Fyi, setelah tidak bisa mengakses listrik/komputer sekitar 20 jam, 
kini saya kutip beberapa berita dari Liputan6 mengenai gempa di Nias, 

Mohon maaf bagi yg keberatan,
Salam

Emil


Gempa Melumpuhkan Kota Gunung Sitoli 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98511.html

Situasi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatra Utara, sangat 
memprihatinkan setelah diguncang gempa berkekuatan 8,7 skala Richter. Hampir 
seluruh bangunan rumah dan kantor rata dengan tanah. Ruas-ruas jalan dan 
jembatan juga hancur diamuk gempa. Saat ini, Kota Gunung Sitoli berada dalam 
keadaan lumpuh total. Seluruh sarana komunikasi dan listrik mati. "Sekitar 95 
persen [sarana kota] hancur," kata Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana 
Wilayah Kabupaten Nias R. Zebua dalam telewicara dengan SCTV, Selasa (29/3).

Zebua menambahkan, kerusakan akibat gempa sangat dahsyat. Hingga saat ini, 
pihaknya belum bisa mendata jumlah korban dan kerusakan akibat gempa kemarin 
malam. Namun yang pasti, kerusakan merata di seluruh Pulau Nias [baca: 
Kabupaten Gunung Sitoli Terparah].

Selain itu, wilayah Gunung Sitoli terisolasi karena Bandar Udara Binaka rusak 
berat. Tim penanggulangan bencana gagal mendarat di Gunung Sitoli. Satu-satunya 
jalan masuk menuju Kota Gunung Sitoli adalah melalui jalan darat. Itu pun 
dengan kondisi jalan dan jembatan yang hancur. Tim ini diperkirakan tiba Rabu 
besok.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)


Kabupaten Gunung Sitoli Terparah 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98493.html

Data korban jiwa akibat gempa bumi di sepanjang pantai barat Sumatra, tadi 
malam, masih simpang siur. Mengingat besarnya kekuatan gempa sampai 8,2 skala 
Richter besar kemungkinan banyak menimbulkan korban jiwa. Menurut Wakil 
Presiden Jusuf Kalla ketika ditemui di Jakarta, Selasa (29/3), korban jiwa 
mencapai seribu orang.

Kabupaten Gunung Sitoli, Sumatra Utara, dilaporkan paling parah. Bangunan dan 
perumahan penduduk luluh lantak. Kuat dugaan, banyak penduduk tertimpa 
reruntuhan karena gempa terjadi pukul 23.15 WIB. Proses evakuasi sulit 
dilakukan karena sarana umum seperti rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat 
juga rusak berat.

Badan Meteorologi dan Geofisika Aceh mencatat pusat gempa berada 498, 3 barat 
daya Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, gempa tidak akan 
mengakibatkan terjadinya Tsunami seperti menerjang NAD, Desember silam. BMG 
Aceh tetap meminta warga waspada menghadapi gempa susulan.(KEN/Tim Liputan 6 
SCTV)


Gempa Nias Termasuk Terbesar dalam Seabad Terakhir 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98510.html
Gempa bumi yang melanda kawasan pantai barat Sumatra Utara, kemarin, adalah 
yang keempat atau kelima terbesar dalam satu abad terakhir. Ini juga pertama 
kalinya dua gempa besar terjadi dalam waktu berdekatan. Apalagi pusat gempa 
semalam tak jauh dari episentrum pada 26 Desember tahun lalu. Hal itu 
dinyatakan ilmuwan Amerika Serikat, baru-baru ini.

Walau gempa yang terjadi sekitar pukul 23.11 WIB cukup kuat, namun tak 
menimbulkan bencana Tsunami [baca: Sumut Diguncang Gempa 8,2 Skala Richter]. 
Getaran gempa ini juga terasa hingga sejauh 700 kilometer di Thailand, 
Malaysia, Singapura, India dan Australia [baca: Gempa Sumut Terasa Hingga 
Australia]. Menurut Budi, salah satu staf Badan Meteorologi dan Geofisika, 
intensitas gempa saat ini berangsur-angsur menurun. Namun, hingga tiga hari 
mendatang, warga di sekitar Pulau Nias diminta waspada sebab gempa susulan 
kemungkinan masih akan terus terjadi.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)


Sumut Diguncang Gempa 8,2 Skala Richter 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98464.html

Gempa berkekuatan 8,2 skala Richter mengguncang Sumatra Utara, Senin (28/3) 
sekitar pukul 23.11 WIB. Posisi getaran terletak sekitar 2,93 lintang utara dan 
97,016 bujur timur pada kedalaman normal, 30 kilometer. Sementara pusat gempa 
diperkirakan 205 kilometer dari Sibolga.

Goncangan terasa hampir di seluruh daerah di Sumut. Lendi, warga Jalan 
Setiabudi, Medan, mengatakan warga panik begitu merasakan bumi bergetar. Mereka 
langsung berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri.

Sampai berita ini ditulis, suasana tegang masih begitu terasa di Medan. Warga 
masih tampak waswas. Apalagi aliran listrik langsung padam begitu gempa 
terjadi. Sambungan telepon pun sangat sibuk sehingga warga tak bisa saling 
mengabari keadaan mereka.

Meski begitu, menurut Lendi, tidak banyak rumah warga yang rusak akibat 
goncangan. Hanya ada beberapa rumah yang dindingnya retak-retak. "Termasuk 
dinding rumah saya," kata Lendi.

Gempa juga membuat panik warga Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Mereka 
langsung berlari ke luar rumah masing-masing dan menuju daerah perbukitan. 
Sebab warga khawatir gempa akan disusul gelombang Tsunami seperti yang pernah 
terjadi pada 26 Desember 2004 [baca: Gempa Mengguncang NAD].

Aliran listrik di Lhokseumawe pun sempat padam beberapa saat, sekitar 10 menit. 
Namun saat berita ini disusun, aliran listrik di sana sudah normal seperti 
semula. Meski begitu belum banyak warga yang berani kembali ke rumah 
masing-masing.

Kepala Bidang Gempa Bumi Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Suharsono 
menjelaskan, sampai saat ini BMG belum menerima laporan tentang dampak dari 
gempa, termasuk kerugian materi. Namun BMG tetap akan memantau keadaan. Apalagi 
magnitude gempa cukup besar.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)


Gedung-Gedung Bertingkat di Nias Rusak Parah 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98494.html

Pemerintah belum bisa memastikan jumlah korban jiwa akibat gempa bumi di 
sepanjang pantai barat Sumatra, tadi malam. Namun diperkirakan mencapai seribu 
orang lebih. Masyarakat di kawasan Sumatra Utara, seperti Sibolga dan Pulau 
Nias, yang panik ketika gempa dan lari ke gunung-gunung sudah kembali ke rumah 
masing-masing.

Menurut Komandan Resor Militer (Danrem) 023/KS Kolonel Infanteri Eddy Hartanto 
yang dihubungi SCTV, Selasa (29/3) pagi, tidak ada kerusakan mendasar di Kota 
Sibolga. Sedangkan di Pulau Nias, gedung-gedung bertingkat mengalami kerusakan 
parah. Markas Komando Rayon Militer salah satunya. Seorang anggota Koramil 
menderita luka patah kaki akibat tertimpa reruntuhan bangunan [baca: Pulau Nias 
Porak-poranda].

Eddy mengatakan, masyarakat di Sibolga maupun Nias sempat lari ke atas 
gunung-gunung karena panik. Namun pagi ini dikabarkan sebagian besar sudah 
kembali. Eddy belum bisa memastikan jumlah bangunan yang hancur serta korban 
jiwa di dua wilayah tadi. Yang pasti, pihaknya telah mengirimkan pasukan ke 
Nias, untuk mendirikan sejumlah pos koordinasi penanganan korban gempa.(DEN/Tim 
Liputan SCTV)


Pulau Nias Porak-poranda 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98492.html

Gempa yang mengguncang Sumatra Utara, Senin malam, dipastikan menelan korban 
jiwa. Pulau Nias dilaporkan kondisinya paling buruk. Indikasi ini diungkapkan 
Herman Laia, penduduk Nias Selatan, kepada SCTV melalui telewicara, Selasa 
(29/3) pagi yang mengaku melihat banyak warga tertimpa reruntuhan rumah. "Ada 
dua kali guncangan [gempa]," kata Herman. Tiang listrik dan tiang telepon roboh 
sehingga saluran komunikasi dan listrik terputus kecuali jaringan telepon 
selular.

Pulau Nias adalah kawasan terdekat dari pusat gempa, yaitu di laut antara Pulau 
Nias dan Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam. Herman menerangkan, ia 
bersama warga Kecamatan Bintang Laut, Nias Selatan mengungsi ke daerah 
pegunungan. Kekhawatiran Tsunami seperti di NAD, menurut Herman, tidak 
terbukti. "Empat jam setelah kejadian, air laut tidak naik," kata dia. Kejadian 
itu dinilai amat cepat. Warga mengaku tidak mendapat imbauan sebelumnya dari 
Pemerintah Kabupaten Nias.

Sementara itu, stasiun televisi CNN melansir korban jiwa paling banyak di 
Kabupaten Gunung Sitoli, sekitar 50 orang. Gempa di kawasan Sumut memang 
berkekuatan cukup besar, yaitu 8,2 Skala Richter. Getarannya dilaporkan terasa 
ke Medan, sebagian NAD, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Padang (Sumatra Barat) 
dan Palembang (Sumatra Selatan) [baca: Sumut Diguncang Gempa 8,2 Skala 
Richter]. Intensitas guncangan gempa di daerah itu berbeda-beda. Jika penduduk 
Medan dan Jambi merasakan dua kali gempa, warga Padang serta Bengkulu cuma satu 
kali. Thailand, Srilanka, dan India pun ikut merasakan gempa meski kekuatannya 
kecil.

Penduduk Banda Aceh dilaporkan kalang kabut. Beberapa saat setelah gempa 
terjadi penduduk berhamburan ke luar rumah mencari tempat yang lebih tinggi. 
Mereka mengaku takut Tsunami kembali menerjang. Kepanikan terjadi selama lebih 
dari dua jam. Dari pantauan SCTV, suasana mulai kondusif menjelang pukul 04.00 
WIB [baca: Banda Aceh Tenang]. Penduduk Banda Aceh yang semula berkumpul di 
kawasan Simpang Surabaya mencair. Namun, sebagian warga ada memilih tidur di 
Masjid Baiturrahman, Masjid Pahlawan, dan Masjid Lampineun.

Kepanikan juga dirasakan di Kabupaten Lampulo dan Kota Singkil, sebelah selatan 
NAD. Pengungsi yang tinggal di tenda darurat berlarian ke daerah pegunungan di 
Lambaro karena takut air laut naik. Penampungan pengungsi di Lampulo memang 
terbilang dekat dengan pantai. Penduduk Kota Singkil menyelamatkan diri ke 
Masjid Baiturrahim, Gunung Simpang Kanan, dan Gunung Meriah. 

Anggota DPRD Singkil Tafsir saat berdialog mengatakan, gempa mengakibatkan 
jalan-jalan retak dan jembatan patah sehingga akses transportasi putus. "Rumah 
dari beton retak dan rumah kayu banyak roboh," kata Tafsir. Pulo Saro dan Desa 
Ujung seperti disebut Tafsir adalah desa yang berada di sisi sungai. Hingga 
kini, jumlah korban belum dapat dipastikan. Tafsir mengkhawatirkan kondisi 
penduduk Kecamatan Pulo di sebelah barat Kota Singkil. Kawasan ini terletak di 
pesisir pantai dan bisa ditempuh dari Singkil dengan kapal selama tiga jam. 

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Aceh meminta warga waspada. Namun, BMG 
Aceh yakin gempa di kedalaman 40 kilometer di bawah laut tak akan menimbulkan 
Tsunami. Sebab, gelombang Tsunami terjadi jika kedalaman pusat gempa di bawah 
20 kilometer, seperti terjadi akhir Desember 2004 [baca: Jumlah Korban Tewas 
Tsunami Mencapai Ribuan].

