Assalamu'alaikum wr. wb.,

Semoga bermanfaat. Kalau bisa, mohon di-forward-kan ke para koruptor, 
keluarganya yang mengetahui dan mendukung aksinya, dan semua 
kroni-kroninya. :-)

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

Andri
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/


---article begins---

Menyuap Malaikat, Membeli Surga!
========================


Ada banyak koruptor yang rajin bersedekah dan menyantuni anak yatim. Ada 
artis-artis erotis yang membangun masjid dan pesantren. Inilah fenomena 
'membeli surga'


Oleh: Nasrulloh Afandi *


Membeli surga? Rasanya kok mengada-ada. Tapi fenomena seperti ini banyak 
kita rasakan dan cukup “nge-trend” di negeri kita. Gelombang “simbolis 
religius” akhir-akhir ini banyak terjadi, khususnya di kalangan artis, 
pejabat dan orang-orang superkaya. Surga dan malaikat, seolah-olah bisa 
disuap dengan uang dan harta kekayaan mereka.

Meski tak banyak, ada saja kalangan pejabat yang nampak alim ketika 
pulang kampung. Bersedekah dimana-mana, membantu masjid dan royal pada 
anak yatim. Sebaliknya, di luar rumah, dia justru dikenal sebagai 
pejabat paling korup dan suka me-mark-up dana APBN/APBD.

Pernah suatu kali, di sebuah surat pembaca konsultasi fiqih di majalah 
Islam, seseorang pembaca bertanya, “Ustadz, sebelum ramai-ramai istilah 
KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), saya bergelimang uang haram. 
Bisakah dosa saja terhapus bila kami sumbangkan pada yayasan yatim piatu?’

Ini adalah fenomena nyata di masyarakat. Artis-artis kita, nampak sopan 
di kala Ramadhan. Seorang penyanyi erotis bahkan berjanji mengenakan 
jilbab bila di panggung selama puasa. Artis-artis lain juga 
beramai-ramai bersedekah. Meski selesai Ramadhan, kegiatannya mengundang 
syahwat kembali lebih "gila" dari bulan puasa.

Uang, seolah bisa “menyuap malaikat Rokib”, malaikat pencatat amal 
ibadah. Inilah adalah fenomena "pragmatisme ibadah," yang dilematis bagi 
Muslimin.


Makelar Surga
---------------

Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup 
memproklamirkan diri katanya "cinta agama," mayoritas - untuk dimaksud 
tidak semuanya - mereka adalah para “makelar surga” paling berpengaruh. 
Di depan publik, ia mempromosikan, bahwa surga adalah "komoditas" yang 
bisa diraih dengan bermodal materi.

Kalaulah hal itu dianggap ibadah sampingan, tentu tidak masalah. 
Ironinya adalah mengesampingkan esensialitas ibadah kepada Allah SWT. 
Memang, dalam hati kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya. 
Namun magnet godaan setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih 
kuat mengalahkan keimanannya.

Keroposnya akar-akar Islam "di lapangan ibadah," baik vertikal (kepada 
Allah) maupun horizontal (sesama umat beragama), adalah resiko dominan 
dari "komoditas surga."

Faktor utamanya, mereka, umumnya berpikir pragmatis. Bahwa dalam konteks 
ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering 
tanpa memperdulikan uang halal atau haram. Lebih menggelikan, ada yang 
berceletuk, "Berbuat demikian itu lebih baik, daripada tidak sama sekali ".

Karena itu, para koruptor, yang tak malu mengeruk duit rakyat atau 
artis, tak terkecuali artis bintang porno, yang mempublikasikan diri 
melalui berbagai media massa secara gegap gempita menjadi "santri" dan 
sopan. Bergagah-gagahan berebut membangun masjid-masjid dan menyantuni 
para yatim piatu dengan mengundang wartawan.

Seolah-olah mereka adalah "teladan beribadah" bagi segenap Muslimin. Ia 
hanya ingin menunjukkan pada publik bahwa, sesungguhnya, surga masih 
bisa dibeli. Fenomena menarik seperti ini jelas jauh dari autentisitas 
ibadah secara syar’i.

Hak surga dan neraka adalah prerogratif Allah SWT sebagamana surat yang 
berbunyi, “Dia (Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan 
menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara 
keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali segala sesuatu." (QS 5:18).

Tapi merupakan kesalahan fatal bila ada manusia bermaksud "meng-kaveling 
surga", hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Apalagi, i’tikad dari 
ibadah itu tetap tidak merubah kebiasaan buruk nyasehari-hari.

Islam adalah agama yang tak bisa dipraktekkan seenaknya. Ada syarat dan 
rukun dalam ibadah. Dan itu tidaklah berdasarkan karangan akal-akalan.

Dalam perspektif hukum fiqih, empat madzab fuqoha ahlissunnah waljama'ah 
(Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i) ada 
kesepakatan bahwa generalitas dalam beribadah selain ada rukun yang 
dilaksanakan sebelum memulai ibadah, terlebih dulu harus memperhatikan 
terhadap syarat-syaratnya.

Selain ada syarat diwajibankannya (beribadah), utamanya harus memenuhi 
syarat sah, agar sesuai prosedur (ibadah)nya menjadi sah.

Beragama jelas ada prosedurnya. Bolehkah membangun pesantren dengan uang 
hasil memamerkan aurat badan di berbagai media massa? Hasil dari goyang 
erotis? Jelas tidak. Beribadah jelas ada ketentuannya. Misalnya, meski 
sama-sama air, tidak boleh mencuci lantai masjid dengan air kencing. Ini 
sama halnya menyantuni anak yatim dengan uang hasil korupsi.

Dalam Qawa’id al-Fiqh, dikenal “al-Ashlu baqou ma kana a’la makana” 
(hukum sesuatu hal, itu sesuai dengan kondisi asalnya). Umpamanya, uang 
haram dijariahkan ke masjid, maka tetap haramlah hukum menyalurkan duit 
(haram) itu.

Sedekah atau sifat dermawan memang dianjurkan. Namun, dengan harta 
haram, dalam konteks ibadah, hal itu hanya melaksanakan rukun, sedangkan 
menafikan syarat (ibadah) tentunya menyebabkan tidak sah.

Sebuah hadis mengatakan, “Dan memang, harta itu, hisabnya (pertanggung 
jawaban di hadapan Allah) dua hal; dari mana (dengan cara apa) 
diperoleh, dan untuk apa dipergunakan.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Barzah 
R.A.).

Karena itu, Nabi pernah menghancurkan masjid dhirar karena karena 
dianggap dapat memecah belah umat dan menimbulkan keresahan. Jika hanya 
menggunakan akal, penghancuran itu jelas perbuatan tidak waras. Bukankah 
masjid adalah rumah Allah tempat orang bersujud?

Karenanya, tidaklah tepat, menjadikan hal haram atau subhat itu, sebagai 
argumentasi "untuk mencari modal" beribadah. Bukankah sangat banyak 
jalan untuk mencari rezeki sekaligus tanpa mencampakkan konstitusi 
(syariat) Ilahi?

Bila beribadah orientasinya masuk surga-menjauhi neraka, otomatis 
signifikan mengikis kualitas orisinilitas ibadah. Perspektif tauhid 
adalah termasuk Asy-Syirku al-Asghar (bagian dari penyekutuan kepada 
Allah SWT).


Efek Samping
--------------

Kompleksnya sistem media informasi, berperan aktif menularkan hedonisme. 
Kenaifan itu pun telah kronis mewabah ke plosok-plosok. Kini di 
daerah-daerah pun telah "nge-trend" terjangkit virus "Menyuap 
Malaikat-Membeli Surga," yang berujung semakin terpinggirkannya 
implementasi kualitas ibadah.

Fenomenanya, mereka mau menyumbangkan materi untuk pembangunan masjid, 
namun berat untuk melangkahkan kaki shalat berjamaah ke masjid. Atau 
marak pula (orang-orang daerah) gemar menyumbangkan duit untuk 
acara-acara pengajian/majlis ta’lim, namun enggan mengikuti pengajian di 
majlis yang didonasinya itu.

Inilah kaum hedonis (pemuja harta) yang gede rasa (GR) merasa bisa 
"membeli surga." Prinsipnya, "Boleh berpuas-puas berbuat dosa dengan 
kemewahan harta, termasuk cara (haram) memperoleh hartanya. Toh, harta 
itu akan mampu "menyuap malaikat sekaligus membeli surga!"

Allah berfirman, “Akan datang suatu hari, yaitu pada hari di mana tidak 
bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap 
Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'araa': 88-89)

Melaksanakan perintah Alah dan menjauhi larangan-Nya sesuai orisinilitas 
syariat itulah sesungguhnya esensi dari kehidupan manusia dan beribadah. 
Karenanya, yang merasa bisa "menyuap malaikat dan membeli surga," Anda 
jangan merasa GR!. Wa Allohu A'lamu bi ash-Showab.


*) Penulis adalah alumnus pesantren Lirboyo Kediri, aktivis muda NU, 
sedang "mengasingkan diri" di Universitas Karaouiyine Maroko

---article ends---


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/immam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/immam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke