Temans,
Teringat pengalaman berkesan ketika kelas 1 SMA.
Waktu itu hari Senin pagi, seperti biasa upacara bendera. Aku datang terlambat, 
dan kupikir daripada 'mengganggu' khidmatnya upacara aku gak ikut serta 
langsung masuk UKS (kalo telat upacara pasti disuruh berdiri di depan dan 
biasanya aku jadi bahan celaan teman2 sekelas, persis kaya Miners ini kalo ada 
orang susah malah dicela. Daripada upacara jadi 'gak khidmat' kan lebih baik 
aku ke UKS aja. Biasanya di UKS ada guru yang 'jaga' juga).
Kebetulan yang jaga waktu itu guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP), 
diinterogasi macam2 kenapa gak ikut upacara. Memang alasanku gak logis (biar 
upacara lebih khidmat), dan disangka aku cuma mengada-ada (sepertinya memang 
iya). Hingga ada satu pertanyaan yang masih aku ingat :

"Apa kamu gak bangga menjadi orang Indonesia ? tanya Pak Guru.
Spontan aku jawab,"TIDAK".
Namun aku tambahin,"Tapi bukan berarti aku gak cinta Indonesia Pak !
Bisa ditebak, aku lebih lama di UKS bahkan setelah upacara selesai, dilanjutkan 
ke ruang BP. Sampai dari Pak Guru keluar kata kalau aku tidak memiliki jiwa 
patriot. Seperti biasa aku tetap menyanggah bahwa jiwa patriot gak ada 
hubungannya dengan bangga menjadi orang Indonesia, tapi lebih berhubungan 
dengan rasa cinta ke negara ini.
Tetap saja, dalam budaya kita murid selalu salah di mata Guru. Dan selain 
di-strap, nilai PMP ku pun menjadi 6. Jarang sekali murid mendapat nilai 6 
untuk PMP di sekolahku kecuali murid itu bengal, tak bersopan santun dan suka 
membolos (sementara seperti yang teman-teman tahu, saya orangnya sangat sopan, 
ramah dan tidak sombong).

Sekarang, ingin sekali saya berjumpa dengan Pak guruku itu dan tetap 
bertanya,"Apa dari Indonesia yang bisa saya banggakan !
Sampai sekarang pun saya masih tetap berpikiran bahwa yang membuat kita maju 
bukanlah kebanggaan diri tapi kecintaan diri.
Maaf kalu teman2 gak sependapat,....

Kirim email ke