Siang..

just info.. tp jjr, aku ga' setuju klu hanya orang Jawa tidak kenal konsep
ruang makan [deskriminasi amat sih ??] krn kebanyakan, di Indonesia memang
tidak mengenal konsep ruang makan secara khusus.

Klu masalah tata krama makan atau table manner, memang paling enak makan
pake' tangan. hehehhe.. lebih enak aja.
Klu masalah kaki diangkat ke kursi [klu orang jawa bilang : Jegrang],
sepertinya sdh lumrah banget.. coba lihat disetiap warteg / makan lesehan..

heheh... itulah uniknya negri ku, kawan..  ^_^

Mega
===============================================
Oleh ANDREAS MARYOTO
==========================
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/14/humaniora/4079692.htm
==========================

Bila kita berkunjung ke rumah orang Jawa, jangan kaget kalau di ruang makan
bisa ditemukan sepeda motor, jemuran baju, dan juga tumpukan gabah. Secara
umum, konsep ruang makan tidak ada di kalangan orang Jawa. Arsitektur rumah
lama di Jawa tidak menyediakan tempat khusus untuk ruang makan. Ruang tamu,
ruang untuk makan, dan ruang untuk keluarga bercampur.

Kultur agraris memperlihatkan makan pagi dilaksanakan di sawah atau ladang.
Para petani harus sudah keluar dari rumah sebelum matahari menyengat.
Akibatnya, mereka tidak bisa makan pagi di rumah. Setidaknya pengamatan
Thomas Stamford Raffles dalam History of Java (1817) juga menyebutkan hal
seperti itu. Bahkan pengamatan Augusta de Wit yang datang pada 1890-an dalam
Java: Facts and Fancies menyebutkan, orang Jawa makan pagi di sungai setelah
mandi.

Ahli kebudayaan Jawa dari Universitas Negeri Semarang, Teguh Supriyanto,
mengatakan, orang Jawa memang tidak mengenal ruang makan. Kebiasaan agraris
menjadikan orang Jawa tidak memerlukan ruang makan secara khusus. Makan
siang pun kadang dilakukan di sawah.

Kebiasaan makan di sawah atau kebun mengakibatkan sikap tubuh saat makan di
rumah pun persis seperti di sawah. Duduk dengan jegang (kaki naik), duduk
bersila, sambil makan tanpa sendok mudah terlihat, bahkan hingga sekarang
sekalipun.

Rumah tanpa ruang makan ini masih bisa ditemui di beberapa tempat seperti di
Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Arsitektur rumah tidak menyediakan ruang
makan secara khusus. Bahkan, meja untuk menaruh makanan pun kadang tidak
ada. Keluarga yang mau mengambil nasi ataupun sayur dan lauk mengambil
langsung di dapur. Setelah itu, mereka makan di sembarang tempat.

Pergeseran mulai terjadi di keluarga-keluarga yang tinggal di kota
kecamatan. Mereka sudah mulai memiliki ruang makan tetapi masih bercampur
dengan dapur. Kedua ruangan ini tidak ada sekatnya. Mereka masih menaruh
berbagai benda, seperti sepeda motor, jemuran pakaian, dan gabah, di ruangan
itu. Keadaan ini bisa ditemukan di sebuah keluarga di Kecamatan Ponjong,
Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Makanan kadang tersedia di meja makan, tetapi ini pun dilakukan bila ada
tamu. Bila tidak ada tamu, anggota keluarga tetap saja mengambil makanan
langsung dari perapian atau dapur. Setelah itu, mereka tetap saja makan di
sembarang tempat, mulai dari ruang tamu hingga dapur. Posisi badan bisa
duduk di kursi, amben, dan lantai.

Bila ada tamu, kadang mereka menemani makan. Namun tidak sedikit si empunya
rumah tidak menemani makan para tamu. Bagi para tamu yang terbiasa dengan
kehangatan di meja makan, hal ini kadang membuat canggung. Bagaimana mungkin
saat tamu makan tetapi tuan rumah malah tidak makan? Bagi orang Jawa
sendiri, hal ini untuk menghormati tetamunya, tetapi belum tentu diterima
oleh tamunya. Masih lumayan tuan rumah mau menemani sambil mengobrol meski
dia tidak makan.

Berikutnya kita bisa menemukan rumah yang memiliki ruang makan yang tidak
tergabung dengan dapur. Akan tetapi, ruang makan ini seadanya saja. Ada meja
makan dan ditata layaknya ruang untuk makan. Meja hanya berfungsi untuk
meletakkan makanan. Berbagai peralatan ada di meja makan, tetapi terkesan
seadanya.

Ruang makan berikutnya berada di keluarga yang secara serius merancang ruang
makan ketika rumahnya dibangun. Di ruang makan terdapat berbagai peralatan
dan dilengkapi berbagai atribut, seperti telapak meja dan satu set alat
makan. Alat makan seperti garpu sudah digunakan setiap kali makan.

Di kota besar, ruang makan kadang terbuka dan tanpa sekat dengan dapur dan
ruang tamu. Mereka yang duduk di ruang tamu bisa melihat meja makan dan
isinya. Perubahan ini sangat mungkin terkait dengan minimnya tanah, tetapi
bisa juga karena perubahan gaya hidup. Mereka makin terbuka. Di sisi lain
mereka ingin menampilkan gaya hidup terbaru. Mereka ingin menunjukkan
pilihan desain ruangan dan menu makanan yang sesuai dengan gaya yang paling
baru. Identitas mereka juga ingin ditunjukkan melalui penataan ruang makan.

Meski banyak orang Jawa telah memiliki ruang makan dan mengetahui tata sopan
santun makan, tetap saja sikap-sikap orang agraris masih melekat. Meski
mereka makan di meja makan dengan berbagai peralatan, tetap saja ada
kerinduan untuk makan di tempat yang "bebas" seperti warung kaki lima.
Mereka juga kadang ingin makan dengan tangan langsung alias tanpa sendok.
Mereka juga mengunjungi rumah makan tradisional yang kadang tak memerlukan
sikap badan yang penuh dengan sopan santun.

Masih melekatnya sifat-sifat agraris dalam hal makan dan pemahaman
keberadaan ruang makan hingga sekarang sebenarnya merupakan perjalanan
panjang orang Jawa dari sekadar makan untuk mengisi perut hingga mereka
mengenal tata cara makan dan ruang makan.

Pengenalan itu hingga sekarang belum selesai. Sikap-sikap tubuh dalam makan
masih saja menunjukkan kebiasaan makan masyarakat agraris. Tidak sedikit
yang merasa ruang makan juga masih terasa asing. Ruang makan masih dianggap
pelengkap sebuah rumah atau sekadar ruangan yang bermeja untuk menaruh
makanan.

Pengenalan orang Jawa mengenai konsep ruang makan sangat mungkin terkait
dengan keberadaan orang Belanda di Nusantara. Keluarga-keluarga Belanda
mempekerjakan penduduk setempat untuk menjadi pembantu. Para pembantu inilah
kemudian mengenal berbagai jenis makanan orang Belanda, tata cara makan, dan
ruang makan.

Akan tetapi, pengenalan yang lebih masif terjadi sekitar abad ke-19 saat
Belanda memberi kesempatan bagi penduduk untuk mulai masuk dalam sejumlah
kehidupan orang Belanda, seperti menjadi pejabat dan kesempatan bersekolah.
Analisa pengenalan kebudayaan Belanda ini setidaknya terdapat dalam buku
Dutch Culture Overseas karya Frances Gouda. Penduduk pribumi kemudian
mengenal gaya hidup orang Belanda. Pola-pola peniruan gaya hidup ini merasuk
hingga soal kebutuhan ruang makan dan juga menu yang ditampilkan.

"Konsep ruang makan dan tata cara makan memang dipengaruhi oleh Belanda,"
kata Teguh. Sejak saat itu, orang Jawa mengenal ruang makan. Meski demikian,
orang Jawa tetap tidak mudah untuk akrab dengan ruang makan. Di keluarga
modern pun kadang kaki bisa diangkat ke kursi saat makan. Ruang makan masih
menjadi ruangan yang asing bagi orang Jawa.

Kirim email ke