kalo para normal ada terlihat di daerah RSPP gak????

On 1/18/08, tresia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>      *   muhammad al aula <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  ------------------------------
>
> _,_._,___
> Republika, Rabu, 09 Januari 2008
>
> *Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto*
>
> Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat
> Pertamina (RSPP),
> begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak
> Jumat (4/1) pukul
> 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis,
> mantan
> pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto
> menempati
> Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung
> belum banyak.
>
> Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo
> Arismunandar, Prabowo
> Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang
> hingga malam, lobi
> Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil
> mewah. Hari itu,
> memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak
> Harto menurun,
> bahkan sempat kritis.
>
> Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan
> bunga langsung
> diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi
> seluas dua kali
> lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan
> bunga itu
> dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian
> besar terlihat
> sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak
> dan elektronik
> tumplek blek di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad,
> jumlahnya 70-an
> orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop
> kembali,
> jumlahnya mencapai di atas 100.
>
> Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka
> juga nongkrong
> dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga
> ruang UGD.
> Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang
> lewat jalan
> belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi
> eksklusif.
>
> Camelia Malik, Bustanul Arifin (maksudnya bustan-i-l
> arifin,
> purnawirawan militer, mantan menkop dan kepala bulog;
> bustan-U-l
> arifin adalah nama dosen Unila, peneliti INDEF),
> Moerdiono, dan
> Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola
> berbeda. Camelia
> Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat
> pintu belakang.
> Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang
> lewat belakang,
> dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin
> yang selalu
> lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang,
> dekat kantin.
>
> Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak
> kunjung surut.
> Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya
> dilakukan pagi.
> Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari.
> Padahal, laporan
> harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin
> atau sudah
> menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di
> depan lobi,
> langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar,
> tentu mudah
> dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.
>
> Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri.
> Peliput kebanyakan
> wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an
> atau awal 1980-
> an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat
> saat para wartawan
> masih berseragam merah putih atau putih biru. Di
> situlah serunya.
> Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang
> bertampang
> pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak,
> wartawan bergerak
> merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret,
> reporter sudah
> menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan
> pertanyaan sudah
> disiapkan.
>
> Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil,
> jreeengggg, tak seorang
> pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan
> melongo, menoleh ke
> kiri dan kanan.
>
> ''Sapa tuh?''
>
> ''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.
>
> ''Kenal gak?''
>
> ''Nggak tuh. Menteri kali?''
>
> Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para
> reporter langsung
> memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''
>
> ''Mau jenguk Pak Harto, ya?''
>
> ''Pak, dulu jabatannya apa?''
>
> Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum.
> Begitu pula wartawan
> yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.
>
> Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri
> pertambangan dulu
> deh. Wajahnya sih mirip Pak Sadli.''
> ''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan
> lain.
>
> ''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin,
> mantan menteri
> koperasi.''
>
> Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah?
> Bustanul
> siapa?''
>
> Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang,
> saat seseorang
> turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk
> Pak Harto,
> Pak?'' Dia menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara,
> para wartawan
> kembali saling pandang, ''Siapa tadi ya?''
>
> Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya
> kisah unik.
> Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para
> wartawan langsung
> merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama
> bertulis Anthony
> terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan
> bergumam, ''Wah,
> jangan-jangan dari Anthony Salim.''
> Kendati belum pasti, seorang wartawan yang
> mendengarnya langsung
> membuat pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari
> Anthony Salim.''
> Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah
> bertanya, ''Siapa tuh
> Anthony Salim?''
>
> Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat
> kurir susah payah
> mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi
> bertanya, ''Karangan
> bunga dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab
> sekenanya, ''Tidak tahu,
> Mas. Katanya sih dari Fuad Hassan.''
>
> Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad
> Hassan ngirim
> karangan bunga, tuh.''
>
> Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali
> lu.''
>
> Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang
> sendiri.''
>
> Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad
> Hassan udah
>
> meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?''
>
> Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan
> darah dengan
> Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan
> diberondong
> pertanyaan. ''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''
>
> ''Sudah bisa berkomunikasi? ''
>
> ''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''
>
> ''Anak-anaknya lengkap Pak?''
>
> ''Ada Tommy, Pak?''
>
> Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah
> ajudannya itu sempat
> bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi,
> berondongan
> pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil.
> Seorang polisi geleng-
> geleng kepala melihat kejadian itu. ''Busyet dah,
> wartawan. Tega
> bener. Udah liat jalan gitu masih aja ditanya. Untung
> gak pingsan,''
> katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga wartawan,
> Pak.
>
>  
>

Kirim email ke