Assalamu'alaikum wr. wb., Saya kira, ada kemungkinan bahwa aturan Pareto bahwa "20% komunitas (elit) 'mencaplok' 80% hasil" selain berlaku untuk kasus "regional inequalities" antara Jakarta versus daerah-daerah, juga berlaku di dalam kota Jakarta itu sendiri: 20% kaum elitis Jakarta mengambil 80% jatah yang harusnya untuk semua golongan, terbukti dengan adanya PNS Jakarta yang masih bergaji 2 jutaan, sementara dosen UI mungkin sudah minimal 7 juta. CMIIW.
Konon lagi Sekjen di suatu departemen yang bisa dapet 2 juta sekali tanda tangan dengan alasan bahwa, "Saya 'merasa' bertanggung jawab. Uang boleh terukur, namun tanggung jawabnya mohon jangan diukur. Plis deh ah. Catat itu, Dek Pendi." :-) Alangkah baiknya bila kondisi "status quo" ini bisa "ditransparansi" agar aturan 20:80-nya Pareto itu tidak malah berubah menjadi aturan 4:96-nya "The Secret" yang dapat saja berupa munculnya penilep BLBI baru atau perusahaan asing yang berlogika "Aku yang eksp(l)or, aku yang kudu dapet benefit mayoritas. You pikirin rakyat you sendiri, ntar aku kasih komisi." :-) Mohon maaf bila tidak berkenan. Insya Allah, ini semua untuk keadilan sebagai fungsi kekhalifahan manusia atas dunia nan fana ini, minimal Indonesia. Ndak bisa didiemkan donk dengan alasan "Jagalah hati" selama mulut dan tangan awak juga masih bisa berbuat. :-) Dan agar jangan pulak awak dapat predikat dari Yang Di Atas sebagai "orang mempunyai selemah-lemahnya iman.":-) Kasarnya, sekali lagi, "Mohon jangan Jakarta saja yang selalu dapat prioritas." Plis deh, Dek Pendi. :-) Wassalamu'alaikum wr. wb., Andri "Bias-Bias Cak Andri" http://mandrib.kuyasipil.net/ http://mandrib.multiply.com/ Dedek Lukman wrote: > > Saya melihat sudah terlalu kompleks masalah yang dihadapi Indonesia > sehingga seperti benang kusut amat sulit untuk bisa diurai. Seharusnya > peran pemimpin bangsa yang sudah dipilih langsung oleh rakyat bisa > menggerakkan seluruh komponen bangsa termasuk para aparatnya. Yang ada > karena negara tidak bisa menyelamatkan rakyatnya, masing-masing > mencari jalan sendiri untuk minimal menyelamatkan diri, masa depan > anak dan keluarga. > > Saya salut buat teman-teman yang 'benar-benar berjuang' masih > memikirkan bangsa walaupun kondisi diri dan kelurga mungkin > 'terbengkalai'. > > Banyak teman-teman saya yang masih 'senior' di BPPT udah hampir kepala > lima di pemerintahan tapi masih tetap 'ngontrak' rumah, karena tidak > punya rumah dan tidak pernah punya kesempatan keluar negri. Bayangkan > golongan udah 3D gaji masih 2 jutaan dan harus hidup di Jakarta. > > Sekedar berbagi. Pilihan hidup terletak di tangan kita sendiri. > > Dedek > > - >
