Ustadz Juga Manusia (sebuah fiksi - untuk kalangan sendiri)

http://mandrib.blogsome.com/2007/08/22/ustadz-juga-manusia-sebuah-fiksi/


(Kisah berikut nggak ada hubungannya dengan makhluk manapun yang sudah
mati, yang masih hidup, yang akan mati, maupun yang merasa nggak
mati-mati. Kesamaan nama oknum dan lain-lain bukanlah suatu
kesengajaan. Lha, namanya juga fiksi, man!)


Murid Garing: Wah, Pak Ustadz, Bapak Anu yang penjahat, eh sorry,
penjabat, di Departemen Hantu, hebat ya, punya mobil Mercy, kebun
sawit di mana-mana, anak-anaknya pada sekolah di sekolah mahal.
Jangan-jangan beliau korupsi, ya?

 
Ustadz Ucok: (sambil tersenyum bijaksana, mengangguk-angguk takzim,
dan mengelus-elus dagu Spiteful) Sabar, dik. Kita harus berprasangka
baik. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa (Al Hujurat
[49]:12). Siapa tahu beliau dapat warisan.

 

Murid Garing: Emangnya banyak penjabat dapet warisan ya? Kok pada
kaya-kaya, jarang ada yang bersahaja seperti Rasul saw atau Umar bin
Kaththab ra? Kagak kasian sama rakyatnye?

 

Ustadz Ucok: Wah, itu tergantung pada pribadi masing-masing. Rezeki
masing-masing dan urusan masing-masing atuh.

 

Murid Garing: Ustadz ini udah kayak artis aja, semua-mua pake
"Tergantung pada pribadi masing-masing." Kayaknya udah tertular virus
liberalisme nih.

 

Ustadz Ucok: Yah, Ustadz juga rocker, eh… maksudnya, manusia. Yang
penting kita nggak boleh iri terhadap rezeki orang lain. "Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain." (An Nisa [4]:32)

 

Murid Garing: Ayat itu kan ada lanjutannya, Ustadz. "… bagi orang
laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi
para wanita ada bahagian dari apa yang mereka usahakan." Kalau
usaha-nya hasil korup.... 

 

Ustadz Ucok: (memotong) ... ya ada bagiannya juga. Sudahlah, ngapain
ngurusin orang lain. Hisablah dirimu sendiri. Jagalah hati... jagalah
hati.... 

 

Murid Garing: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak
khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan
ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (Al Anfal [8]:25).
Menurut Tafsir Al Mishbah, sendi-sendi bangunan masyarakat akan
melemah bila kontrol sosial melemah. Akibatnya, akibat kesalahan tidak
menimpa hanya kepada yang bersalah: si Polan yang mbuang sampah ke
sungai, si Pokir yang kena banjirnya. 

 

Ustadz Ucok: Bener juga, nih. Kalau kebanyakan menjaga hati saja, itu
tanda orang yang beriman lemah. Lebih baik bersuara, dan paling baik
bertindak.

 

Murid Garing: Gitu dong, Stadz. Btw, kenapa nggak kita teliti dulu
kasus Bapak Anu, penjabat yang kaya raya tadi? Apa bisa beliau
membuktikan bahwa hartanya bukan hasil korupsi, atau pembuktian
terbalik? Kalau dia dapat warisan, apa bisa beliau membuktikan bahwa
orang tuanya dulu itu juga kaya raya, bayar pajak, dan bukan penjabat
juga? 

 

Ustadz Ucok: Ssssst… jangan banyak cincong, Ring. Sini ana bisikin …
ana nggak enak atuh, soalnye kemaren ana naek haji, Bapak Anu itu yang
ngongkosin. 

 

Murid Garing:  ... (pingsan) ...

Kirim email ke