>
> Tempo Edisi. 03/XXIIIIIIII/ 23 - 29 Maret 1999
>
> Laporan Khusus
> *Buang Duit Gaya Dinasti Cendana*
>
>
> Trah Soeharto adalah kisah tentang rumah berjuta
> poundsterling di
> Inggris, reli mobil di Australia, perburuan di
> Selandia Baru,
> perjudian di Christmas Island, dan segunung tas
> belanja yang tak
> sempat dibuka.
>
> BEL itu berdentang nyaring. Sekian menit ditunggu,
> tak ada yang
> membukakan pintu rumah mewah di Winnington Road No.
> 8, Hampstead,
> London, itu. Padahal dua mobil mengkilat?VW
> Caravelle biru langit dan
> Honda Legend merah?terparkir di halaman depannya
> yang tak berpagar.
> Rumah bergaya Victorian itu jelas masih berpenghuni.
> Pekarangannya,
> yang berbatu paving, tertata rapi. Bunga berwarna
> kuning, biru, dan
> putih menghiasi tamannya yang asri lagi luas.
> Dindingnya, yang tak
> bersemen, didominasi warna merah bata, padu dengan
> warna putih dari
> kusen pintu dan daun jendela.
>
> Beberapa ratus meter dari situ?masih di jalan yang
> sama?berdiri sebuah
> bangunan yang jauh lebih mewah, mirip puri bangsawan
> Inggris tempo
> dulu. Nomor rumah berbalkon putih itu: 89. Luasnya
> dua kali lebih
> besar dari yang pertama. Menurut seorang sumber
> TEMPO, rumah itu
> adalah gedung yang dibangun baru. Setelah dibeli,
> bangunan semula
> dirobohkan. Di teras, terpampang tulisan "Hillcrest"
> dari logam
> keemasan. Tapi, di pojok kanan halaman depan kedua
> rumah itu, terlihat
> sebuah papan mencolok bertuliskan: "For
> Sale"?dijual. Di bawahnya
> tertera nama sebuah agen properti: John D. Wood &
> Co.
>
> Kedua rumah itu memang kerap menjadi gunjingan
> orang. Ini bukan cuma
> karena kemewahannya? Hampstead, yang terletak di
> daerah berbukit,
> adalah kawasan hunian paling prestisius di
> London?tapi juga karena
> pemiliknya bukan "orang sembarangan". Mereka adalah
> Sigit Harjojudanto
> dan istrinya, Elsje Ratnawati Harjojudanto, putra
> dan menantu mantan
> presiden Soeharto?yang lagi diperiksa karena kasus
> korupsi dan
> penyalahgunaan kekuasaan. Adalah Andrew Buncombe,
> wartawan harian
> terkemuka di Inggris, The Independent, yang pertama
> kali mengangkatnya
> ke permukaan. Tulisannya di edisi 16 Maret lalu,
> bertajuk Suhartos
> Sell Boltholes in UK for £ 11m ("Keluarga Soeharto
> Menjual Rumah
> Pelarian di Inggris Seharga 11 Juta Poundsterling"),
> menjadi bukti
> kesekian?dari setumpuk bukti yang sudah ada?betapa
> trah Soeharto
> menjalani kehidupan bak syekh padang pasir.
>
> Dalam laporan itu, Andrew Buncombe menggambarkan
> betapa "wah"-nya
> (dengan W besar) rumah keluarga Sigit itu: berlantai
> marmer, memiliki
> delapan kamar, lengkap dengan aula untuk jamuan
> makan. Menurut pemburu
> harta Soeharto, George Junus Aditjondro, sejak
> Januari lalu puri itu
> telah ditawarkan lewat agen John Wood & Co. Harganya
> selangit: £ 8
> juta, atau jika dihitung dengan kurs Rp 15 ribu, ya
> ampun, mencapai Rp
> 120 miliar! Koresponden BBC di Jakarta, Jonathan
> Head, menjelaskan
> kepada Prabandari dari TEMPO bahwa rumah itu memang
> luar biasa mewah.
> Dia membandingkannya dengan harga rata-rata rumah
> kelas menengah di
> Inggris, yang hanya £ 200 ribu atau cuma seperempat
> puluhnya! Rumah
> satu lagi, atas nama Sigit sendiri, juga telah
> ditawarkan seharga £
> 1,95 juta. Bangunan berlantai tiga dengan lima kamar
> tidur tersebut
> biasanya digunakan oleh para pembantu keluarga itu.
>
> Ada satu rumah lagi yang dibidik The Independent. .
> Di seberang Sungai
> Thames di 38-A Putney Hill, berdiri Norfolk House,
> kepunyaan saudara
> tiri Soeharto, Probosutedjo. Rumah itu berlantai
> tiga, plus sembilan
> kamar, garasi ganda, empat ruang resepsi, sebuah
> ruang biliar, dan
> pekarangan rumput yang luas. Menurut penelusuran
> George, bangunan itu
> semula dibeli Probo seharga £ 93 ribu. Tapi, sejak
> Januari lalu, lewat
> agen real estate Foxtons, Probo memasang tarif £ 1,4
> juta untuk
> melegonya.
>
> Ditemui TEMPO di kantornya di kawasan Chanary Wharf,
> London, Andrew
> yang pernah meliput Tim-Tim ini menyatakan sudah
> cukup lama mendengar
> kabar soal istana Cendana di negaranya itu. Cuma,
> konfirmasi amat
> sulit diperoleh. Baru pada musim panas lalu, sepekan
> sebelum berita
> itu diturunkan, kepastian datang dari HM Land
> Registry, semacam badan
> pencatatan kepemilikan properti. Ia menunjukkan
> keterangan "Swansea
> District Land Registry" bernomor NGL714482
> tertanggal 26 Juli 1994,
> yang jelas-jelas menerakan nama Elsje Harjojudanto
> sebagai pemiliknya.
>
> Temuan ini baru sebagian kecil. Menurut George, yang
> mengaku memasok
> informasi ke The Independent, ada beberapa properti
> Cendana lainnya di
> London. Cuma, karena properti itu belum dijual,
> ujung pangkalnya belum
> bisa dipastikan betul. Putri sulung Soeharto, Siti
> Hardiyanti Rukmana
> alias Tutut, kabarnya juga memiliki beberapa
> apartemen di 16 Hyde Park
> Square, Mayfair. Ia membelinya seharga £ 350 ribu.
> Dan untuk
> merenovasinya? dilaksanakan setelah krisis
> moneter?ia merogoh kocek
> sebesar £ 110 ribu.
>
> Di kawasan yang sama, tepatnya di 38 Upper Grosvenor
> Road, juga
> terdapat sejumlah apartemen luks milik Siti Hediyati
> "Titiek" Prabowo.
> Seorang sumber TEMPO di London mengungkapkan,
> apartemen itu pernah
> ditawarkan untuk disewa dengan tarif £ 8.000 atau
> sekitar Rp 120 juta
> per bulan. Sementara itu, adiknya, Hutomo Mandala
> Putra alias Tommy
> Soeharto, memiliki sebuah rumah besar lengkap dengan
> padang golf 18
> lubang di dekat Pacuan Kuda Ascot, London Utara, dan
> sebuah rumah
> peristirahatan di Brighton, kota pantai di selatan
> London.
>
> Di luar London, dari hasil perburuan George, dinasti
> itu juga
> diketahui memiliki berbagai rumah supermewah dan
> kondominium, yang
> bertebaran dari Jenewa, Hawaii, Beverly Hills-Los
> Angeles, Boston,
> sampai ke Cayman Islands di kawasan Laut Karibia
> (lihat infografik).
> Tommy juga disebut-sebut memiliki sebuah kawasan
> berburu seluas 2.500
> hektare di Selandia Baru. Area itu disebut-sebut
> teramat istimewa dan
> eksklusif. Satu-satunya cara untuk mencapai rumah
> peristirahatan di
> tengah hutan pinus yang mengelilinginya itu adalah
> dengan helikopter.
>
> Itu baru soal properti. Keluarga terkaya ke-74 di
> seantero jagat
> menurut ranking majalah Forbes?dengan total kekayaan
> US$ 4 miliar?itu
> juga terkenal gila-gilaan dalam urusan menghamburkan
> duit.
> Sampai-sampai ada yang mengibaratkan segampang
> menggelontorkan air.
> Seorang calon pembeli yang pernah mengunjungi rumah
> keluarga Sigit di
> London itu sempat terbengong-bengong. Ia cuma
> mendapati dua kamar
> kosong. Sisanya? Ternyata dipenuhi tumpukan tas
> belanja dari
> Selfridges yang bahkan, katanya, belum sempat
> dibuka. Sumber TEMPO di
> London yang dekat dengan keluarga itu terbahak,
> "Jangankan di London,
> di Jakarta saja mereka sering tidak sempat membuka
> barang yang telah
> dibeli." Luar biasa. Padahal Selfridges dan Harrods
> adalah pusat
> belanja kalangan jet set di London, yang terletak di
> Oxford Street
> yang kesohor itu.
>
> Keluarga ini juga gemar pamer mobil mentereng. Eno
> Sigit, salah
> seorang cucu Soeharto dari Sigit, semasa kuliah
> fashion di American
> College, London, selalu pulang pergi diantar Rolls
> Royce mengkilat.
> Tentu saja pengemudinya adalah seorang
> chauffeur?sopir pilihan dengan
> setelan jas dan topi hitam-hitam. The Independent
> juga melaporkan Eno
> pernah menggelar pesta di Hotel Hilton yang
> menghabiskan tak kurang
> dari £ 150 ribu atau sekitar Rp 2,25 miliar. Ia juga
> dikabarkan pernah
> mengganti telepon genggamnya dalam waktu sehari cuma
> karena ia tak
> suka dengan warnanya. Semasa itulah di kalangan
> mahasiswa Indonesia di
> sana sangat populer sebuah komentar nyinyir ke arah
> trah Cendana:
> "Ingin menikmati gaya hidup supermewah? Gampang.
> Jadilah anak dan cucu
> presiden."
>
> Dua orang sumber TEMPO yang pernah kuliah di Boston,
> Amerika Serikat,
> mengungkapkan lagak cucu Soeharto yang lain. Kali
> ini menyangkut
> putra-putri kesayangan Tutut, Dandy dan Danty
> Rukmana. Sewaktu mereka
> kuliah di sana, mulai tahun 1991, gaya hidup dua
> remaja baru gede ini
> luar biasa jumawa, bahkan untuk ukuran orang
> Amerika. Kedua sumber itu
> sering melihat Dandy dan Danty berseliweran di jalan
> dengan mobil
> mewahnya.
>
> Jenis kendaraan yang mereka koleksi pun bukan
> sembarang merek, tapi
> mobil dengan harga selangit, sebangsa Ferrari, Rolls
> Royce, dan
> Porsche. Menurut sumber itu, Dandy bahkan pernah
> membeli sebuah
> Lamborghini- Diablo seharga Rp 1 miliar. Buat warga
> kota kecil seperti
> Boston, gaya hidup mereka amat mencolok.
> Sampai-sampai, jika sebuah
> mobil Lamborghini melintas, orang langsung
> bisik-bisik, "Itu cucu
> salah seorang presiden di Asia." Sumber itu juga
> pernah mendengar
> cerita dari seorang agen mobil terkenal di kota itu
> tentang kebiasaan
> mereka yang kerap gonta-ganti mobil. "Paling lama,
> mereka ganti mobil
> sebulan sekali," katanya. Edan.
>
> Yang lebih dahsyat, menurut George, dua remaja ini
> juga memiliki tiga
> rumah mewah di kawasan itu, dengan nilai total US$
> 2,5 juta atau, ya
> ampun, mencapai Rp 37,5 miliar. Sumber TEMPO
> mendengar penuturan salah
> seorang temannya yang pernah diundang menghadiri
> pesta di sana. Rumah
> itu dilengkapi dengan taman yang luas, kolam renang
> supermewah, dan
> lapangan tenis.
>
> Balap dan judi adalah kisah berikutnya di seputar
> gelimang harta
> dinasti Soeharto. Seorang teman reli Tommy Soeharto
> menuturkan
> bagaimana habis-habisannya mantan bos mobil nasional
> Timor itu
> melakoni hobi mahalnya. Sewaktu survei reli dunia di
> Medan pada 1997
> lalu, kata temannya itu lagi, cuma dalam waktu
> sepekan, Tommy sampai
> "menghabiskan" tiga unit Mitsubishi Evolution IV.
