Bung Eka,
Topik ini rasanya isu klasik sejak awal orde baru.
Tapi beginilah kita dengan segala kenaifan.
Para praktisi dan pembuat kebijakan semua berpikir jangka pendek dan
sangat ego pada kebutuhan diri/keluarga/kelompok. Tidak memikirkan
bangsa ini perlu ada dan akan eksis untuk waktu yang lama, untuk
sekian banyak manusia, sekian banyak generasi.
Ketika ada satu dua pribadi/kelompok yang berjiwa patriotis berpikir
dan berbuat jangka panjang, serta merta muncul pula tentang cemooh:
apa mampu, sok populis, sok idealis, pemborosan, investasi jangka
panjang yang tidak jelas, dst....
Jadi bagaimana kita mau maju kalau sibuk memperkaya
diri/keluarga/kelompok dengan sekian M, tapi sebenarnya membuat
bangkrut bangsa sekian puluh T.
Ini yang perlu kita benahi segera...
Berhenti mencari keuntungan sesaat dan lokal, lalu bergerak membuat
sinergi agar timbul kesadaran bersama bahwa semua kekayaan negara ini
anugerah Tuhan untuk semua dan sepanjang hayat bangsa....
salam,
Ganda
On 8/7/07, - ekadj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
>
>
> Pak Rofiq dan Bang Elwin ysh,
> Sebelum menanggapi pak BSP, terlebih dahulu sedikit saya gugah hobby pak
> Rofiq yang lain. Di majalah Indonesia Shipping Gazette saya menemukan
> artikel menarik: 'Indonesia needs to process mining exports for added
> value'.
> Pembukaannya cukup berkesan: "Indonesia needs to transform itself from a raw
> commodities exporter into a value-added commodities exporter. ….."
> Disebutkan beberapa minggu yang lalu tivi-tivi lokal memberitakan kompetisi
> pelajar dalam pembuatan robot, terutama untuk fungsi-fungsi khusus seperti
> pemadam kebakaran dsb. Ada hal yang umum, robot-robot itu terbuat dari
> metal: besi, nikel, juga aluminium.
> Walaupun Indonesia tidak memproduksi robot, namun sebagai negara vulkanik
> kita memiliki sumber daya metalurgi yang luar biasa. Selama ini kita lebih
> berpengalaman sebagai negara pertanian, yang menghasilkan cpo, karet,
> coklat, kopi, dan 'jagung'; juga sebagai negara penghasil sumber daya
> energi: minyak, gas, dan batubara. Padahal timah, emas, tembaga, nikel, biji
> besi, dan bauksit saat ini sudah menjadi key export commodities. Mining
> products saat ini sudah menjadi key export bagi negara Jepang, China, dan
> USA. Sayangnya mining exports kita masih berupa unprocessed form.
> PMA yang beroperasi di sektor pertambangan pada umumnya mengekspor begitu
> saja hasil tambang, sehingga kita kehilangan 'sejumlah uang' dari proses
> nilai tambah yang seharusnya. Sebagai contoh disebutkan adalah nikel dan
> bauksit.
> Saprolite dan limonite adalah bijian nikel, masing-masing dijual dengan
> harga US$ 55 / wmt (wet metric tons) dan $ 31. Di lain pihak ferronickel,
> terbentuk dari peleburan nikel yang menggunakan 80 wmt saprolite untuk
> setiap 1 ton feronikel; dapat dijual seharga $ 10/lbs atau lebih $ 22.000 /
> ton. Hal ini ekivalen dengan 400 kali harga nikel bila dijual mentah/bijian.
> Contoh lain disebutkan adalah bauksit, yang dapat dijual dengan harga $
> 11-12 / wmt. Namun bila bauksit ini diproses menjadi alumina, harganya bisa
> mencapai $ 360 / ton. Dengan kata lain harga alumina adalah 30 kali dari
> harga bauksit.
> Bagi Indonesia adalah penting untuk memproses terlebih dahulu hasil tambang
> menjadi komoditi yang lebih bernilai sebelum diekspor. Untuk itu diperlukan
> penguasaan teknologi, walaupun dengan 'cara paksa' alih teknologi. Bagi
> negara-negara maju, teknologi masih menjadi key competitive advantage.
> Sedikit berkebalikan bila saya pernah bertemu dengan seorang engineer dari
> Krakatau Steel di Jepang yang sedang mengikuti kursus pengelasan. Disebutkan
> bila KS masih mengimpor biji besi dari Brazil lebih 90% dari bahan baku
> industri. Sisa pasokan diperoleh dari berbagai tempat termasuk dalam negeri,
> bisa berbentuk besi-besi bekas, atau apakah kita memang memiliki tambang
> biji besi? Dari cerita pak Aby kita mendapatkan informasi bila banyak
> kendaraan tempur ex-WW II di Morotai yang dibawa habis ke Cilegon, dan hanya
> menyisakan 1 tank saja.
> Kembali ke mimpi perencanaan, salah satu penawaran yang telah disebutkan
> adalah menjadikan Morotai sebagai tempat untuk mengolah hasil tambang kita,
> sehingga 'siap jaja' untuk kebutuhan dunia.
> Demikian dulu. Salam.
>
> -ekadj
> ________________________________
> Walla! Mail - get your free 3G mail today
>
>
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/immam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/immam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/