mas Rio,
Setahu saya, orang MY tuh punya istilah untuk orang Indonesia dengan  sebutan 
"Indon" ya ?   Nggak peduli dia TKI or pekerja disana or cuman pelancong. Bener 
nggak ? Yang mereka kenal Indonesia adalah negaranya, bukan peoplenya. 
Peoplenya itu ya Indon

Saya tidak bermaksud untuk membela pihak MY ataupun kita. Beberapa kali saya ke 
MY juga diperlakukan seperti itu, dan nothing bagi saya kalau kita tidak 
bersikap seperti mereka. Perlakuan tsb sudah kita dapat dari kita sampai di 
KLIA, airport mereka yang megah itu. Tinggal dimana, kerja dimana, berapa lama 
? Sambil pasang muka curiga. Beberapa tempat juga melengos kalau tahu kita 
Indon, tapi nggak ngaruh deh sama gue.... cuekin azaa. Kecuali kalau kita ke 
Genting *hihihihi* Oh.. Your are Indon... come...come...come!!!! *hehehe* 
Toh teman-teman saya yang tinggal disana (termasuk mas Rio neh) betah kok dan 
baik-baik saja disana, berarti kan nggak semua orang bersikap seperti itu. Hal 
yang biasa lah...
 
Yang tulis itu kan orang KBRI ya ? notabene yang punya tugas juga untuk 
melayani urusan dokumen orang Indon di daerahnya, tapi turut menjaga budaya 
kita di negara tsb ya ? Ada yang punya informasi nggak usaha-usaha apa yang 
sudah dilakukan Kedubesan kita di negara tetangga untuk menyelesaikan 
masalah-masalah seperti ini  dan bagaimana mereka mengenalkan Indonesia tentang 
kebudayaannya. 

Mau dipasang di rubrik ? Duh... nambah ongkos aza.. masih banyak yang perlu 
dikerjain dehhh. Nggak mikir dampaknya buat TKI kita yang akan semakin 
dihina-dina ? Kalau cuman dihina, dideportasi , dikurangi jumlahnya. Apa nggak 
ada cara lain yang lebih arif sehingga bisa menyelesaikan masalah daripada 
ngadu-ngadu masalah yang kayak begini ya... 

Ngomongin global warming aza deh yang punya dampak besar ke Indonesia..

Mohon maaf kalau ada yang pembaca tersinggung yach...cuma sekedar input saja.


Rgrds,
-Rully Tahitu-
*jadipengenminumtehbohdehhh*
----- Original Message ----
From: Rio <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: Milis IListeners <[email protected]>
Sent: Thursday, December 13, 2007 2:06:35 PM
Subject: [IListeners] Re: [Ax YC] Kami Bukan Indon!

udah baca di milis sebelah...
emang kenyataannya cari taxi di malaysia itu susah banget
pernah gw dan temen gw mau naik taxi tp dia pasang tarif gak pake argo, trus 
dia minta 10 ringgit (yang biasanya cuma 4 ringgit kalo pake argo). trus temen 
gw nawar 7 ringgit, tp jawaban dari supir taxinya...
"tak mau.. tak mau.. jalan kaki saja..."

emang kurang ajar tuh...


On 12/13/07, Haryono <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:
------------ --------- ------- Original Message ------------ --------- -------
Subject: [hardrockfm] [oot] Fwd: Kami Bukan Indon!
From: "the.more.you. ignore.me. the.closer. i.get"
<emiliawiropati@ yahoo.com. sg>
Date: Thu, December 13, 2007 1:07 pm
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

dr milis sebelah....

Dear all, sekedar membagi keluh kesah saya yang bekerja di Malaysia.
Teman saya bekerja di Malaysia bukan sebagai buruh/pekerja kasar, tapi
sebagai staf lokal di KBRI Kuala Lumpur.
Meski demikian, tetap saja teman saya ini mendapatkan perlakuan yang tidak
enak dari warga Malaysia, bahkan dari seorang supir taksi yang notabene
adalah golongan menengah ke bawah.

Mohon bantuan teman-teman media untuk dapat memuat cerita ini di rubrik
surat pembaca media anda.
Mari kita perjuangkan untuk menghilangkan stereotype Indonesia sebagai
bangsa kelas dua.
Semoga cerita ini mendapatkan perhatian dari rekan-rekan.

Terima Kasih

Cheers!
Dimas Anindityo

PS: to moderator, thanks untuk tempatnya.

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

Kami Bukan 'Indon' 

Bekerja dan hidup di Malaysia merupakan pengalaman terpahit dalam hidup saya.
Tidak pernah saya merasa begitu terhina menjadi manusia apalagi sebagai
seorang warganegara Indonesia.
Ya, Saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga dan cinta dengan
hal tersebut.

Saya ingin membagi pengalaman terpahit saya dari semua pengalaman pahit
yang pernah saya alami.
Kejadian ini terjadi pukul tujuh malam, hari Rabu tepatnya tanggal 12
Desember 2007.
Hari itu saya merasa sudah cukup letih dengan pekerjaan dan memutuskan
untuk pulang meskipun sedang hujan.

Keluar dari gerbang Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur, saya dan teman
memutuskan untuk naik taksi.
Kami sadar pilihan ini akan membuat kami harus menunggu cukup lama.
Sekedar informasi, kalau cuaca bagus dan masih relatif sore mencari taksi
susahnya bukan main, apalagi dengan keadaan hujan dan larut malam.

Setelah menunggu hingga beberapa puluh menit, akhirnya ada taksi yang
berhenti.
Saya pun merasa sangat bersyukur.
Karena harus melipat payung terlebih dahulu dan hal ini sedikit memakan
waktu, maka ketika masuk taksi saya pun mengucapkan 'maaf yah' pada supir
taksi, standar orang Indonesia dalam bersopan santun.

Beberapa detik setelah siap dan menuju tempat tujuan, sopir itu bertanya
'you Indon ke?' 
Saya jawab: 'Indonesia.' 
Kemudian dengan nada tinggi dia kembali mengatakan 'Indon' saya jawab
'Indonesia' dan berulang beberapa kali seperti itu.
Kemudian dia pun mengatakan 'No Indonesia in Malaysia there is only
Indon,' dengan nada marah-marah.

Kemudian dia menyusul makiannya dengan berkata, 'I am a muslim, I am
scared of nothing, you indon did wrong, you scared people afraid to know
you are indon,' dengan nada emosi dan bingung teman saya mulai melawan,
'no, we aren't scared of nothing, we are Indonesia not Indon.'
Kemudian saya menyondongkan badan ke depan ke arah supir dan menyorongkan
muka ke arahnya dan bertanya: 'do you have problem?'
Kemudian dia menjawab 'no, good enough.'
Saya jawab 'Ok' dan dia membalas 'Ok, no talk.' 

Setelah saya balik duduk di posisi menyender, kembali dia berucap 'you
indon all crazy, criminals, get out of here, it's free for you indon, get
off' dan mengucapkan itu berulang kali.
Kami pun langsung turun, meskipun hujan dan macet, dan posisi taksi yang
kami tumpangi berada di tengah-tengah jalan.

Makian gila itu tidak berhenti sampai kami turun.
Setelah kami ke pinggir sambil merasa shock, supir itu keluar dari taksi,
berteriak-teriak ditengah jalan, 'you indon bastard, you wont pay, you all
criminals,' sampai-sampai semua orang dalam mobil yang sedang sesak dan
macet itu pun melihat ke arah kami.

Sekedar informasi, argo di taksi itu baru RM2 lebih beberapa sen, karena
kami baru berjalan sekitar 200 meter.
Membuka pintu taksi di Malaysia akan dikenakan tarif buka pintu sebesar
RM2, atau Rp. 5000.
Lagipula dia mengusir kami dengan mengatakan 'it's free.' 
Buat apa kami bayar setelah dicaci-maki dan diusir apalagi baru jalan
sekitar 200 meter.
Ketika mobil mulai berjalan pun dia membuka kaca dan tetap memaki.
Saya tidak mengerti, saya sangat merasa sakit hati dan tidak percaya ini
terjadi.

Saya tidak mengerti, mengapa sulit sekali bagi mereka (saya tidak menyebut
seluruhnya, namun mayoritas orang Malaysia) untuk memanggil orang Indonesia
dengan Indonesia dan bukan 'Indon' .
Sudah pekak telinga saya disebut-sebut sebagai 'Indon' .
Sebagai staf lokal KBRI di Malaysia, keinginan untuk meluruskan atau
menghilangkan istilah ini mungkin jauh lebih besar daripada bagi
warganegara Indonesia yang bekerja diluar KBRI Kuala Lumpur.

Bekerja di instansi ini membuat saya melihat lebih jelas segala
ketidakadilan yang dialami oleh WNI.
Walaupun demikian, saya berusaha membuat perbedaan dengan apa yang saya
lihat dari nasib orang-orang Indonesia yang berada di penampungan dan yang
mendapat kesuksesan mencari nafkah di Malaysia.

Nyatanya, begitu saya menginjakkan kaki keluar dari KBRI Kuala Lumpur,
hinaan dan tawaan yang bernada merendahkan justru seringkali saya alami
sebagai seorang warga negara Indonesia.

Kami bukan 'Indon' .
Kami Indonesia.
Saya rasa hal ini cukup simple dan mudah dimengerti oleh bangsa yang
sangat maju seperti Malaysia.
Saya lelah dihina dan ditertawakan.
Ingin sekali saya berteriak sampai menggema ke seluruh penjuru Malaysia
bahwa dengan bangga dan rasa cinta saya mengungkapkan, 'Saya adalah
warganegara Indonesia' .

Penulis:

Galuh Pangestu Indraswari,
Staf Lokal Bagian Pendidikan
KBRI Malaysia
Mobile phone: +60169613071
Office: +60-03-21164121
Fax: +60-03-21445528
----------







      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke