kayaknya ini dari yg mengalami langsung deh

Note: forwarded message attached.
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
--- Begin Message ---
FYI....

--- Machine Head <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> To: [EMAIL PROTECTED]
> From: "Machine Head" <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Mon, 11 Feb 2008 05:03:59 -0000
> Subject: [Milanisti Indonesia] OOT : Kronologis
> Konser Maut di Bandung...
> 
> Guys, tulisan ini dibuat oleh rekan saya yang
> menjadi saksi mata
> kejadian tersebut, Eben gitaris Burgerkill ..mudah
> mudahan bisa
> menjadi satu bahan acuan untuk menjadi alternatif
> sudut pandang lain
> dalam menilai tragedi berdarah konser Beside kemarin
> ..
> 
> salam,
> 
> Supri
> 
> ----------------------
> 
> Bandung, 9 Februari 2008
> Cerita pendek Tragedi Berdarah konser musik Beside.
> 
> Tepat jam 19.00 wib saya tiba di gedung AACC di
> jalan Braga Bandung,
> tempat dimana launching album perdana band metal
> asal kota kembang
> Beside digelar. Suasana diluar gedung sangat ramai
> dipenuhi
> teman-teman dari komunitas yang berkumpul untuk
> menyaksikan konser
> tunggal dari band yang baru saja meluncurkan album
> bertitel "Against
> Ourselves" ini. Di depan gerbang gedung yang
> berkapasitas 500 orang
> ini saya melihat ratusan metalhead yang terus
> mengantri berusaha masuk
> kedalam gedung, terlihat juga beberapa orang aparat
> keamanan yang
> sedang bersantai duduk diatas motor yang diparkir di
> depan gedung.
> Tidak lama kemudian dari luar terdengar Beside sudah
> mulai menggeber
> lagu pertama dari set list konser mereka malam ini,
> tanpa banyak
> menunggu saya langsung masuk melalui pintu samping
> gedung yang
> dikhususkan untuk para undangan dan teman-teman
> media.
> 
> Dari pinggir panggung saya melihat hampir 800
> metalhead memadati crowd
> yang intens berpogo ria diiringi penampilan Beside
> yang powerfull,
> setelah saya perhatikan nampaknya pihak panitia
> telah menjual jumlah
> tiket yang melebihi kapasitas gedung. Sempat
> beberapa kali saya
> melihat beberapa penonton yang mabuk dan pingsan
> dehidrasi dikarenakan
> kurangnya sirkulasi udara segar di dalam gedung,
> tapi sangat
> disayangkan pihak panitia tidak sigap menyediakan
> bantuan yang
> maksimal seperti PMI atau tim khusus untuk menangani
> kejadian seperti
> ini, sehingga beberapa penonton yang pingsan hanya
> dibiarkan
> tergeletak di lorong samping panggung tanpa
> pertolongan yang benar.
> 
> Memang udara didalam gedung sangat panas dan pengap
> hingga
> dipertengahan konser saya berjalan keluar melalui
> jalan samping untuk
> membeli minuman dingin. Dari depan pintu samping
> saya melihat
> kerumunan penonton tanpa tiket yang beramai-ramai
> berusaha merubuhkan
> gerbang utama gedung AACC ini, namun sayangnya para
> aparat yang berada
> di sekitar gerbang tidak melakukan tindakan
> antisipasi dan hanya
> berdiri merokok menyaksikan kejadian tersebut.
> Sempat saya
> mengingatkan salah seorang aparat untuk segera
> bertindak tapi hanya
> sebuah jawaban sederhana yang saya terima, "Udah
> biarin aja ada
> panitia yang jaga, kamu ga usah ikut-ikutan"
> tuturnya. Aneh
> mendengarnya, seharusnya mereka lebih sigap dan
> segera mengamankan
> kejadian tersebut. Merasa tidak digubris saya
> kembali masuk kedalam
> gedung dan memberi tahu kondisi diluar gedung ke
> pihak panitia yang
> berjaga didalam, akhirnya beberapa panitia berlarian
> keluar untuk ikut
> membantu.
> 
> Setelah pemutaran video klip "Holyman" melalui big
> screen di kanan
> kiri panggung para personil Beside terlihat
> membagikan beberapa gelas
> bir kepada penonton yang berada di barisan depan
> panggung, tentunya
> suguhan ini dengan gembira ditanggapi oleh para
> penonton yang memang
> kehausan setelah terus berpogo. Tak berselang lama
> Beside kembali
> bersiap dan melanjutkan konser mereka. Sekitar jam
> 20.30 konser yang
> berjalan lancar ini berakhir, kerumunan penonton
> yang mengantri untuk
> keluar pun terlihat aman dan tertib. Didalam gedung
> terdapat beberapa
> penonton yang kelelahan dan beristirahat sambil
> menunggu antrian yang
> cukup panjang. Dan tragedi buruk ini pun dimulai,
> tidak lama kemudian
> saya mendapat kabar bahwa diluar ada dua orang
> penonton yang meninggal
> karena kehabisan nafas.
> 
> Tiba-tiba seorang aparat tanpa seragam naik ke atas
> panggung dan
> langsung berteriak-teriak menyuruh semua penonton
> yang ada didalam
> gedung untuk segera keluar. Tanpa basa-basi pun
> beberapa polisi
> lainnya ikut masuk kedalam dan dengan kasar mengusir
> semua penonton
> yang tersisa. Kembali saya coba mengingatkan para
> aparat untuk tidak
> bertindak kasar dan menerangkan bahwa diluar antrian
> penonton masih
> panjang. Namun sekali lagi omongan saya tidak
> digubris dan mereka
> terus bertindak seenaknya mendorong dan menendang
> para penonton, dan
> akhirnya suasana antrian menjadi tidak terkendali.
> 
> Beberapa penonton dibagian belakang terus mendorong
> kedepan karena
> takut terkena pukulan para aparat yang terus memaksa
> keluar, sangat
> jelas terlihat bertambahnya korban yang pingsan
> karena terinjak-injak
> antrian yang terus menumpuk. Dalam kondisi panik
> saya berusaha
> membantu seorang penonton yang tergeletak pingsan
> didepan gedung dan
> membopongnya untuk dibawa kedalam mobil salah satu
> panitia. Tiba-tiba
> salah seorang teman saya yang juga ikut membantu
> korban dipukul
> wajahnya oleh seorang oknum aparat tanpa alasan yang
> jelas, dengan
> sigap saya berusaha melerai mereka. Dan sekali lagi
> sikap angkuh dan
> sok jagoan dari seorang oknum aparat pun
> dipertontonkan, dengan sikap
> yang kampungan hampir 20 orang aparat langsung
> menyerang saya dan
> mengeroyok membabi buta seperti segerombolan preman
> yang haus berkelahi.
> 
> Akhirnya suasana kembali tidak terkendali dan
> kerusuhan pun terjadi,
> beberapa teman yang ikut melawan dan melindungi saya
> pun ikut terkena
> pukulan dan tendangan dari oknum-oknum aparat yang
> terus bertambah
> sehingga kami semua berpencaran berlari jauh untuk
> menghindar. Dari
> kejauhan saya melihat beberapa korban yang pingsan
> didepan gedung
> diusir dengan kasar oleh beberapa aparat, dan mereka
> pun langsung
> memasang Police Line agar tidak ada lagi penonton
> yang masuk kedalam
> gedung. Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa
> beberapa teman
> saya dibawa ke Polwiltabes Bandung sebagai saksi
> untuk dimintai
> keterangan perihal kejadian tersebut, dan saya pun
> langsung menuju
> kesana untuk mencari tahu kepastian beritanya.
> 
> Sesampai di kantor polisi saya melihat beberapa
> panitia yang berkumpul
> sambil menunggu giliran untuk di interogasi. Saya
> mencoba menghampiri
> dan bertanya kepada mereka tentang berita terakhir
> korban tragedi
> tersebut dan ternyata jumlah korban yang meninggal
> sudah mencapai 10
> orang yang tersebar di 2 Rumah Sakit. Beberapa
> korban yang tidak
> tertolong meninggal di RS Bungsu dan RS Hasan
> Sadikin Bandung, dan
> menurut panitia yang ikut mengantar ke rumah sakit
> bercerita setibanya
> di rumah sakit hampir sebagian besar korban tidak
> dilayani dan hanya
> dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit hingga
> akhirnya mereka meninggal
> dunia. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan pihak
> rumah sakit takut
> akan tidak selesainya urusan admistrasi dari
> masing-masing korban.
> Sungguh kondisi yang sangat mengecewakan dan
> menyesakan dada, namun
> apa daya semuanya sudah terlewati dan kami sudah
> tidak bisa membantu
> lebih banyak lagi.
> 
> Dunia musik Indonesia kembali berduka, sebuah konser
> musik yang
> menelan korban jiwa kembali terjadi. Lalu siapa yang
> bisa disalahkan?
> Apakah buruknya persiapan antisipasi panitia yang
> nakal dengan menjual
> tiket diluar kapasitas gedung? Apakah juga bobroknya
> sikap aparat
> sebagai pihak yang seharusnya mengatur keamanan di
> lokasi konser? Atau
> terlalu banyaknya teman-teman kita yang terlalu
> mabuk ketika menonton
> konser? Lalu bagaimana dengan parahnya pelayanan di
> rumah sakit yang
> terkesan acuh untuk menangani korban? Saya rasa
> semua itu bisa menjadi
> penyebabnya, dan kita hanya bisa menyesalinya.
> Tentunya setelah
> tragedi ini rasa pesimis teman-teman di komunitas
> akan sulitnya izin
> untuk bisa menyelenggarakan konser-konser akan
> semakin bertambah.
> 
> Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan
> berita miring di media
> yang terkesan memojokan teman-teman komunitas atas
> tragedi ini dapat
> sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan
> contoh kasus yang
> perlu diteladani dan disikapi dengan benar oleh
> semua pihak yang
> berkaitan dengan pelaksanaan sebuah konser musik.
> Tulisan ini hanya
> sebuah pandangan dan opini seorang musisi, teman,
> dan penikmat musik
> yang sangat mengharapkan suasana yang kondusif  dari
> sebuah konser.
> Dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili
> komunitas musik
> sejagad Indonesia turut merasakan prihatin dan
> belasungkawa yang
> sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga
> teman-teman kami yang telah
> pergi dapat beristirahat dengan tenang dan segala
> kebaikannya diterima
> disisi Allah SWT, Amien…
> 
> Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers, we're
> gonna miss u…
> 
> 
> Posted by Megabenz.(Eben BKHC)
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

--- End Message ---

Kirim email ke