Tergelitik dengan daftar orang terkaya di Indonesia, berikut sebuah tulisan 
dari Bp Ahmad Syafii Maarif yang menarik untuk dibaca. Mohon maaf bagi yang 
sudah pernah membacanya :

Oh Lumpur, Oh Lapindo 

Oleh : Ahmad Syafii Maarif 

Negeri ini adalah sebuah negeri yang sulit dipahami, negeri yang sarat dengan 
teka-teki. Antara kata dan laku semakin berjarak jauh. Saya sampai pada 
kesimpulan yang ekstrem, apa boleh buat. Bunyinya: sejak proklamasi tidak ada 
satu pemerintah pun yang prorakyat, kecuali dalam retorika. Akibatnya berjibun. 
Contoh yang keras pun saban hari diberitakan. Anak SD yang gantung diri karena 
tak mampu bayar SPP dalam jumlah kecil sekalipun, karena dililit kemiskinan. 
Kekerasan dalam rumah tangga, pelacuran, kriminal yang semakin marak, dan 1001 
kasus lain, penyebab utamanya adalah kemiskinan. Tentu pasti ada sebab-sebab 
lain, tetapi tidak signifikan. Sejak bangsa ini merdeka, semua kepala 
negara/kepala pemerintahan beragama Islam. Tetapi, hampir tidak ada korelasi 
signifikan antara agama yang dianut yang sangat proorang miskin dengan upaya 
untuk mengusir kemiskinan.

Lembaga zakat, infak, sedekah, dan lain-lain tidak lebih dari riak-riak kecil 
yang tidak mungkin menjadi gelombang besar untuk menghalau kemiskinan sampai 
batas-batas yang jauh. Sementara itu, kekayaan bumi nusantara sudah semakin 
terkuras oleh kerakusan yang tidak mengenal batas. Hutan sudah sekitar dua per 
tiga hancur, namun kongkalingkong antara aparat dan pengrusak tetap saja 
menggurita. Begitu juga mental sebagian pengusaha adalah mental garong. Hati 
nurani dibiarkan tiarap, kepekaan batin sirna entah ke mana.

Sudah lebih setahun, kita dihadapkan pada bencana Lapindo yang tak kunjung 
selesai, sementara penderitaan korbannya sudah sampai di batas toleransi. 
Pemerintah Jatim dan organisasi kemasyarakatan seperti tidak punya nyali untuk 
turut mencarikan jalan ke luar dari bencana ini. Ada seniman yang jual tampang 
ke sana, tetapi hanya untuk menambah heboh. Penderitaan tidak semakin 
berkurang. Presiden pun pernah datang ke lokasi, tetapi hasilnya sami mawon. 
Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk bencana Lapindo ini? Perusahaan, 
pemerintah, atau tidak seorang pun?

Ada seorang pakar domestik mengatakan bahwa lumpur Lapindo dapat disumbat 
dengan biaya 50 juta dolar AS, tetapi responsnya hanyalah keheningan. Lalu 
masalah ganti rugi. Pengungsi di Pasar Baru Porong sudah lama minta ganti rugi 
sebesar Rp 250 miliar, tetapi selalu dijawab dana tidak ada, padahal kata koran 
dana itu melimpah. Jika demikian, apa sebenarnya yang berlaku? 

Jawaban saya tinggal mengulangi pernyataan di atas: hati nurani sudah lama 
tidak berfungsi. Inilah pangkal dari segala kehitaman dan salah tingkah di 
negeri ini. Mumpungisme, mental menerabas, tak hirau dengan penderitaan rakyat 
kecil, semuanya berhulu dari kelumpuhan nurani. Untuk Lapindo, sahabat saya 
Salahuddin Wahid, sudah berteriak, tapi siapa yang mau mendengar? Bidal: "Masuk 
telinga kanan, ke luar telinga kiri" sudah sangat kuno. Yang modern adalah: 
"Masuk telinga kanan, ke luar telinga kanan.

" Masih berapa lama lagi wong cilik ini dibiarkan "bergantung tidak bertali, 
naik tidak berjenjang?" Kita telah mengusir penjajahan yang anti-wong cilik, 
tetapi politik itu kita langgengkan tanpa rasa dosa, tanpa rasa dusta. "Bangsa 
ini telah kehilangan karakter dan jati diri yang paling dasar," begitulah saya 
simpulkan dari keprihatinan Jenderal Soemarno Soedarsono dari Yayasan Jati Diri 
Bangsa, seorang sahabat lain dalam kesepuhan.

Kirim email ke