NAUDZUBILLAH.....
----- Forwarded Message ---- From: Dudy D Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, May 15, 2007 10:40:23 PM Subject: [diklat_kader] Unit GAY-ITB rekansintermezzoo saja..Maaf kalau sudah pernah baca..ntar kalau UG-ITB bisa berdiriakan ada Unit Lesbong-ITBterus muncul Unit Multi-sex ITB..waahh...kumaha ieu.. ITB memang selalu dinamis tapi satu hal yang tetap konstantsemua orang jeniyus,cerdas, pinter,waras, gila,keblinger, nyentrik di ITBaroganya engga berubah...hehewassdudy----- Forwarded message from Enda Nasution <[EMAIL PROTECTED] com> ----- Date: Wed, 16 May 2007 09:57:35 +0700 From: Enda Nasution <[EMAIL PROTECTED] com>Reply-To: "" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Itb] Gay ITB To: "" <[EMAIL PROTECTED]>Dari edisi Boulevard ITB terbaru. Walau sebagai gay, Gay ITB tetap arogan.:D*Sori kalo udah baca*Enda."I am gay."Oleh Batari Saraswti dan Floresiana Yasmin IndriastiBoulevard ITB 57 | Mei 2007Masih ingat adegan dari film Arisan yang diputar beberapa waktu lalu dibioskop? Di akhir cerita, salah satu tokoh utama yang diperankan oleh ToraSudiro memperkenalkan diri:"Saya, Sakti. I am gay."Jangan kaget jika suatu hari kamu berkenalan dengan tokoh serupa Sakti dikampus ITB.Soni, bukan nama sebenarnya adalah salah seorang mahasiswa ITB. Laki-lakiyang terkesan kalem ini mengaku pertama kali menyadari penyimpanganorientasi seksualnya sejak kelas 6 SD. Tak seperti layaknya laki-laki padaumumnya, Soni merasa lebih tertarik pada sesamanya. Bahkan dia mengaku, "SMPkelas 3 gue udah ngga bernafsu ngeliat cewek."Soni, lulusan salah satu SMA ternama di Jakarta, baru mulai berani membukadiri saat kuliah. "Gue udah tau di ITB banyak. Gue masuk ITB alasannya itu,"ujarnya sambil tertawa. Gay ITB berkumpul dan melahirkan semacam komunitas.Terhitung sejak awal tahun ini, sudah empat kali mereka mengadakangathering, dan tempatnya di luar kampus."Sebelumnya ada gathering se-Bandung, tapi anak-anak ITB cenderung lebih kedalam," lanjutnya. Alasannya menurut Soni, ada beberapa teman yangberanggapan komunitas gay di luar ITB sudah tidak jelas 'main'nya kemana."Padahal nggak juga," ujarnya.Tak hanya mahasiswa ITB yang datang ke acara gathering, alumni angkatan '70pun pernah hadir di sana. "Salah satu pengamat ekonomi lah...," tandas Soniyang mengaku lupa nama alumni tersebut.Di kesempatan lain kami bertemu dengan teman Soni. Sebut saja, Anton. Diapun cukup aktif terlibat dalam komunitas gay ITB. "Gak ada officialleader-nya. Cuman, ada orang yang dipercaya untuk ngadain gathering, namanyahost," begitu penjelasan Anton ketika ditanya 'cara kerja' komunitas ini.Host berganti setiap kali gathering. Anton sendiri pernah menjadi host salahsatu gathering yang diadakan pada pertengahan Januari lalu di salah satukafe di daerah Cibeunying.Sempat beredar isu bahwa komunitas ini ingin mengukuhkan diri sebagai unit.Bahkan, terdengar kabar bahwa proposal pendirian unit itu sudah sampai keLembaga Kemahasiswaan. "Iya, gue pernah dengar tuh. Tapi mau ngapain jugadibikin unit. Kegiatannya apa?" komentar Anton, sangsi.Anton mengaku bahwa banyak orang dari komunitas ini menganggap ia adalahsimbol. Dia memang 'terbuka' mengenai orientasi seksualnya pada lingkungansekitar, dan merasa nyaman. Dia bahkan aktif di himpunan dan sempat memegangjabatan struktural. "Tidak ada perlakuan diskriminitif, " ujarnya. Tapi adabeberapa orang yang tidak setuju dan memilih tidak berinteraksi lagi denganAnton. "Sedikit, hitunglah dari seribu orang, satu yang begitu." ungkapnya."Gay di ITB itu beda sama gay di luar. Mereka lebih jaim. Ada yang kaloketemu gua, pura-pura gak kenal," komentar Anton soal teman-teman gay diITB.Hal ini dibenarkan pula oleh Andi, salah seorang gay lain yang kami temui."Anak luar ITB lebih open minded, anak ITB lebih suka sendiri-sendiri. "Dari kebiasaan yang terkesan individual itu, tercetus lah ide gathering.Sekedar untuk saling mengenal dan hafe fun, demikian alasan yang diungkapkanAndi yang merasa lebih sreg menggunakan kata 'arisan' ketimbang 'komunitas'untuk merujuk pada perkumpula gay di ITB. "Acaranya biasanya tuh cumakenalan, terus ada games, ngobrol-ngobrol. Ya gitu-gitu aja...," imbuhnya.Tak hanya bercerita tentang gathering, Andi pun bersedia berbagipengalamannya. "Menjadi gay itu ada fasenya. Pertama denial, di fase iniyang menentukan nantinya gimana. Ini fase yang susaaah banget. Masa denialgue 5 tahun. Kedua, accepntance. Di sini udah mulau curious dan cariinformasi," jelas Andi.Bagi Andi, menjadi gay itu adalah pilihan. "Hidup itu pilihan, gue pengenkayak gini," ujarnya. "Gue milih ini karena gue udah siap. Kebanyakan orangsuka let it flow dan tahu-tahu mereka stuck, 'kok gue udah sejauh ini ya?'"Dia pun sudah memantapkan hatinya untuk tidak akan menyukai lawan jenis,sekalipun ia pernah merasakan pacaran 'normal' semasa SMA. Bukan karenaperempuan tidak menarik. "Buat gue cewek hanya untuk dikagumi," ujarnyatersenyum.Bagaimana dengan lesbi? Arin, bukan nama sebenarnya, juga mahasiswa ITB.Sekilas, tidak ada yang berbeda pada Arin, hanya sikapnya yang sedikittomboy. Dia mengaku sudah mulai merasakan suka pada perempuan sejak ia dudukdi bangku SD."Gue bi (biseks, red)," akunya. Beberapa waktu lalu ia pernah bertunangandengan pacarnya, seorang laki-laki. Namun saat ini sudah tidak lagi. "Guesayangnya sama cewek, ya udah..."Bagaimana Arin memberdakan perasaan saya ini, sebagai sekedar perasaanterhadap teman atau pacar? "Ya gua deg-degan. Kan ga lucu kalo deg-degansama remen." Baginya, perempuan yang menarik adalah perempuan berambutpanjang, berkulit putih, dan juga pintar.Untuk mendeteksi seorang homoseksual atau tidak, baik Arin, Soni, Antonmaupun Andi, sepakat bahwa kaum homokseksual umumnya dianugrahi gaydar.Soni mengatakan kaum lesbi umumnya lebih tertutup, namu Arin mengaku, ia danbeberapa teman lesbi lainnya sering ikut berkumpul saat gathering kaum gaydilakukan. Membandingkan komunitas homoseksual di luar dan dalam ITB, Arinberkomentar, "Anak luar lebih ngumpul hedon yang keterlaluan. Kuliahketeteran. Anak ITB nggak, masih terkontrol, masih punya otak.""Apa sih gunanya orientasi seksual? Gua pikir yang lebih itu apa yang lolakuin. Percuma aja kalo lo lurus kalo hidup lo bejat dan ga pernahmelakukan apap pun untuk orang lain. That doesn't mean anything," ujar Arin.Tentu saja, mereka bukannya tidak menyadari perilkau mereka dapat menuaitantangan dari berbagai pihak. Rendy Saputra (TM'04), Sekretaris JendralKeluarga Mahasiswa Islam yang juga Anggota Majelis Syuro', berkomentar,"Pertama, mereka (kaum gay-red) tidak bisa memberikan keturunan. Kedua, itu'barang' tidak dimasukkan ke tempat yang benar kan." Ketakutan Rendy ialahlahirnya pelabelan sosial jika sampai komunitas gay ini mendeklarasikan diridan diterima oleh ITB. "'ITB saja, universitas yang intelektual danpemikiran rasional punya keberterimaan kepada komuntias ini". BerartiIndonesia nggak cerdas, dong."Rendy lebih lanjut berkata, "Anda (gay-red) bukan musuh. Anda bukan untukdikucilkan. Tapi Anda ini sakit dan harus diobati."Tapi bagi Anton, tidak ada istilah sakit dalam komunitas mereka. "Cumagara-gara jumlahnya sedikit aja kok," ujarnya. "Gua ga suka ditanyain 'kapansembuh?' Sembuh dari apa?"Boulevard ITB 57 | Mei 2007 Dudy ~ wash your face, don't brake the mirror ~ Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and always stay connected to friends. ____________________________________________________________________________________ Be a PS3 game guru. Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121
