Siang..

Eyang putri temans ku cerita seperti dibawah ini.. dan membuatku berfikir,
ada benarnya juga apa yang dikatakannya..

Semoga bermanfaat..

Mega
======================================================

*Pikiran adalah Permukaan Hati*

JANGAN pernah berkata benci, kotor, atau berpikir busuk. Itu nasihat nenek
saya. "Nanti, kalau ada setan lewat, bisa terjadi sungguhan," katanya. Saya
cuma mesem, cenderung menyepelekan petuah itu. Maklum, di mata saya, orang
sepuh itu suka berpikir aneh, termasuk yang tidak masuk akal.

Pokoknya, ucapan Nenek yang membawa nama setan, jin, dan malaikat saya
ibaratkan angin lalu. Tak perlu digubris. "Ya, sudah, kalau tak percaya,"
katanya. Esoknya, petuah serupa diulang lagi, dan diulang lagi, walau sang
cucu selalu menertawakannya.

Belakangan, "pelajaran" dari Nenek itu ada benarnya, walau tidak mutlak
karena menyertakan setan, jin, dan malaikat sebagai penyebab. Tampaknya,
Nenek yang buta huruf dan tak mau memaksakan kehendak itu lebih memahami
hidup. Memang, makin berakal seseorang, makin mudah ia memahami alasan orang
lain.

Ternyata, pikiran manusia itu bisa "disetel" sesuai dengan daya kehendak.
Mengumpat disertai kutukan bisa mewujud nyata jika dilakukan serius. Yang
merampas daya itu adalah keraguan. Keraguan merampas keberanian, harapan,
dan optimisme. Berpikir busuk, misalnya, bisa melecut ketidakserasian.
Berpikir buruk itu hanya menyengsarakan diri. Membuat suasana jadi muram.

Pernah, suatu ketika, famili saya rekreasi ke Baturaden, Purwokerto, Jawa
Tengah. Usai menghirup udara segar pegunungan, mereka kembali ke kota.
Jalanan menurun. Tiba-tiba, di balik setir mobil terlintas pikiran
negatifnya: "Belasan tahun saya membawa mobil tapi belum pernah merasakan
rem blong!"

Belum sampai 10 menit otaknya berpikir rem blong, rem yang diinjaknya jebol
sungguhan. Kendaraan meluncur deras. Syukurlah, dia tidak panik. Tahap demi
tahap gigi persneling dipindahkan ke gigi kecil. Begitu terkendalikan, mobil
dipinggirkan dan rem tangan ditarik. Ia menghela napas panjang.

"Kok, berhenti," tanya istrinya. ''Lha, wong remnya blong," katanya.
''Kok, tidak bilang-bilang?" tanyanya lagi. Tentu saja tak perlu dijawab.
Sebab, jika fakta itu disampaikan, kepanikan dijamin akan menular ke seluruh
penumpang. "Tuhan masih melindungi kita," ujar dia.

Sebaliknya, pikiran yang positif dapat menghasilkan sesuatu yang sangat
mengagumkan. Ia dapat menguasai materi, objek, dan urusan. "Ia bahkan dapat
bekerja dengan sangat mengagumkan, yang orang tak dapat menjelaskannya,"
tulis Hazrat Inayat Khan.

Pikiran dan perasaan manusia itu memiliki getaran kekuatan. Ketenangan dan
kedamaian hati seorang pawang, misalnya, mampu menjinakkan singa liar.
Pikiran singa itu "terpengaruh" oleh si pawang yang cinta damai. Begitu pula
dalam arena adu gajah di India. Daya pikir ribuan penonton menghendaki agar
hewan itu berkelahi. Keinginan itu direfleksikan pada hewan hingga
menimbulkan kekuatan --sekaligus hasrat untuk berkelahi.

Ada pula penjinak ular yang bertugas "membujuk" binatang melata itu keluar
dari sarangnya, tanpa musik. Pikiran penjinak yang direfleksikan pada ular
itulah yang menarik ular keluar dari persembunyian. Ada orang yang mengusir
lalat dengan merefleksikan pikirannya pada makhluk kecil tersebut. Kekuatan
yang mempengaruhi pikiran serangga itu merupakan bukti adanya daya, bukan
keistimewaan.

Ada pula kuda yang mampu memecahkan soal matematika rumit. Jawaban itu
merupakan refleksi pikiran pelatihnya yang diproyeksikan pada pikiran kuda.
Dalam proses mediumistik, suatu gagasan matematika diproyeksikan pada
pikiran kuda. Daya proyeksi dapat ditingkatkan dengan peningkatan daya
kehendak, pemikiran, atau perasaan. Inilah rahasia terbesar kehidupan.

Bila pikiran tak jelas, misalnya, terganggu atau terlalu aktif, maka pikiran
tidak dapat mengantar refleksi secara utuh. Pikiran dapat diibaratkan danau.
Jika angin bertiup dan air beriak, maka refleksinya menjadi tidak jelas.
Sebaliknya, jika berair tenang, bisa merefleksikan dengan jelas.

Pikiran adalah permukaan hati, dan hati adalah kedalaman pikiran. Apa yang
datang dari dalam menyentuh kedalaman, dan yang di permukaan hanya berada di
permukaan. Maka, jangan heran jika dua jiwa yang berhati penuh kasih dan
berperasaan halus bisa berkomunikasi melalui pikiran dan perasaan. Jarak
bukan halangan.

Maka, si Binu yang lama tak bersua, misalnya, tiba-tiba menelepon atau
muncul di depan mata hanya karena "terpikirkan" oleh teman karibnya.
Kebetulan? Tidak! Di dunia ini tak ada sesuatu yang bersifat kebetulan.
Seluruh perilaku pikiran mempengaruhi urusan hidup.

Daya pikir memang punya efek yang dahsyat. Pikiran yang panas membuat "api"
di sekitarnya, hingga orang-orang di dekatnya terbakar oleh "api" tersebut.
Sebaliknya, pikiran yang tenang dan damai memberi kesejukan pada orang-orang
yang berada dalam ruang lingkupnya.

Tentu, semua refleksi ini bukan karena ada setan atau malaikat lewat. Di
dunia ini, tiada suatu yang tanpa makna. Juga bukan kebetulan. Tidak sebutir
atom pun yang terlepas dari liputan dan rencana Allah. Hanya karena kita tak
memahami kehidupan di dunia ini, maka kita berada dalam kegelapan.

"Sesungguhnya, di antara ilmu itu ada yang laksana mutiara tersembunyi, ia
tidak diketahui kecuali hanya oleh orang-orang yang mengenal Allah," kata
Nabi Muhammad SAW. (disarikan dari Gatra-WY)

SUMBER : Internet

Kirim email ke