>
> Bukan apa-apa, tiga mobil yang harga setiap unitnya
> Rp 250 juta itu
> ringsek mencium tebing. Dan dalam setahun setidaknya
> Tommy harus
> menghabiskan 10 unit mobil survei. Teman reli Tommy
> yang lain
> menuturkan keterbengongan seorang wartawan Australia
> yang
> mewawancarainya. Waktu itu, kepadanya ditanyakan
> pihak mana yang
> mensponsori tim relinya. Si wartawan melongo ketika
> diberi tahu bahwa
> seluruh dana?yang bisa mencapai ratusan juta sampai
> miliaran rupiah
> sekali reli?ditanggung pihaknya sendiri, alias tanpa
> sponsor. Padahal
> pereli kelas dunia tak mungkin berlaga tanpa ada
> yang mensponsori.
>
> Berbagai kasino kondang di seantero jagat pun luber
> dengan uang klan
> Soeharto. Di Christmas Island, Burswood Casino,
> Australia, atau
> Genting Highland, Malaysia, misalnya, nama beken
> anggota Keluarga
> Cendana sudah menjadi buah bibir. Seorang sumber
> TEMPO yang berkawan
> dekat dengan Ari Sigit, kakak Eno, menuturkan ulah
> cucu Soeharto yang
> satu itu. Ceritanya begini. Ketika itu, Ari ikut
> reli di Malaysia
> dengan bendera timnya, Sexy Motor Sport, yang
> mengandalkan kedigdayaan
> mobil Audi. Pamannya, Tommy, juga ikut balap dengan
> timnya, Goro
> Rally.
>
> Di suatu sore, setelah kandas di arena balap, Ari
> mengajak semua
> anggota rombongannya ke Genting Highland, pusat
> perjudian terkenal di
> sana. Tak jelas seberapa tebal ringgit yang ia
> habiskan di meja judi.
> Yang jelas, silakan hitung sendiri, sampai ayam
> berkokok, putra sulung
> Sigit Harjojudanto itu masih asyik menjajal
> baccarat, black jack, dan
> rolet. Padahal semalaman itu tak sekali pun ia
> dikunjungi Dewi
> Keberuntungan, alias kalah melulu. Tapi ia rupanya
> tak begitu ambil
> pusing soal kalah menang. "Ia sekadar cari hiburan,"
> kata sumber itu
> menjelaskan kenapa Ari tidak juga balik kanan
> kendati koceknya sudah
> bolong besar.
>
> The Independent juga menggambarkan bagaimana
> entengnya Tommy
> menghamburkan uang di meja kasino. Salah seorang
> temannya yang pernah
> berjudi bareng di Ritz Casino, London, punya cerita
> menarik. Suatu
> malam, Tommy keok terus. Duitnya amblas sampai lebih
> dari £ 1 juta (Rp
> 15 miliar). Tapi putra bungsu Soeharto ini kelihatan
> tak begitu ambil
> peduli. Dengan entengnya, seolah tak terjadi
> apa-apa, ia langsung
> mengajak teman-temannya makan malam di sebuah
> restoran mewah. Easy
> going.
>
> Sang teman reli itu juga mengaku pernah diajak ikut
> berjudi ke London,
> dua tahun lalu. Mereka berangkat bersepuluh dengan
> jet pribadi "sang
> Pangeran". Waktu itu, di luar kebiasaan, Tommy, yang
> lebih sering
> kalah ketimbang menang, bernasib terang. Duit hasil
> judi itu pun
> langsung amblas. Hari itu juga ia menghabiskannya
> dengan membeli sedan
> reli mutakhir, Subaru Impreza. Waktu itu saja
> harganya sudah mencapai
> setengah miliar rupiah (sekarang berkisar antara Rp
> 800 ribu dan Rp
> 1,2 miliar). Dua kasino favorit Tommy adalah di
> Christmas Island dan
> Genting Highland. Di lapangan golf, kegemarannya
> berjudi juga tak
> tertahankan. Berapa nilai taruhannya? "Enggak besar,
> paling-paling 50
> jutaan," kata temannya itu, enteng.
>
> Begitulah kisah bak raja diraja itu. Boleh saja
> kalau Anda lantas
> berdecak kagum, kaget bukan kepalang, bahkan kesal
> tak ketulungan.
> Silakan bergegas kalau Anda tertarik memburunya.?
>
> Karaniya Dharmasaputra, Dewi R. Cahyani, Ma'ruf
> Samudra, Wens Wanggut
> (Jakarta), koresponden London
>
M. Ismail Fahreza
cellular : +628161912745
e-mail : [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping