Pertamax, Pertamax Plus, dan semua jenis BBM Industri sudah tidak ada lagi yang 
disubsidi pemerintah. 
Jadi yang disubsidi tinggal premium (RON 88), solar bukan industri, dan minyak 
tanah bukan industri.
Jadi harga pertamax, pertamax plus gak ada pengaruh dengan anggaran pemerintah, 
dan pasti akan naik turun ikut harga minyak dunia. Sama aja kayak produk shell 
dan petronas. 
Ada rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan premium (RON 88) untuk mobil 
pribadi, yang katanya akan diberlakukan bila harga minyak menyentuh 
$100/barrel. Dan dimunculkan bahan bakar alternatif yang bisa dipake yaitu 
dengan nilai RON 90, masih dibawah pertamax yang 92 nilai RON-nya. 
Bisa dibaca di artikel yang saya sertakan dibawah ini...

adi.

      Pembatasan penggunaan premium awal 2008  
        
     JAKARTA: Pemerintah akan mene-rapkan pembatasan pemakaian premium RON 88 
untuk kendaraan pribadi dan surcharge tarif listrik bagi pengguna yang melebihi 
daya yang ditetapkan guna mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak. 
      Dengan adanya kebijakan pembatasan konsumsi itu, badan usaha hilir migas, 
Petronas, Shell, dan Pertamina berpotensi menikmati berkah 35% pangsa pasar 
premium real octan number (RON) 88 yang akan beralih ke premium nonsubsidi, 
termasuk RON 90 yang dipersiapkan sebagai alternatif substitusinya. 

      "Kalau memang dikehendaki untuk pembatasan, silakan tulis dalam 
kesimpulan [rapat kerja] agar konkret, sehingga mobil pribadi nanti menggunakan 
premium beroktan tinggi di atas RON 88. Premium hanya untuk kendaraan umum dan 
mobil pribadi tertentu," kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam rapat 
kerja dengan Komisi VII DPR, kemarin. 

      Dia menambahkan Departemen ESDM tidak bisa mengendalikan kenaikan subsidi 
BBM, terutama dari sektor transportasi. Hal itu terkait dengan pembengkakan 
volume kendaraan yang berada di luar kewenangannya. Bila rencana itu akan 
diimplementasikan, lanjut Purnomo, bisa diberlakukan 1 Januari 2008, terutama 
di kawasan Jabodetabek. 

      Pernyataan Purnomo itu merupakan tanggapan sekaligus jawaban atas 
pertanyaan anggota Komisi VII DPR. Saat itu, anggota Komisi VII DPR Ade Daud 
Nasution menyentil pemerintah yang dinilai tidak memiliki kebijakan yang tegas 
dalam menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia yang berdampak pada 
pembengkakan subsidi BBM. 

      "Iran saja, yang memproduksi 3 juta barel minyak mentah per hari dan 
mengekspor 2,5 juta barel per hari, memiliki kebijakan tegas. Mereka menerapkan 
sistem voucher untuk setiap pembelian BBM bagi kendaraan pribadi. Kami 
mendukung rencana tersebut," tegasnya. 

      Vice President Komunikasi PT Pertamina Wisnuntoro mengatakan rencana 
pembatasan premium untuk kendaraan pribadi mungkin memangkas 35% pangsa pasar 
premium RON 88. Hal itu, lanjutnya, didasarkan pada perhitungan volume 
kendaraan pribadi secara nasional. 

      Berebut pasar 

      Nanti, pasar RON 90 akan diperebutkan oleh PT Pertamina, PT Shell 
Indonesia, dan PT Petronas Niaga Indonesia. Selama ini, kedua perusahaan asing 
itu bermain di RON 92 dan RON 95. 

      Untuk bahan bakar minyak nonsubsidi, Pertamina telah menetapkan kebijakan 
menaikkan harga Pertamax (RON 92), Pertamax Plus (RON 95), Biopertamax, dan 
Pertamax Dex hingga 10% pada 1 Desember 2007. 

      Sementara itu, untuk penghematan subsidi listrik pemerintah mungkin 
menerapkan skema disinsentif (surcharge) bagi konsumen yang menggunakan daya 
listrik melebihi dari patokan yang ditentukan. Ukuran soal patokan batas wajar 
penggunaan daya listrik akan ditetapkan pemerintah. 

      Menteri Purnomo menjelaskan tarif dasar listrik (TDL) saat ini berada di 
bawah biaya pokok produksi. Bahkan subsidi itu juga dinikmati oleh pelanggan 
rumah tangga dengan kategori R3 dan B2 seperti konsumen rumah tangga di Pondok 
Indah dan restoran. 

      "Langkah itu bisa menjadi solusi alternatif dari kenaikan TDL yang bisa 
memicu masalah sosial dan politik." 

      Masih soal listrik, PT PLN telah menunjuk BCA, BNI, Mandiri, Bank of 
China, dan Barclays untuk menyediakan utang masing-masing Rp4,4 triliun dan 
US$1,1 miliar guna membiayai pembangunan tiga pembangkit listrik berbahan bakar 
batu bara di Jawa. 

      BCA, BNI, dan Mandiri yang ditunjuk terpisah menyiapkan pinjaman dalam 
bentuk rupiah masing-masing untuk proyek PLTU Labuan (2x315 MW), PLTU Indramayu 
(2x330 MW), dan PLTU Rembang (2x315 MW). Sementara itu, Bank of China dan 
Barclays, diminta menyiapkan pinjaman dalam bentuk dolar AS untuk pembangunan 
PLTU Indramayu dan PLTU Rembang. (09) ([EMAIL PROTECTED]/[EMAIL PROTECTED]) 

      Oleh Bastanul Siregar & Rudi Ariffianto
      Bisnis Indonesia
     
 
   Posted by: "Kaoru Narko" [EMAIL PROTECTED] denarko
    Date: Wed Nov 28, 2007 1:33 am ((PST))

Apakah pertamax termasuk yang memakan subsidi pemerintah ?

Kalau Pertamax termasuk BBM yang memakan subsidi pemerintah maka ada nilai 
positifnya, yaitu mengurangi pengeluaran negara (mengurangi pengeluaran untuk 
subsidi BBM tapi biasanya dialokasikan ulang untuk beli mobil pejabat di akhir 
tahun 2007, semoga ini tidak benar).
  a.. Walaupun misalnya BBM industri gak naik, jelas efek kenaikan ini terasa 
di budget pengeluaran mayoritas perusahaan di negara ini (khususnya yang di 
Jabotabek, khususnya perusahaan tempat aku kerja) karena hampir semua mobil 
para bos mengkonsumsi Pertamax dan Pertamax Plus. Sudah menjadi rahasia umum 
bahwa para bos di sini baik di swasta maupun negeri mana mau pake mobil yang 
mengkonsumsi premium. Ujung2nya tetap biaya tinggi. Surplus perusahaan yang 
bisa dipake buat lebih mensejahterakan karyawan akan teralokasi ke pengeluaran 
BBM perusahaan. Jangan heran tahun depan makin banyak demo buruh karena gaji 
tidak naik, atau bahkan gaji tak terbayar (semoga ini tidak terjadi).
  b.. Efek dengan kenaikan biaya perusahaan adalah kenaikan harga jual produk. 
Tidak dapat dipungkiri harga produk di negara ini termasuk mahal, bukan karena 
kualitas yang bagus sekali tapi karena faktor biaya tinggi, juga karena tingkah 
laku personal yang sangat konsumtif, pungli sana sini dan mengedepankan gengsi 
masing-masing. Harga produk yang mahal Lebih jauh akan memberi ruang bagi 
produk murah Import untuk masuk, misalnya produk2 China baik yang legal maupun 
yang gelap, dengan kualitas yang sedikit lebih rendah atau malah sama namun 
dengan harga jual yang sangat jauh (bisa setengahnya, bahkan sepertiganya). 
Akibatnya Industri mati, gulung tikar atau dijual ke investor asing. ujungnya 
para buruh juga yang menjadi korban.
  c.. Apabila BBM industri juga naik, dua poin di atas sudah hampir pasti 
terjadi ! karena per Desember 07 banyak raw material manufacturing juga sudah 
mengalami kenaikan sekitar 10%, biaya ekspedisi/transportasi juga sudah pasti 
naik, tarif gas juga sudah dicanangkan akan naik. Akibat tarif gas naik, 
beberapa perusahaan telah berinvestasi dengan mengubah instrumennya agar bisa 
beralih ke BBM. nah kalo BBM industri juga naik, ada double cost di dalamnya. 
Jangan heran tahun depan tingkat PHK karyawan juga akan meningkat (semoga hal 
ini juga tidak terjadi).
Apakah kompetitor Pertamina juga menaikkan harga ?
Pada level harga yang sama, secara jujur saya lebih memilih produk Shell 
dibandingkan Pertamina. Bahkan dengan selisih Rp 500-800, masih berani memakai 
Shell dibandingkan produk pertamina. Kenapa ? Referensi teman yang ahli 
dibidangnya, secara kualitas produk Shell lebih bisa di'pegang' belum lagi 
faktor kejujuran pelaku bisnis SPBU Pertamina yang selama ini banyak 
diberitakan negatif.
Nah jika Pertamina menaikkan harga jual, sementara kompetitor tetap atau 
kenaikannya lebih sedikit. Mesti dikaji, bukan tidak mungkin market share 
Pertamina di kelas Pertamax dan variannya akan jauh turun. Ingat bahwa 
Pertamina bukan lagi pemain tunggal di bisnis ini. Mestinya hal ini sudah 
dikaji, namun bukan rahasia juga bahwa bos-bos biasanya lebih sering cuma 
melihat value 'diujungnya' jika harga naik dapet profit sekian dll tanpa mau 
tahu kondisi pasar !!! Nah kalo bosnya gak tahu apa-apa di bisnis ini ???

Intinya kenaikan di bawah, sepertinya 'tidak menyentuh' konsumsi masyarakat 
bawah (konsumsi premium, solar, dll) tapi belajar dari kenyataan selama ini 
terus terang kok gak yakin yah ! Karena selama ini pejabat berpikirnya 
"bagaimana nanti" bukan "nanti bagaimana".
Semoga yang dikhawatirkan juga tidak terjadi.....


joni wrote :

Dari milis sebelah, semoga bermanfaat!!!!!

<<selipan.gif>>

Kirim email ke