Kepala Bidang Gempa Bumi BMG Pusat Suhardjono memastikan, gempa yang terjadi 
semalam bukan susulan dari gempa sebelumnya di Tanah Rencong. &uotIni rentetan 
dari gempa tanggal 26 [Desember 2004]," kata Suhardjo. Bencana alam ini cukup 
kuat karena Pulau Sumatra ada di daerah pertemuan lempengan yang berpotensi 
menimbulkan gempa. Intensitas gempa dirasakan berbeda-beda, kata Suhardjono, 
tergantung jauh dekat wilayah itu dari episentrum. "Getaran secondary lebih 
buruk dari getaran awal karena sifatnya horisontal sehingga menimbulkan gedung 
ambruk," jelas Suhardjono.

Suhardjono berharap warga dan petugas BMG di NAD dan Sumut memasang mata 
kendati bahaya Tsunami tak lagi mengancam. Menurut dia, lumrahnya Tsunami 
terjadi akibat gempa tektonik, kedalaman gempa dangkal, dan terjadi deformasi 
(perubahan wujud atau bentuk). Cuma sekali dari 160 bencana Tsunami di 
Indonesia akibat gempa vulkanik, yaitu ketika Krakatau meletus. "Penduduk tetap 
segera berlindung ke tempat tinggi, karena gelombang Tsunami umumnya terjadi 
lima atau sepuluh menit setelah gempa," ujar Suhardjono.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)


Gempa Sumut Terasa Hingga Australia 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98507.html

Gempa bumi yang mengguncang pantai barat Sumatra Utara, Senin malam, terasa 
hingga sejauh 700 kilometer, seperti di Thailand, Malaysia, India, dan 
Australia. Pemerintah Australia memperingatkan ancaman Tsunami di kawasan 
pesisir barat Negeri Kanguru menyusul guncangan gempa.

Beberapa jam setelah gempa, laut sempat pasang antara 25 hingga 50 sentimeter 
di berbagai tempat di pesisir barat Australia. Namun, tidak ada laporan 
kerusakan. Karena itu, pemerintah Australia mencabut peringatan tersebut, 
Selasa (29/3) pagi.

Guncangan gempa yang sangat kuat membuat para turis dan warga Kota Bangkok, 
Thailand ketakutan. Mereka berlari tunggang langgang keluar dari hotel. Bahkan, 
pemerintah Thailand sempat mengumumkan peringatan kemungkinan ada Tsunami. 
Namun, beberapa jam kemudian pemerintah Thailand mencabut peringatan itu [baca: 
Thailand dan Srilanka Mengumumkan Bahaya Tsunami].

Warga yang berhamburan keluar dari tempat tinggal masing-masing juga terjadi di 
kawasan Georgetown, Pulau Penang dan Pulau Betong; Malaysia. Pemerintah 
setempat memperingatkan para nelayan untuk tidak melaut dan diminta pindah 
sementara ke wilayah yang lebih tinggi.

Sementara di India, militer setempat disiagakan selama beberapa jam dengan 
kesiapan tingkat tinggi untuk mengantisipasi Tsunami. Namun, status siaga 
Tsunami itu telah dicabut, pagi tadi. Kendati demikian, pemerintah tetap 
bersiaga selama tujuh hingga delapan jam pascagempa.(DNP/Uri)



Mayat Korban Gempa Diangkut dengan Sepeda Motor 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98513.html

Duka menyelimuti hampir seluruh wilayah Nias, Sumatra Utara, yang diterjang 
gempa bumi berskala 8,7 Richter. Rumah-rumah penduduk yang rusak tampak tak 
berpenghuni. Pohon-pohon bertumbangan. Sebagian besar penduduk menyelamatkan 
diri ke pegunungan. Demikian pantauan SCTV dari pesawat Casa milik TNI Angkatan 
Laut di Pulau Nias, Selasa (29/3) sekitar pukul 15.30 WIB.

Sekitar sepuluh jenazah tampak di Bandar Udara Binaka, Kota Gunung Sitoli, 
Kabupaten Nias, saat pesawat yang ditumpangi SCTV mendarat. Para korban tewas 
ini memang bekerja di sekitar bandara. Sementara itu, jalan-jalan di Pulau Nias 
banyak yang rusak. Sejumlah orang membawa jenazah dengan sepeda motor. Tidak 
ada mobil yang lewat karena persediaan bahan bakar minyak habis.

Tangis pilu menyeruak dari rumah-rumah penduduk yang kehilangan orang-orang 
terkasih serta menjadi korban gempa. Kebanyakan korban tewas adalah anak-anak 
dan perempuan. Mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari musibah yang terjadi 
saat kebanyakan penduduk tertidur. Sementara banyak korban yang terluka karena 
tertindih reruntuhan bangunan.

Pemerintah Kabupaten Nias memperkirakan jumlah korban tewas mencapai angka 
1.000. Sejauh ini, belum ada pesawat yang berani mendarat di Bandara Binaka 
karena landasan rusak dan retak-retak. Hanya pesawat sejenis Casa--yang tidak 
membutuhkan landasan panjang--yang bisa dan sudah mendarat. Hingga kini, Pulau 
Nias masih lumpuh. Saluran komunikasi dan transportasi terputus. Listrik juga 
mati. Bantuan bagi para korban juga belum bisa masuk ke lokasi bencana [baca: 
Gempa Melumpuhkan Kota Gunung Sitoli].(TNA/Erica Panjaitan dan Satya Pandia)



Presiden Memerintahkan Langkah Tanggap Darurat 
sumber : http://www.liputan6.com/fullnews/98508.html

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan langkah tanggap darurat 
sebagai tindak lanjut terjadinya gempa bumi di Pulau Nias, Sumatra Utara. Wakil 
Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa (29/3), juga memimpin rapat koordinasi 
membahas penanganan bencana tersebut [baca: Sumut Diguncang Gempa 8,2 Skala 
Richter ]. 

Rapat dihadiri sejumlah menteri terkait. Seperti Menteri Kesehatan Siti Fadilah 
Supari, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Pekerjaan Umum Djoko 
Kirmanto, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani, 
dan Kepala Polri Jenderal Da`i Bachtiar. Rapat berlangsung sekitar satu jam. 
Rapat juga memutuskan untuk mengirim Menkes Siti Fadilah Supari dan Mensos 
Bachtiar Chamsyah untuk secara langsung melihat kondisi wilayah pascagempa 
bumi. 

Pada kesempatan terpisah, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi 
menginformasikan bahwa Presiden Susilo berniat menunda lawatan ke tiga negara 
yang rencananya dilakukan besok. Sudi juga menuturkan, hingga kini, pemerintah 
belum bisa memastikan secara pasti berapa jumlah korban. Sebab prioritas 
pertama adalah segera mengevakuasi para korban. 

Selain itu, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan 
Pengungsi yang semula ada di Nanggroe Aceh Darussalam telah diminta untuk ke 
Pulau Nias dan lokasi bencana lainnya. Para tim dokter yang bertugas di 
berbagai pos koordinasi juga ikut diminta terjun ke kawasan itu. Berbagai 
peralatan perhubungan pun dikirimkan. Hal itu dinyatakan Menteri Negara 
Komunikasi dan Informasi Sofyan A Djalil di Jakarta. 

Sofyan juga menuturkan kesulitan yang kini menghadang adalah rusaknya bandar 
udara di Gunung Sitoli sehingga tak bisa digunakan untuk pendaratan pesawat 
[baca: Kabupaten Gunung Sitoli Terparah]. Karena itu, helikopter yang ada di 
posko Aceh akan dipindahkan ke Medan, Sumut. Ini nantinya untuk mengirimkan 
bala bantuan ke Gunung Sitoli. Selain itu, Departemen Keuangan juga telah 
mengirimkan Dirjen Anggaran untuk menghitung jumlah kerugian.(MAK/Tim Liputan 6 
SCTV)


Presiden Berbelasungkawa untuk Korban Gempa
sumber http://www.liputan6.com/fullnews/98514.html

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan belasungkawa atas gempa bumi 
yang mengguncang Pulau Nias, Sumatra Utara, dan Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh 
Darussalam, Senin malam. "Atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia saya 
mengucapkan belasungkawa pada warga yang mengalami musibah," kata Presiden SBY 
kepada pers di Jakarta, Selasa (29/3).

