juga dialami Adi, yang sebagian besar temannya
tidak setuju atas tindakannya melapor ke kepolisian. Para siswa yunior
terbelenggu dalam ketakutan masif. (ECA/SF)

Kirim email ke