Fwd: Re: [smansa-mdn-95] Fw: [smansabo95] TOFI indonesia.. superb! <-
- Pandangan yg agak beda...  
    --- In [email protected], *** <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Masih dari milis sebelah, semoga bisa jadi bahan
pertimbangan bagi teman2 siapa tahu nanti sudah jadi
para pejabat, pembuat keputusan atau pemikir2 di
Indonesia dalam menyikapi dan melihat kondisi seperti
di bawah ini.

Salam,
****
======================================================

17 Juli 2006
Aksi Bajak Siswa Cerdas
iman yuniarto dari Singapura

Jumat malam (14/7) pekan lalu menjadi jamuan malam
istimewa bagi 386
jago fisika dari 83 negara. Bertempat di ruang makan
Hall of Residents 
kompleks Nanyang Technological University (NTU),
Singapura, Prof Loh Nee
Lam, koordinator Office of Admission NTU, mengundang
secara khusus para
peserta Olimpiade Fisika Internasional ke-37 (37th
IPhO).

Sang guru besar universitas terkemuka di Singapura itu
hendak memberi 
wejangan. Namun, lebih dari seperempat jam sang
profesor menguraikan
presentasinya, tak satupun kalimat terucap menyebut
perkembangan fisika
mutakhir. Harapan ingin mendapatkan uraian segar
fisika terkini, para
peserta justru disodori formulir pendaftaran.

Ya. Sang profesor tidaklah sedang memaparkan
perkembangan 'Grand Unified
Theory', tapi malah mengajak siswa-siswa cerdas itu
untuk bergabung
dengan NTU pada tahun depan. Iming-iming beasiswa pun
ditebar. 

Bangun pagi-pagi, Pangus Ho (17 tahun), mengaku
terkejut, saat
didapatinya formulir pendaftaran NTU diselipkan di
bawah pintu kamarnya.
Sebelumnya, anggota tim Olimpiade Fisika Internasional
ke-37 asal
Indonesia ini sempat dihampiri salah seorang profesor.
Beasiswa penuh
baginya bila meneruskan studi di NTU.

Tak ada persyaratan khusus, hanya penerima beasiswa
itu harus merelakan
diri bekerja minimal tiga tahun di perusahaan milik
Singapura, usai 
lulus. Tawaran itu jelas menggiurkan, terutama bila
melihat sulitnya
memperoleh pekerjaan di Tanah Air. Ternyata tak hanya
Pangus. Empat
anggota tim 37th IPhO asal Indonesia lainnya juga
ditawari hal serupa.

Bagi NTU, para siswa berkemampuan di atas rata-rata
itu adalah aset.
''NTU tentu saja tertarik memberi beasiswa buat
siswa-siswa berbakat,
terutama peraih-peraih medali emas IPhO,'' kata Jackie
Yu Woonn Chi,
asisten director Corporate Communication Office, NTU,
Ahad (16/7),
kepada Republika, di sela penutupan 37th IPhO di NTU.

Demi prestise? Jackie tak menolak anggapan demikian.
Kehadiran jago-jago
fisika itu, tentu bakal mendongkrak nama fakultas
mereka. Syukur-syukur 
kelak mereka bisa berkontribusi untuk almamaternya.
Atau, paling tidak,
berguna bagi perusahaan-perusahaan di Singapura.

Ini bukan berita baru. Kata Jackie, persaingan berebut
siswa-siswa
cerdas tak hanya terjadi antaruniversitas Asia, tapi
sudah mengglobal.
Massachussets Institute of Technology (MIT) di Amerika
Serikat (AS),
misalnya, dikenal getol menawari beasiswa para peraih
medali emas IPhO.

NTU punya sejumlah program beasiswa. Salah satunya
adalah ASEAN 
Scholarship atau NTU Scholarship. Tak kurang dari
4.200 dolar Singapura
(Rp 25 jutaan) per tahun digelontorkan bagi siswa
cerdas. Di jurusan
Fisika NTU, salah seorang peraih medali emas IPhO asal
Indonesia adalah 
hasil rekrutannya. Kini, ada 25 alumnus IPhO Indonesia
yang belajar di
NTU.

Membajak siswa cerdas? Jackie kurang setuju dengan
pendapat itu. Toh,
katanya, mereka bisa mengaplikasikan pencapaian
ilmunya untuk negara 
masing-masing setelah tiga tahun bekerja di perusahaan
Singapura. ''Ini
kerja sama yang bagus,'' urai dia.

Tapi sesederhana itukah? Fachrian Adi Nugraha, 22
tahun, adalah mantan
tim IPhO Indonesia yang mendapatkan beasiswa NTU.
Belum genap setahun 
lulus, kini peraih honourable mention IPhO ke-33 di
Bali pada 2002 itu
bekerja di Motorola Singapura. Sesuai perjanjian, ia
harus menghabiskan
masa tiga tahun di Motorola.