Hingga kini, pemerintah masih berupaya mengumpulkan data korban dan kerusakan 
akibat gempa. Pemerintah akan memprioritaskan evakuasi serta pertolongan medis 
bagi korban luka-luka. Sebelumnya, Presiden memimpin rapat kabinet terbatas 
untuk menentukan langkah awal pemerintah menangani bencana gempa bumi Nias yang 
diperkirakan menewaskan seribu korban. Dalam sidang yang berlangsung tiga jam 
ini, Presiden menginstruksikan tanggap darurat dan meminta jajarannya mengambil 
tindakan sesegera mungkin.

Kepada pers, Yudhoyono mengatakan, pemerintah pusat dan daerah terus 
mengupayakan bantuan bagi korban. Pihak TNI telah menyiapkan Batalyon Zeni 
dengan empat unit helikopter dan dua Kapal RI (KRI) untuk mengirimkan bantuan 
tenaga, obat-obatan, dan makanan. Sementara Polri juga mengirimkan tenaga 
medis. Presiden SBY juga menyatakan, Singapura dan Australia telah 
mengkonfirmasi kesiapan mereka untuk memberikan bantuan.

Pemerintah Kabupaten Nias memperkirakan jumlah korban tewas mencapai angka 
seribu orang. Hingga kini, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, lumpuh total. 
Saluran komunikasi terputus dan listrik padam [baca: Gempa Melumpuhkan Kota 
Gunung Sitoli].(TNA/Zulkarnain dan Johny Akbar)



Korban Gempa Memilih Tinggal di Tenda Darurat 
sumber http://www.liputan6.com/fullnews/98518.html

Sehari setelah gempa berkekuatan 8,7 skala Richter melanda Nias, Sumatra Utara, 
sebagian warga masih diliputi rasa was-was. Warga memilih tinggal di 
tenda-tenda darurat yang dibangun di sekitar rumah mereka yang telah hancur. 
Demikian pantauan SCTV dari Desa Larasa Idai, Gibo, Selasa (29/3) petang.

Hampir seluruh warga memilih tinggal di luar rumah mereka karena khawatir 
terjadi gempa susulan. Warga sangat berharap agar bantuan dari pemerintah dapat 
segera disalurkan kepada mereka. Namun hingga kini belum ada bantuan yang 
disalurkan pemerintah daerah atau dari pemerintah pusat [baca: Bantuan ke Nias 
Dikirim Malam Ini].

Satuan Koordinasi Pelaksana menyebutkan, bencana sedikitnya telah menelan 
korban 1.000 jiwa. Sementara data Pemerintah Provinsi Sumut, jumlah korban 
tewas adalah 300 orang. Para korban yang meninggal umumnya sedang tidur saat 
kejadian sehingga tak sempat keluar rumah menyelamatkan diri.

Di Kota Gunung Sitoli, para korban belum sepenuhnya terevakuasi. Korban 
berserakan di antara reruntuhan bangunan yang rubuh akibat gempa hebat. 
Minimnya tenaga dan peralatan menjadi hambatan utama upaya evakuasi. Beberapa 
warga yang selamat mencoba mengevakuasi korban dengan peralatan seadanya.

Pulau Nias khususnya di kawasan Kota Gunung Sitoli adalah daerah yang paling 
parah akibat gempa bumi ini. Ribuan warga diperkirakan menjadi korban selain 
kerugian materi yang tak sedikit. Gempa ini adalah gempa dahsyat kedua setelah 
gempa bumi dan Tsunami pada akhir Desember 2004.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)



Bantuan ke Nias Dikirim Malam Ini 
sumber http://www.liputan6.com/fullnews/98515.html

Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Sumatra Utara 
akan mengirimkan bantuan ke Nias, Selasa (29/3) malam, melalui Sibolga. Bantuan 
yang dikirim berupa dokter, perawat, dan bahan makanan.

Keputusan mengirim bantuan malam ini berdasarkan rapat koordinasi Satkorlak 
bersama instansi terkait di hanggar apron Pangkalan Udara Polonia Medan, Sumut, 
sejak tadi pagi. Rapat yang dipimpin langsung Ketua Harian Satkorlak Muhyar 
Tambuse memang digelar untuk menyiapkan bantuan buat para korban gempa di Pulau 
Nias.

Berdasarkan laporan yang diterima Satkorlak, gempa berkekuatan 8,7 skala 
Richter di kawasan pantai barat Sumatra Utara, Senin malam, sedikitnya telah 
menelan korban 1.000 jiwa. Korban tersebar, di antaranya di kawasan Gunung 
Sitoli dan Teluk Dalam, Nias. Satkorlak Penanggulangan Bencana di Sumut juga 
menerima laporan adanya sejumlah titik longsor di beberapa jalan di Sumut, 
seperti di jalur Tapanuli Utara-Sipirok dan perbatasan Sidikalang-Kabanjahe 
[baca: Pulau Nias Porak-poranda].(ZIZ/Chaerul Dharma)



Nias Butuh Tenaga dan Peralatan Mengevakuasi 
sumber http://www.liputan6.com/fullnews/98516.html

Gempa berkekuatan 8,7 skala Richter yang melanda Pulau Nias, Sumatra Utara, 
diperkirakan merenggut ribuan korban jiwa. Jumlah ini diperkirakan terus 
bertambah mengingat banyak korban lain yang masih tertimbun reruntuhan 
bangunan. Demikian pemantauan SCTV hingga Selasa (29/3) pukul 18.00 WIB. 

Saat ini, Pulau Nias memerlukan bantuan alat berat termasuk relawan untuk 
mengangkat puing-puing bangunan agar para korban gempa bisa segera dievakuasi. 
Sebagian warga yang selamat berusaha mengevakuasi korban dengan peralatan 
seadanya. Warga juga membutuhkan bantuan pangan dan tenda darurat. Sejauh ini, 
belum ada bantuan yang masuk karena akses jalan dari dan menuju lokasi bencana 
tertutup. 

Sementara itu di Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumut, warga terlihat 
membawa jenazah dengan sepeda motor. Selain karena kondisi jalan yang rusak, 
mobil-mobil tak bisa berjalan karena persediaan bahan bakar minyak habis. 
Kebanyakan korban tewas adalah anak-anak dan perempuan [baca: Mayat Korban 
Gempa Diangkut dengan Sepeda Motor]. 

Hingga petang ini, jumlah korban gempa di Pulau Nias masih simpang siur. 
Direktorat Bantuan Sosial Departemen Sosial memperkirakan jumlah korban 
mencapai 200 hingga 300 orang. Jumlah tersebut dihimpun dari berbagai jaringan 
Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan jaringan radio kapal laut lepas 
pantai. 

Sedangkan Gubernur Sumut Rizal Nurdin menyatakan jumlah korban meninggal lebih 
dari 1.000 orang. Sejauh ini, pihak Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi 
Sumut baru mencatat korban meninggal di Kota Gunung Sitoli mencapai 220 orang 
dan di kawasan Teluk Dalam sebanyak 110 jiwa. 

Ketidakpastian jumlah korban meninggal ini karena jalur informasi di Pulau Nias 
terputus akibat padamnya aliran listrik dan komunikasi. Selain itu, cuaca buruk 
menyulitkan transportasi Sibolga-Pulau Nias. Hari ini, sebuah pesawat Casa yang 
hendak ke Pulau Nias bahkan harus kembali ke Medan, Sumut, karena terhadang 
kabut tebal dan kondisi Bandara Binaka yang rusak [baca: Gempa Melumpuhkan Kota 
Gunung Sitoli].(DNP/TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/Ntf6vA/esnJAA/d1hLAA/KbPolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ilkom_usu/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke