Selamat pagi....

Maaf, pagi-pagi udah ngasih berita yg ngga' OK.....

Jimin


=============================================================
Jumat, 18 Jan 2008,
Giliran Solo Rusuh 


Legiun Asing Jadi Pemicu
SOLO - Sepak bola Indonesia berada pada titik terpuruk. Tak hanya miskin 
prestasi, tapi juga berubah menjadi panggung anarkis. Lapangan sepak bola yang 
seharusnya menjunjung sikap sportivitas, menjadi arena pamer adu fisik. 

Kemarin giliran Solo yang dilanda kekerasan. Pertandingan Persik Kediri versus 
Persija Jakarta yang digelar Grup B 8 Besar Liga Djarum Indonesia diwarnai 
perkelahian pemain. Suguhan ini membuat kita semakin prihatin. Sebab, sehari 
sebelumnya kerusuhan juga mewarnai partai Arema versus Persiwa di Kediri. 
Bahkan, partai di Kediri itu, salah satu hakim garis terkapar pingsan akibat 
dipukul suporter. 

Dalam kerusuhan di Stadion Manahan kemarin, pemain Persija dan Persik terlibat 
tawuran. Sejumlah pemain tidak mampu menahan emosi. Pertandingan itu sendiri 
berlangsung sangat menarik. Kedua tim silih berganti menyerang dan berakhir 
imbang, 2-2.

Yang tragis, pemain dan pelatih asing yang diharapkan menjadi anutan sikap 
profesionalisme justru menjadi pemicu kerusuhan. Bahkan, mereka yang memancing 
perkelahian antarpemain itu.

Kerusuhan bermula ketika penyerang Persik Christian Gonzalez yang berasal dari 
Uruguay menciptakan gol kedua yang menyamakan kedudukan menit ke-81. Versi 
Persija, gol itu tak sah karena sebelum gol Christian dianggap mendorong 
stopper Persija Abanda Herman (Kamerun). Tapi, wasit menilai tak ada 
pelanggaran. 

Kubu Persija langsung protes. Mereka tak menerima. Kiper Persija asal Moldova 
Evgheny Khmaruk mengejar wasit Mukhlis Ali Fatoni. Dia terlihat ingin melakukan 
kekerasan fisik terhadap pemain. Untung beberapa pemain masih waras. Kapten 
Persija Bambang Pamungkas berusaha meredam teman-temannya. 

Pelatih Persija asal Moldova Sergei Dubrovin ikut emosional. Bahkan, dia 
ikut-ikutan mengejar wasit. Sergei memukul punggung asisten wasit I Udin 
Sumarsyah.

Tak hanya bertindak kasar, mantan pelatih PSSI U-23 itu juga mengajak para 
pemain mogok. Permintaan itu direspons para pemain. Terhitung sepuluh menit 
Bambang Pamungkas dkk berada di tepi lapangan untuk melakukan aksi mogok.

Setelah sejumlah pihak melobi, Persija akhirnya bersedia melanjutkan 
pertandingan. 

Melihat sikap tidak etis Dubrovin itu, Komdis menjatuhi hukuman larangan 
berkecimpung di Indonesia selama dua tahun. Pelatih asal Moldova tersebut juga 
diharuskan membayar denda Rp 50 juta. "Sergei terbukti telah menganiaya 
perangkat pertandingan. Karena itu, dia kami jerat pasal 101 ayat 6 kode 
disiplin PSSI," kata Hinca Panjaitan, ketua komdis, tadi malam.

"Keputusan kami yang menghukum Sergei selama 24 bulan tidak boleh berkecimpung 
di sepak bola Indonesia berlaku mulai malam ini (tadi malam, Red)," imbuhnya.

Yang disyangkan Hinca, sebagai pelatih asing seharusnya Dubrovin menjadi 
teladan bagi pelatih dan pemain lokal. "Sudah seharusnya dia memberi contoh 
akan sportivitas," ujar Hinca.

"Kalau Sergei mau banding silakan. Yang jelas ini keputusan yang telah kami 
keluarkan. Dia harus menjalankan hukuman ini," tambahnya. 

Untuk pemain yang terlibat, hingga dini hari tadi komdis masih menggelar 
sidang. Komdis bakal mengorek keterangan dari tiga pemain Persija; Abanda 
Herman, Hamka Hamzah, dan Evgheny Khmaruk. Komdis juga bakal memintai 
keterangan Gonzalez. "Malam ini (tadi malam, Red) kami akan bertemu dengan 
mereka di hotel," tutur Hinca.

Pemanggilan keempat pemain tersebut lantaran mereka dianggap sebagai pelaku 
utama kekisruhan antarpemain di akhir pertai Persik lawan Persija. Keempat 
pemain tersebut dinilai memulai ketegangan dengan saling dorong, tendang, dan 
hujat. 

Usai pertandingan, pemain Persija dan Persik melanjutkan perkelahiannya. Abanda 
Herman dan Gonzales terlibat saling menendang begitu wasit meniup peluit 
panjang. Situasi itu langsung memancing emosi pemain lain. Kiper Evgheny 
Khmaruk juga langsung berlari ke tengah lapangan. 

Khmaruk memegang leher Gonzalez. Situasi ini membuat suasana semakin kecau 
karena kedua kubu emosi. Sejumlah pemain Persik ingin membela Gonzalez. Hamka 
Hamzah, stopper Persija, membuat suasana semakin panas karena dia juga mengejar 
Gonzalez. 

Akhir pertandingan benar-benar ricuh. Saat kedua pemain digiring masuk lorong 
stadion pun, masih terjadi keributan. Gonzalez masih ribut dengan para ofisial 
dan pemain Persija. Manajer Persija Haryanto Bajuri ikut-ikutan panas. Hamka 
Hamzah kembali mengejar Gonzalez. Untungnya, pertandingan itu berlangsung di 
tempat netral, Kota Solo. Tak bisa dibayangkan bila berlangsung di kandang 
salah satu tim yang berpotensi rusuh lebih besar. (fim/tof) 


Attachment: 1200596939b
Description: Binary data

Kirim email ke