Saya malah curiga bahwa virus tersebut adalah "man-made". Bayangkan
penghasilan pabrik produsen tami flu tahun 2005 adalah $ 5.6 milyar. Dengan
penghasilan sebesar itu apa sih susahnya mengeluarkan $ 50-100 juta untuk
membiayai riset memproduksi virus ? Coba perhatikan saja, tidak lama lagi akan
ada penyakit aneh baru.
BN
Resonansi, Republika 13 Februari 2008
Perlawanan Siti Fadilah Supari
Oleh : Asro Kamal Rokan
Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat demi
kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit warga dunia
yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi badan resmi
dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.
Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang
memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist (10 Agustus 2006).
Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian Influenza/AI)
menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada.
Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena
kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak
memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.
Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis,
badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong
Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Perintah itu diikuti
Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan
penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim
ke Hong Kong?
Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian
dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat
vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya,
yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban,
kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.
Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan
martabatnegara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani
praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk
mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik
mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times Singapura,
27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1
yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National
Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat
orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah
Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu
untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data
DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia
berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu.
Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos,
memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
transparansi.
Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan
58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security,
lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia
terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan
setara. Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang
diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan
membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di
Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.
Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas ketidakadilan.
Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah, yang berjuang untuk
keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia inspirasi untuk bangsa yang bangkit.
M. Ismail Fahreza
cellular : +628161912745
e-mail : [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.