Dapat Artikel ini nih.. Nagh loh, masa si? Kalo bener berarti yang hobinya
kentut berarti harus dimusnahkan hehehehehe.. *


====================================================
Indonesia Siesta : Gas Buang Manusia Kontribusi Pemanasan Global*   Dalam
pemaparannya, guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Umar Fahmi Ahmadi dalam seminar dampak dan penyebab global Warming bagi
Indonesia di kantor Ikatan Dokter Indonesia Selasa (12/11), menyebut gas
buang angin alias kentut adalah salah satu kegiatan sosial manusia yang
merugikan. Selain menimbulkan bau tidak sedap, gas buang manusia berpotensi
mengurangi jumlah kadar oksigen di udara.

Umar kembali mengatakan, "Alasannya, gas buang kita yang mengandung ch empat
itu tidak bisa langsung terurai, terus berkumpul dan terbawa angin".
Kenapa bisa berperan besar, hal tersebut menurutnya manusia sebagaimana
kegiatan industri adlaah sebuah tempat membakar bahan bakar. Berupa
karbohidrat dan lemak untuk menghasilkan energi bagi aktifitas
keseharaiannnya.

Proses pembakaran bahan energi yang terjadi dalam tubuh manusia itu
mengeluarkan limbah. Baik limbah padat, limbah cair maupun gas buang.
Layaknya kawasan industri, perkotaan menjadi tempat yang subur bagi laju
populasi manusia dalam setiap kegiatan sosial dan aktifitasnya. Saat
jumlahnya bertambah, maka semakin besar kontribusi bagi pemanasan global
yang akan diberikan. Walau nampak kecil, namun gas buang manusia dianggap
paling berpengaruh terhadap pemanasan global.

Selain gas buang, berteriak dan mengeluarkan suara keras juga termasuk ikut
dalam berkontribusi dalam pemanasan global. "Berteriak itu, menimbulkan
gelombang suara menerpa bidang-bidang dan menggetarkan. Jika dikonversi
dalam energi, getaran yang berulang itu menimbulkan energi panas," ujar
Umar. Panas tubuh yang meningkat saat ber-olah raga juga disebut-sebut
sebagai penyimbang terbesar dalam pemenasan global. Namun, pada contoh kasus
yang diberikan Umar, tidak semua manusia cenderung melakukan olah tubuh dan
menghasilkan panas.

Dengan kata lain, dalam hal perubahan lingkungan, manusia berada dalam
posisi sentral, yakni sebagai pelaku sekaligus penderita.   *22 Nov 2007*



-- 
Bimo Widhi Nugroho
[EMAIL PROTECTED]
momosays.blogspot.com
YM: shippirly

Kirim email ke