Alumnus SUMN 78 Jakarta ini menegaskan dirinya bakal
balik ke Tanah Air. 
''Tapi belum tahu kapan,'' kata Fachrian yang
mengambil jurusan Teknik
Elektro di NTU. Ia merasa belum kenyang menimba ilmu
di negeri Singa
Laut tersebut.

Selain faktor pengalaman, fakta uang segepok tak dapat
dimungkiri yang 
membuatnya betah di Singapura. Sebagai fresh graduate,
upah sekitar Rp
17 juta ia kantongi per bulannya selaku software
enginer di Motorola.
Jelas, gaji itu tak sebanding dengan posisi yang sama
bila ia bekerja di 
Indonesia. ''Rata-rata insinyur yang baru lulus digaji
Rp 2,5 jutaan per
bulan, kecuali kalau bekerja di perusahaan asing,''
katanya. Karenanya,
ia menunda dulu kepulangan ke Tanah Air, selagi masih
mampu meneruskan 
sekolahnya.

Fajar Ardian, mantan tim IPhO Indonesia tahun 2002,
juga baru lulus dari
NTU. Namun, ia berencana tak langsung menuntaskan
perjanjian kerja di
perusahaan Singapura itu. Ia lebih memilih program PhD
selama empat 
tahun. ''Bekerja bisa ditunda dulu,'' urai alumnus SMU
Insan Cendekia
Serpong, peraih medali emas IPhO 2002 itu.

Fajar, yang menempuh jurusan Teknik Komputer di NTU,
paling sedikit
masih akan berada di Singapura tujuh tahun ke depan.
Apakah akan 
langsung pulang? ''Kita lihat kondisi di Indonesia
dulu. Kalau kondusif,
ya pulang, Kalau tidak, ya tidak perlu. Percuma,''
katanya.

Banyaknya cerita soal orang-orang potensial yang
kembali ke Indonesia,
tapi justru menjadi tak produktif lantaran tak
kondusifnya dunia kerja,
menguatkan tekadnya itu. ''Di sini fasilitas lengkap
dan kompetisi
keras,'' jelasnya.

Pandangan menguatkan disampaikan Ali Sucipto, mantan
tim IPhO Indonesia
2005 di Spanyol. Menanggapi isu 'brain drain'
jago-jago fisika itu, Ali
yang kuliah di jurusan Fisika NTU jalur nonbeasiswa
menyatakan tak
sederhana menilai banyak hengkangnya siswa Indonesia
ke luar negeri. 

Siapa pun yang pernah bekerja di luar negeri beberapa
lama, menurut
hematnya, akan memiliki mind-set yang lebih global dan
visi lebih luas.
''Mereka akan berpikir ulang, untuk apa kembali ke
Indonesia yang tidak 
kondusif.'' Apalagi, upahnya tak sebanding.

Tapi bagi Pangus Ho, kuliah di luar negeri bukan
'hidangan' yang
menarik, meski ia ditawari kuliah gratis di NTU tahun
depan. ''Saya
tidak suka suasana belajar di Singapura. Di sini semua
orang takut 
kalah,'' selorohnya.

Pangus menyebutnya kiasu, istilah populer di Singapura
yang artinya
persaingan amat keras. Ia khawatir, semangat yang
menjadikan setiap
orang tak mau kalah itu, membuatnya mementingkan diri
sendiri alias 
individualis. ''Kondisinya amat stres, tidak ada
kebebasan, tidak
enak.''
> 
> Ada cerita sedikit menghibur ;)
>  Salam                                              
>  ***
=== message truncated ===
 
 


--- In [email protected], "Andy Kurniawan" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: dany wicaksono <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Jul 19, 2006 2:37 PM
> Subject: [muslimblog] Beberapa kesan dari Olimpiade Fisika Dunia
> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
> 
>   This knews is really touchful. Yes, we still have a hope of our 
young
> generation.
> 
> ______________________________________________
> From: AJI, Agus ([EMAIL PROTECTED] <HanyaWanita%
40yahoogroups.com>
> Sent: Tuesday, 18 July 2006 15:18
> Tulisan singkat dr prof. yohanes surya,
> Semoga cukup menginspirasi
> 
> Beberapa kesan dari Olimpiade Fisika Dunia ke 37 Singapore 2006
> 1. Waktu upacara pembagian medali, Dutabesar kita duduk disamping 
para
> dutabesar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb. 
Waktu
> === some content message deleted ===
> Salam
> Yohanes
>






 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ilkom_usu/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke