---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 19 Apr 2005 16:54:20 -0000 (GMT)
From: [EMAIL PROTECTED]
Reply-To: List tertutup Dosen ITB <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Dosen ITB] fwd: mengaudit 'penyuap'
 
 
dari majalah Trust, di fwd dr milis tetangga
 
TfR
-----------------------
 
Mengaudit "Penyuap"
Rudy M. Harahap
Ketua Bidang Standar Profesi
Ikatan Audit Sistem Informasi Indonesia (IASII)
 
Saya cukup surprise ketika mendengar berita penangkapan Mulyana W.
Kusumah, anggota KPU yang juga mantan aktivitis YLBHI itu. Untuk
menjawab
keterkejutan itu, saya mencoba mengontak beberapa teman pada Sabtu
(9/4).
Sayangnya, pada hari itu, tidak seorang pun yang mengaktifkan
handphone-nya. Syukurnya, pada hari Minggu ada juga yang menelepon-balik
saya.
"Apa iya Mulyana bisa sampai begitu?"tanya saya. Apa mungkin Mulyana
sampai begitu berubah karena dipicu oleh faktor pribadi? Sebab, banyak
yang mengetahui bahwa ada sebuah faktor pribadi yang dimiliki Mulyana
yang
bisa menjadi pemicu ia berkorupsi. Siapapun bisa tergelincir jika
menghadapi hal ini.
 
Tapi, teman saya yang juga jurnalis itu tidak setuju dengan dugaan saya.
"Mulyana sudah lama punya . (maaf, off the record)," kata teman saya.
"Saya yakin, tidak semudah itu Mulyana berubah," tegas teman saya.
Tambah penasaran, keesokan harinya, saya mencoba mengikuti pemberitaan
di
media massa. Sayangnya, tidak satu pun media yang memuat statement dari
Mulyana. Kalaupun ada, paling-paling hanya pernyataan dari orang lain
yang
mengutip pernyataan dari Mulyana. Karena itu, untuk memuaskan rasa
penasaran, saya mengontak seorang teman yang juga aktivitis kondang
pemberantasan korupsi di tanah air. Setahu saya, dia cukup dekat dengan
Mulyana. "Yach, begitulah ceritanya," kata teman saya itu. "Dan KPK
memang
punya kewenangan itu," tambahnya, seakan pasrah.
 
Kemudian, saya membaca berita di media massa, nama pegawai BPK yang
terlibat "penjebakan" Mulyana itu adalah Khairiansyah. Rasanya, saya
merasa tidak asing dengan nama tersebut. Saya pernah mengenalnya ketika
memberi kuliah martikulasi pada program pasca sarjana sebuah perguruan
tinggi swasta. Untuk memastikan hal itu, saya menelepon seorang teman
yang
bekerja di BPK. Saya ingin mengonfirmasi apakah benar Khairiansyah itu
yang dimaksud. "Benar itu orangnya," kata teman saya dengan enteng. Wow.
Dan sekarang saya tambah yakin bahwa itu bukan sekedar "jebakan" biasa.
Kalau memang Khairiansyah itu orang BPK-nya, tentu tak diragukan lagi
integritasnya. Bahkan, dalam sebuah media dia menyatakan, "Ini jihad
saya."
Saya mengenal Khairiansyah selama perkuliahan satu semester. Ia
mengikuti
kuliah tersebut dengan beasiswa dari BPK. Dengan demikian, tentu tidak
diragukan lagi kecerdasannya. Apalagi, menurut suara yang merebak, dia
andalan BPK dalam fraud auditing.
 
Akan Menguak Banyak Hal
Pertanyaan yang mendasar adalah apakah Mulyana begitu bodohnya sehingga
bisa terjebak? Rasanya, pertanyaan ini cukup menggelitik. Sebab, Mulyana
dikenal sebagai kriminolog yang sudah malang-melintang di mana-mana.
Saya menduga ada hal lain di belakang kejadian ini. Bisa jadi, akhir
dari
cerita ini akan mengejutkan banyak orang. Terutama sekali dengan sudah
mulai terkuaknya sumber uang yang diduga untuk penyuapan tersebut.
Dugaan penulis-sengaja  atau tidak sengaja-nantinya akan banyak hal
terkuak dalam dugaan kasus korupsi KPU. Dari kasus Mulyana ini, kita
juga
akan semakin paham, bahwa sering sekali definisi korupsi menurut hukum
diartikan berbeda oleh para pejabat publik.
 
Dalam halnya KPU, saya menduga bahwa KPU banyak "menyisihkan" anggaran
pengadaannya untuk dana taktis. Dana taktis sering dianggap sebagai
sah-sah saja dalam sebuah instansi publik. Dari pengumpulan rente dana
taktis ini, yang tadinya remang-remang, semakin jelas dugaan adanya
indikasi korupsi di KPU. Hanya saja, korupsi tadi memang tidak untuk
memperkaya diri sendiri atau orang lain. Hasil korupsi itu dipupuk
menjadi
dana operasional KPU, yang mungkin sulit untuk dianggarkan secara
formal.
Ini mirip dengan korupsi di jaman Orde Baru. Hasil-hasil dari rente
tidak
seluruhnya digunakan untuk pesiar atau semacamnya. Kebanyakan dana
taktis
justru digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang menurut budget
APBN tidak tersedia. Atau, kadang-kadang digunakan untuk hal-hal yang
mendesak.
Dapatkah hal itu disebut korupsi? Tentu saja dapat. Hanya saja,
pekerjaan
KPK akan semakin berat. Karena korupsi dilakukan secara berjamaah, maka
banyak pihak di KPU yang harus dituntut oleh KPK. Kalau KPK berhasil
melakukannya, maka ini akan menjadi babak baru dalam pemberantasan
korupsi.
Penuntutan tindak pidana korupsi secara berjamaah sebenarnya sudah
banyak
dilakukan di negara lain. Contohnya adalah di Cina. Pada waktu itu,
beberapa pejabat secara bersamaan di bawa ke depan pengadilan karena
diduga melakukan korupsi.
 
Tidak Hanya Berhadapan dengan KPU
Hal kedua yang menarik perhatian adalah pernyataan dari Anwar Nasution
yang menyatakan bahwa ia tidak mengetahui tindakan pegawai BPK dalam
hubungannya dengan "penyuapan" Mulyana. Bahkan, secara tegas, Anwar
menyatakan bahwa tindakan pegawainya itu bukanlah tindakan resmi dari
institusinya.
Ini menjadi penyataan yang menarik. Sebab, dalam dunia audit publik
biasanya pengendalian audit investigatif itu sangat ketat. Namun,
ketidaktahuan Anwar dapat juga dimaklumi. Sebab, seperti saya tulis
dalam
Majalah Trust edisi 4 - 10 April, struktur organisasi BPK sangat
panjang.
Dengan demikian, rentang kendalinya juga lemah.
Seorang auditor seperti Khairiansyah sebenarnya harus melalui paling
tidak
4 lapis agar dapat langsung melapor ke Ketua BPK. Dengan demikian, bisa
jadi, Khairiansyah sudah melaporkan kepada atasan langsungnya, tetapi
tidak pernah sampai kepada Ketua BPK.
 
Akan tetapi, ada kemungkinan lain, yaitu Khairiansyah "bermain sendiri".
Kerja audit Khairiansyah adalah bagian dari kerja Tim. Akan tetapi,
Khairiansyah tidak setuju dengan beberapa "kesepakatan" yang telah
dilakukan oleh Tim-nya. Ia melakukan penyimpangan dari "kebiasaan" yang
lazim dilakukan selama ini di BPK. Jika dugaan itu benar, maka
Khairiansyah sebenarnya tidak saja sedang "berhadap-hadapan" dengan KPU
sebagai pihak yang diperiksanya. Dia juga sedang dalam posisi yang sulit
di internal BPK. Karena itulah, wajar jika ia sampai mengeluarkan
pernyataan "Ini jihad saya". Ini menunjukkan bahwa yang dilakukannya
sudah
tidak main-main. Ia sudah jenuh dengan berbagai prilaku yang selama ini
ditemuinya.
 
Paradigma Audit ke Depan
Saya juga mendapat pertanyaan yang cukup menarik dari seorang teman. Dia
mempertanyakan apakah tindakan yang dilakukan untuk pemberantasan
korupsi
di Indonesia memang harus demikian? Apakah memang begitu cara kita
melakukan audit? Apakah tidak ada lagi cara lain yang lebih elegant
dalam
memberantas korupsi?
 
Menurut saya, itu semua merupakan sebuah proses belajar. Adalah wajar
jika
dalam proses tersebut, masing-masing pihak mencari pola. Yang pasti,
tindakan KPK yang mengobrak-abrik ruang kerja KPU telah memberikan rasa
was-was para koruptor atau kandidatnya. Apa yang dilakukan oleh KPK itu
sebenarnya sudah lazim dilakukan oleh Badan Anti Korupsi di negara lain.
Misalnya saja Independent Commission Against Corruption (ICAC) Hongkong.
Karena pada awalnya korupsi yang terbesar di sana adalah pada kegiatan
kepolisian, Badan Anti Korupsi Hongkong dilatih untuk melakukan
penggerebekan lokasi perjudian dan prostitusi yang dilindungi oleh
aparat
kepolisian. Dengan demikian, saling-tembak dalam setiap operasinya, itu
adalah hal yang biasa.
 
Untuk Indonesia, menurut berbagai studi, korupsi terbesar terjadi dalam
kegiatan keuangan. Tentunya, cukup aneh jika pemberantasan korupsi di
Indonesia mengkopi habis  pola Badan Anti Korupsi Hongkong. Itulah
sebabnya, banyak warga masyarakat yang bingung melihat tindakan KPK yang
menggerebek Mulyana. Begitu juga dalam halnya dengan kegiatan audit BPK.
Baru kali inilah dalam pekerjaan auditnya BPK menjebak "klien-nya".
Kejadian ini akan membuat ngeri banyak auditee BPK. Di kemudian hari,
mereka tentu akan lebih berhati-hati dalam "bekerja-sama" dengan pegawai
BPK.
 
Bisa jadi, kejadian ini tidak direstui oleh pihak-pihak yang selama ini
"menikmati" hubungan baik dengan auditee BPK. Mereka tentu sangat
terancam
dengan tindakan Khairiansyah ini. Ini bisa menjawab kenapa Ketua BPK
menyatakan bahwa tindakan pegawainya bukan tindakan resmi dari BPK.***
 
 
Andy Kurniawan
YM : khoer_01
MSN : khoer_01
081319327882
 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/Ntf6vA/esnJAA/d1hLAA/KbPolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ilkom_usu/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke