----- Original Message -----
From: Adien P. Sudibyo

MENGAMBIL SENJATA DI MALAM HARI

Senjata apa yang diambil di malam hari...?
Mengapa harus waktu malam...?

Ketika guru SMAku yang mengajar ilmu bumi antariksa kami 
tanya tentang hakekat alam raya, beliau menjawab :

"Sebenarnya alam kita ini sedang berada pada waktu 
malam...."
"Tapi mengapa sekarang ini lagi siang pak?" Tanya temanku.
"Oh, sekarang ini tampak siang, karena kebetulan kita 
sedang berada pada bagian bumi yang menghadap matahari. 
Nanti malam, kita akan berada pada posisi balik dari 
keberadaan matahari." "Tetapi kalau kita perhatikan, 
seluruh alam ini, sebagian besar berada pada keadaan 
gelap. Matahari kita hanyalah sebuah titik kecil. Ia 
adalah bintang kecil, seperti yang dinyanyikan oleh 
anak-anak TK." Kata beliau.
"Karena itulah, kita harus selalu berbakti kepada Tuhan. 
Sebenarnya manusia ini berada dalam kegelapan, kecuali 
yang diberi cahaya oleh Tuhan." Jawab beliau berfilsafat.
Aku merenung, dengan apa yang disampaikan guruku. "Malam 
adalah hakekat kehidupan". Ah, menarik juga kata-kata 
beliau itu.
Alasan dan jawaban beliau agak aneh kedengarannya. Tetapi 
sangat masuk diakal. Mengapa? Sebab yang disebut siang di 
alam raya ini, ternyata begitu sedikitnya, dan begitu 
kecilnya. Semua gelap gulita kecuali bagian yang diterangi 
oleh bintang yang 'sangat kecil' itu.
Padahal bintang-bintang itu adalah benda raksasa. Tetapi 
menjadi kecil dibandingkan dengan besarnya alam raya. 
Ruang yang begitu luasnya di alam raya ini gelap semuanya. 
Sekali lagi yang terang hanyalah seujung jarum saja. 
Bagian lainnya malam, dan gelap gulita.
Kalaulah di galaksi ini ada seratus milyar bintang, maka 
seluruh space antar bintang itu gelap dan malam. Kalaulah 
di alam raya ini ada seratus milyar galaksi atau bahkan 
lebih, maka seluruh ruangan alam raya ini juga gelap dan 
malam, kecuali sedikit yang diterangi oleh matahari atau 
bintang.
Sehingga sebenarnya secara menyeluruh, di dunia ini tak 
ada waktu siang. Jika hari ini kita sedang berada pada 
giliran siang hari, sebenarnya sembilan puluh sembilan 
persen atau bahkan lebih, seluruh alam ini sedang dalam 
keadaan gelap gulita atau dengan kata lain sedang berada 
pada peristiwa malam.
Sehingga kalau Al-Qur'an mengatakan ada peristiwa yang 
terjadi di waktu malam hari, sebenarnya bagi orang yang 
berakal, Allah telah memberikan sebuah informasi yang 
bersamaan, yaitu secara parsial dan secara universal.
Secara parsial, yang terjadi pada daerah atau bagian bumi 
yang sedang berada pada waktu malam. Tetapi juga bisa 
berarti secara universal. Bahwa setiap saat dan watu, kita 
semua sedang berada pada saat universal yaitu sedang 
berada pada waktu malam. Kita disuruh berfikir dan 
merenung, bahwa semua sedang terjadi ‘saat 
ini’. Kalau-lah bagi kita sekarang ini sedang siang, 
boleh jadi di bagian belahan bumi yang lain atau langit 
yang lain, yang persentasenya jauh lebih besar, sedang 
terjadi waktu malam, alias gelap gulita.
QS. Al-Furqan (25) : 64
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan 
berdiri untuk Tuhan mereka.
QS. Qaaf (50) : 40
Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap 
selesai sembahyang.
QS. Adz-Dzariyyat (51) : 17-18
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di 
akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).
QS. Al-Muzzamil (73) : 6
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat 
(untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
QS. Al-Qadr (97) : 1
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) 
pada malam kemuliaan.
Kalau kita lihat, di dalam Al-Qur'an tidak kurang ada 
sebanyak 114 buah kata 'malam', dengan berbagai macam 
informasinya. Antara lain bahwa malam hari, adalah :
1. Waktu yang paling tepat untuk bersujud (Ali-Imran:113)
2. Waktu yang paling tepat untuk bertasbih (Al-Anbiyaa:20; 
Thaha:130)
3. Waktu yang paling tepat shalat sehingga bisa khusyu' 
(Al-Muzzamil:6)
4. Waktu untuk shalat tahajud (Al-Isra':79)
     Waktu yang paling tepat untuk mencari hikmah ( 
Adh-Dhukhaan:4)
5. Waktu yang paling tepat untuk mohon ampun 
(Adz-Dzariyaat:18)
6. Waktu yang diperbolehkan makan & minum bagi yang 
berpuasa
     (Al-Baqarah:187)
7. Waktu untuk beristirahat (An-Naml:86, Yunus:67, 
Al-Mu'min:61)
8. Waktu untuk tidur (Al-Furqan:47, Al-An'am:60)
9. Waktu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan mensyukuri 
nikmat  Allah (Al-Furqan:62)
10. Waktu untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan 
(Al-Isra':12)
11. Waktu untuk melihat / merenungi tanda-tanda kebesaran 
Allah (Al-Isra':1)
12. Waktu untuk mendirikan shalat (Huud:114)
13. Waktu yang dipilih Allah untuk diturunkannya Al-Qur'an 
(Al-Qadr:1)
14. Waktu yang dipakai malaikat untuk mengatur segala 
urusan (Al-Qadr:4)
Dari berbagai informasi tersebut, tampaklah bahwa waktu 
malam adalah waktu yang istimewa. Waktu yang tepat dan 
waktu yang hebat untuk mencari 'senjata' guna dipakai 
untuk melawan perbuatan setan.
Dengan memanfaatkan waktu malam, insya Allah kita akan 
bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah Swt. Jika 
seorang hamba bertambah dekat kepada Sang Penciptanya, 
insya Allah akan lebih mudah untuk mengalahkan sifat dan 
perbuatan setan yang selalu merugikan manusia.
Maka dari itulah dipilihnya waktu malam oleh nabi Ibrahim 
untuk mengambil senjata di malam hari di musdzalifah, 
sebanyak tujuh buah batu kerikil.
Tetapi apabila, kita berorientasi secara universal, bahwa 
sebenarnya kehidupan kita ini sepanjang waktu adalah malam 
hari, berarti di sepanjang waktu itu pula manusia disuruh 
untuk menyembah Allah, disuruh untuk berbakti kepadaNya. 
Disuruh untuk tahajud kepadaNya. Sehingga tak ada 'waktu 
luang' sedikit pun bagi manusia untuk tidak menyembah 
Allah.
Kalaulah malaikat mengatur urusannya menurut Al-Qur'an 
pada waktu malam, artinya sepanjang waktu dan setiap saat, 
malaikat sedang 'sibuk' mengatur segala urusan yang 
diperintahkan Allah kepadanya.
Bahkan Allah-pun selalu 'sibuk' memberi rahmat dan memberi 
perhatian kepada para hambaNya. Sebagai tanda kasih 
sayangNya.
QS. Ar-Rahmaan (55) : 29
Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta 
kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
Mengapa senjata yang diambilnya tujuh buah?
Angka tujuh memang merupakan angka yang penuh dengan makna 
filosofis yang tinggi, yang sering dipergunakan oleh 
Al-Qur'an untuk memberi pelajaran bagi manusia.
Di dalam Al-Qur'an jumlah kata 'tujuh' tidak kurang dari 
tiga puluh buah. Beberapa hal mengenai bilangan tujuh 
dalam Al-Qur'an :
1. Langit dicipta terdiri dari tujuh lapis (Al-Baqarah:29; 
Al-Mukminuun:17,86; Fushilat: 12; Ath-Tholaq:12; 
Al-Mulk:3; Nuh:15; AnNaba':12 )
2. Puasa tujuh hari setelah pulang haji (Al-Baqarah:196)
3. Akan mendapatkan pahala tujuh kali lipat, bagi orang 
yang menafkakan hartanya di jalan Allah (Al-Baqarah:261)
4. Neraka Jahanam mempunyai tujuh pintu (Al-Hijr:44)
5. Tentang diturunkannya tujuh ayat yang dibaca 
berulang-ulang
     (Al-Hijr:87)
6. Langit yang tujuh bertasbih kepada Allah (Al-Isra':44)
7. Perumpamaan tujuh laut untuk dijadikan tinta 
(Luqman:27)
8. Badai angin selama tujuh malam, bagi kaum Aad 
(Al-Haqqah:7)
Selain beberapa kata tujuh yang terdapat dalam Al-Qur'an 
tersebut, kata atau bilangan tujuh juga sering kita jumpai 
dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya:
1. Jumlah hari dalam kalender Islam atau dalam kalender 
masehi ada tujuh (minggu, senin, selasa, rabu, kamis, 
jum'at, sabtu)
2. Jumlah anggota badan / tubuh ketika bersujud dalam 
shalat, ada tujuh (dahi/ muka, dua telapak tangan, dua 
lutut, dua ujung jari kaki)
3. Jumlah spektrum / sebaran warna dalam cahaya ada tujuh 
(merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu)
4. Putaran thawaf, juga sebanyak tujuh kali
5. Perjalanan sa'i juga tujuh kali
6. Bahkan Rasulullah saw, memberikan informasi tentang 
tujuh golongan yang akan mendapatkan syafa'at ketika di 
hari kiamat nanti Mereka adalah : Pemimpin yang adil, 
Pemuda yang taat beribadah, Orang yang hatinya tergantung 
di masjid, Dua orang yang bersaudara karena Allah, Orang 
yang tengah malam menangis menyesali dosa-dosanya karena 
Allah, Laki-laki yang dipanggil wanita cantik tidak mau 
karena takut Allah, Seseorang yang bersedekah dengan 
sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak 
mengetahui ketika tangan kanannya memberi.
7. Manusia dalam hidupnya berada pada ruang besar, yang 
disediakan Allah baginya, yaitu tujuh lapis langit.
Manusia di dalam kehidupannya tidak pernah bisa keluar 
dari waktu yang disebut hari. Keluar dari hari senin, akan 
bertemu dengan -selasa dan seterusnya. Yang akhirnya akan 
kembali bertemu dengan hari senin pula. Manusia selalu 
berada pada bagian hari-hari yang jumlahnya tujuh.
Setiap saat bergerak dan berubah, selalu dipengaruhi dan 
selalu dalam lingkup dimensi tujuh warna. Kemana saja mata 
memandang selalu akan bertemu dengan warna kehidupan yang 
beraneka ragam, yang semuanya berasal dari 7 warna dasar.
Waktu sujud adalah bagian terpenting ketika seseorang 
menyembah kepada Tuhannya. Saat itulah seorang hamba 
merasa betapa lemahnya ia. Betapa rendahnya ia. Yang 
tinggi dan Yang Perkasa hanyalah Allah Swt.
Rasulullah memberikan sebuah signal, bahwa hanya tujuh 
golongan itulah yang insya Allah akan mendapatkan 
pertolonganNya. Karena itu sebisa mungkin, manusia 
haruslah bisa merebut ‘posisi’ itu. Apakah ia 
akan menjadi seorang pemimpin, apakah sebagai seorang 
pemuda. Apakah sebagai seorang hamba biasa, apakah dalam 
kaitannya kita bersaudara. Apakah sebagai seorang yang 
sering berbuat salah, apakah sebagai seorang lelaki yang 
sering tergoda oleh nafsunya. Apakah sebagai seorang yang 
sedang melakukan sodaqah... Rebutlah posisi itu, agar 
Allah mencintai kita, dan Dia memberi payung syafa'at 
untuk menolong kita.
Sehingga dengan senjata yang sebanyak tujuh butir batu 
kerikil itu, seolah kita selalu diingatkan Allah, bahwa di 
dalam kehidupan kita, dimana manusia sering lupa dan 
sering tergoda oleh nafsunya, ambillah senjata untuk 
menangkal itu semua. Ambil senjata itu di waktu malam 
hari, dengan cara melakukan shalat malam. Ingat ketika 
sujud ada tujuh anggota tubuh kita yang kita pasrahkan ke 
hadirat Allah Swt. Untuk mohon perlindunganNya. Dan mohon 
ridhaNya, dalam mengarungi hari-hari yang tujuh di dalam 
kehidupan ini. Juga agar tidak tergoda dengan warna-warni 
kehidupan yang penuh dengan tipu daya.... insyaAllah.
IKRAR
Setelah semuanya usai,
Maka berjanji untuk diri sendiri,
menjadi penting adanya...
Saat-saat akhir perjalanan ibadah haji adalah ketika para 
jama'ah berikrar di Mina dengan cara melemparkan 
‘senjata' yang telah diambilnya di waktu malam dari 
mudzdalifah. Mereka melempar jumrah ke tiga tempat, yaitu: 
jumratul ula, jumratul wustha, dan jumratul aqobah.
Inilah sebuah ikrar yang sangat penting dari rangkaian 
perjalanan haji. Inilah sebuah ‘janji’ dari 
setiap jama'ah haji sebelum mereka pulang ke tanah air. 
Janji kepada dirinya sendiri. Janji telah menjadi hamba 
Allah yang taat, yang akan selalu menganggap setan dan 
perbuatannya sebagai musuh utamanya. Dalam janji ini, yang 
menjadi saksi adalah diri sendiri. Bukan orang lain. Dan 
tentu Allah Swt sebagai saksi utamanya.
Ketika nabi Ibrahim as akan melaksanakan perintah Allah, 
maka setan dengan berbagai caranya menggoda dan 
mempengaruhi hati nabi Ibrahim agar menentang perintah 
Allah. Tetapi dengan kekuatan hatinya dan dengan kekuatan 
iman serta cintanya kepada Allah, berhasillah nabi Ibrahim 
melempar dan menjauhi pengaruh syaitani.
Kini tinggallah para jamaah haji, bagaimana mereka 
berikrar dan berjanji untuk tetap memusuhi perbuatan 
syaitani tersebut. Setelah kembali menjalani aktivitas 
sehari-harinya.
Ikrar adalah sebuah moment penting dalam hidup beragama. 
Dengan ikrar manusia menjadi mampu untuk berkomitmen dan 
beristiqomah.
Rukun islam yang pertama, sebelum menjalani rukun yang 
lain, seorang muslim harus berikrar dan menjiwai dua 
kalimat syahadat. Kalimat kesaksian bahwa Tiada Tuhan yang 
patut disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah 
utusan Allah.
Dalam setiap kita melakukan shalat, sebelum membaca 
Al-Fatihah, disunahkan untuk membaca do'a iftitah, yang di 
dalamnya terdapat sebuah ikrar yang indah dari seorang 
hamba kepada tuhannya. “...inna shalaati wa nusuki, 
wamah yaaya wamamaati, lillaahi rabbil 
alamiin…”
Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, 
hanyalah karena Allah tuhan semesta alam..
Bahkan dalam masalah iman, janji adalah suatu kebajikan 
yang harus ditepati. Allah akan menagih janji itu. Sebab 
Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat manusia.
QS. Al-Baqarah (2) : 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu 
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu 
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, 
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan 
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, 
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) 
dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) 
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan 
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, 
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan 
dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar 
(imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
QS.An-Nahl (16) : 91
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu 
berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpahsumpah (mu) 
itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan 
Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). 
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Proses melakukan ikrar, sungguh sangat berat. Seorang 
jamaah harus berjuang melawan situasi dan kondisi yang 
sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Tidak 
jarang ketika melakukan proses melempar jumrah tersebut, 
terjadi banyak kurban. Ada yang terinjak, tertindih, 
tergencet, terdorong, sampai tak bisa bernafas. Bahkan 
sampai-sampai banyak yang meninggal dunia dalam proses 
tersebut. Sebuah proses yang memerlukan perjuangan keras, 
dengan komitmen yang tinggi.
Ketika pak Yono, sedang melempar jumrah, saat itu ia 
terpisah dengan rombongan. Semua sudah pulang kembali ke 
tenda masing-masing, pak Yono belum pulang juga. Sehingga 
dihinggapi rasa khawatir yang sangat dalam. Tetapi setelah 
lama ditunggu, akhirnya ia datang juga dengan nafas 
memburu, dengan pakaian dan rambut yang lusuh. Pak Yono 
bercerita, dengan penuh haru.
"Ya Allah, sungguh saya sudah pasrah, andaikata saya harus 
menghadap Allah pada saat itu juga. Sungguh luar biasa! 
Lautan manusia menghimpit saya. Dari kiri, kanan, muka, 
belakang... Bahkan kaki saya tidak menginjak tanah lagi. 
Kedua kaki saya terangkat, badan saya terombang-ambing 
kesana kemari...ya Allah.." Kenangnya sambil mengusap 
keringat dan air matanya.
Inilah sebuah ikrar, yang memerlukan perjuangan yang 
ekstra keras untuk mencapainya. Semoga ikrar itu 
menjadikan motivasi tersendiri bagi para jama'ah haji 
dalam kehidupan kesehariannya... insyaAllah.


--------------------------------------------------------------------------------
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu 
wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila 
diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan 
membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika 
Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna 
dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, 
tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu 
sebatas yang engkau mampu.
========================================================================================
Mari bergabung dalam e-community kami di www.manggamuda.com. Kamu akan bertemu 
teman-teman baru, berbagi cerita, mendapatkan info-info menarik dan masih 
banyak lagi hal-hal menarik lainnya.  Tunggu apa lagi, buruan ke ManggaMuda!!! 
See you there :)
========================================================================================
 

Kirim email ke