miris bgt ya!



'Nasi Akingnya Belum Matang Nak'


Kamis siang (24/1), Ardi (8 tahun) terlihat meringis menahan perih di sudut 
dapur rumahnya, di RT 01/RW 5, Desa Moro, Kec Bonang, Kab Demak, Jawa Tengah. 
Dia menahan lapar. Sejak berangkat sekolah sampai pulang sekolah, belum sebutir 
nasi pun mengisi lambungnya. Sambil mengelus perutnya yang keroncongan, murid 
kelas dua SD Negeri Moro ini memelas kepada ibunya, Supiyah (41), yang sedang 
sibuk mencuci nasi aking: ''Piye Mak. Isih suwe, ra? Wetengku wis pereh ki.

(Bagaimana Bu, masih lama tidak? Perutku sudah perih nih).'' Karena nasi aking 
atau kerak nasi yang dikeringkan itu tak bisa cepat terhidang untuk 
mengenyangkannya, Supiyah hanya bisa meminta anaknya bersabar. ''Sabar yo Le. 
Ditinggal dolanan wae kono (Sabar ya Nak. Ditinggal main dulu [sambil menunggu 
nasinya masak]),'' katanya.

Nasi aking atau nasi daur ulang yang sedang dicuci Supiyah, masih harus 
dikukus. Waktu yang dibutuhkan sekitar tiga perempat jam. Itu baru nasinya. 
Belum menyiapkan lauk ikan asin. Tinggallah Ardi, anak ketiganya, yang untuk 
makan nasi aking pun harus ekstra sabar.

Nasi aking menjadi menu warga Dese Moro sejak laut utara Jawa dilanda gelombang 
pasang, awal Januari 2008. Sudah lebih dari dua pekan, para nelayan tak berani 
lagi melaut, termasuk suami Supiyah, Ahmadi (40). Karena tak lagi turun ke 
laut, pemasukan pun tak ada lagi.

Keadaan kian mengimpit karena harga kebutuhan pokok pun melambung. Baik itu 
beras, terigu, minyak goreng, maupun tahu-tempe. Sudah begitu, minyak tanah 
yang biasa dijadikan campuran bahan bakar kapal para nelayan, juga ikut-ikutan 
menghilang dan harganya meroket.

Mau melaut minyak tanah mahal. Tak melaut tak dapat uang untuk menyambung 
hidup. Seperti buah simalakama. Alhasil, mereka hanya bisa memperlambat 
keterpurukan dengan mengonsumsi nasi aking. ''Terpaksa [makan nasi aking], 
karena kami paceklik sudah dua minggu lebih,'' kata Supiyah kepada Republika, 
pekan lalu.

Harus dihemat
Meski menu makannya sudah menjadi nasi aking, mereka tetap harus membatasi 
konsumsinya. Supiyah dan keluarga hanya bisa makan dua kali sehari, siang dan 
malam. Tak ada lagi sarapan --bahkan dengan nasi aking sekalipun. Uang jajan 
untuk Ardi pun terpaksa dihapus dari daftar. Soal alasan menghemat nasi aking 
itu, Supiyah berujar, ''Siapa yang tahu Mas, kalau persoalannya (paceklik 
--Red) berlangsung panjang dan tak memberi kesempatan untuk menghindar.''

Di wilayah RT 1/RW 5, sedikitnya ada 80 kepala keluarga (KK) yang terpaksa 
bermenu nasi aking. Seorang tetangga Supiyah, Mauzah (39), bahkan bernasib 
lebih mengenaskan. Untuk mendapatkan nasi aking, dia terpaksa meminta kepada 
tetangganya, karena persediaannya habis. Mauzah beruntung karena 
tetangga-tetangganya mau mengulurkan bantuan. ''Sesama nelayan masih memiliki 
sikap sosial yang tinggi. Sehingga, gampang mengulurkan bantuan,'' katanya, 
bersyukur.

Karena berbarengan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, dampak paceklik tahun 
ini dinilai warga Moro sebagai yang paling parah dibanding paceklik yang pernah 
terjadi sebelumnya. ''Bisa makan nasi aking saja sudah sangat beruntung,'' kata 
Mauzah.

Faizin (50), salah seorang nelayan di Moro mengatakan karena gelombang tinggi 
dan mahalnya harga bahan bakar, para nelayan terpaksa mencari ikan di pinggir 
laut. Tentu saja hasilnya tak maksimal. Dan bukan hanya asap dapur yang tak 
mengepul, cicilan utang pun berhenti dibayar.

Agar tak terus ditagih, sebagian nelayan yang memiliki utang terpaksa menjual 
atau menggadaikan perabot rumah tangganya. Misalnya televisi, radio-tape, dan 
barang elektronik lainnya. ''Saat ini nasib nelayan di Moro pada umumnya sangat 
memprihatinkan,'' kata Faizin.

Soal berkurangnya minyak tanah, Abdul Ghani (58), salah seorang pemilik 
pangkalan minyak tanah di Moro mengatakan jatah untuk pangkalannya sudah 
dikurangi dua pekan terakhir. Dia tidak menjelaskan alasannya. Jika biasanya 
dipasok tiga kali per pekan, kini hanya sekali per pekan.

Agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya, Abdul Ghani terpaksa mencari 
pasokan minyak tanah dari Semarang. Karena ada 'tambahan jasa dan 
transportasi', Abdul Ghani mengaku terpaksa menaikkan harga minyak tanah dari 
Rp 2.800 per liter menjadi Rp 3.300 per liter.

Sekretaris Desa Moro, Maskani (40), mengatakan dari 1.168 kepala keluarga (KK) 
di Moro, 250 KK (21,4 persen) di antaranya mengonsumsi nasi aking. Jumlah jiwa 
yang mendiami Moro, kata Maskani, saat ini 6.174 orang. Sebanyak 1.499 jiwa di 
antaranya adalah nelayan dan keluarganya.

''Wilayah paceklik yang paling parah adalah RW 1. Setidaknya ada 80 KK warganya 
yang mengalami dampaknya. Sisanya tersebar di empat RW lainnya,'' kata Maskani 
kepada Republika, beberapa waktu lalu. Maskani mengatakan saat ini warga yang 
mengalami paceklik sangat membutuhkan bantuan pangan. Aparat Desa Moro telah 
meminta bantuan kepada pihak kecamatan. Dia berharap permohonan itu bisa segera 
diteruskan ke Pemkab Demak.

Jika sampai pekan ini tak ada bantuan, Maskani mengatakan, ''Bukan tidak 
mungkin akan menimbulkan bencana kemanusiaan, seperti kelaparan.''

(owo )
http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=321778&kat_id=3


--------------------------------------------------------------------------------
Dapatkan informasi terkini, terupdate, berimbang dan bertanggung jawab dari 
seluruh informasi di Indonesia di milis : 
[EMAIL PROTECTED] & [EMAIL PROTECTED]  
--------------------------------------------------------------------------------


 

Kirim email ke