Assalamu'alaikum wr. wb.,

Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat 
ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api 
yang dapat mendidihkan otaknya.
Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat 
siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan 
bagi penghuni neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga bisa diambil hikmahnya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

Andri

"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/



--forwarded message begins---
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Menghias Hati dengan Menangis
Oleh: Muhammad Nuh

dakwatuna.com
“
Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan 
sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan 
segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. 
Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

- Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain

Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah 
dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, 
tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan 
keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan 
tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada 
dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang 
lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya 
kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. 
Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak 
beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh 
lebih banyak lagi.
Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah 
tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum 
berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa 
yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak 
masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

- Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung

Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu 
hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati 
diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan 
akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang 
lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur 
lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi 
itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. 
Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau 
karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita 
begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, 
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah 
yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia 
menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang 
baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak 
sulit bagi Allah.”

- Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi 
kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran 
itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang 
malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya 
akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat 
amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat 
Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi 
sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. 
Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang 
diperintahkan Rasulullah.
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala 
bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti 
akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan 
yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu 
pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan 
pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan 
taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka 
tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. 
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang 
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? 
Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan 
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang 
beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, 
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

- Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih

Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul 
dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan 
izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas 
dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. 
Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
“
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, 
dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu 
mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian 
di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. 
Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah 
contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa 
penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua 
tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. 
Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat 
siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan 
bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, 
hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah 
yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, 
jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan 
kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

--forwarded message ends---



Kirim email ke