Assalamu'alaikum wr. wb.,

FYI: Ini adalah salah satu pendapat di sebuah blog.

If there are opinions and statistics, statistics wins.
But if there are statistics and facts, facts win.

And Allah knows best. And He always wins. :-)

Selamat ber-tabayyun (check-and-recheck) dengan hati dingin.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

Andri
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/


Source: 
http://mellyana.blogspot.com/2007/08/mencari-budiman-bachtiar-harsa.html

---opinion begins---

Mencari Budiman Bachtiar Harsa

Hari ini, aku menerima email keluh kesah seseorang yang berkunjung ke 
Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa berusia 37 tahun, WNI asal Banten, 
karyawan BUMN berkantor di Jakarta. Itu adalah paragraf pertama dari 
hampir 20 paragraf email yang diberi judul Hati2 wisata ke Malaysia! 
Email ini datang tepat berdekatan dengan suasana yang kembali memanas 
antara Indonesia dan Malaysia karena kasus TKI, dan pemukulan terhadap 
Ketua Dewan Wasit Kontingen Karate Indonesia, Donald Luther Colopita.

Email ini menjadi menarik buatku, karena ada kalimat: dari milis Pantau. 
Aku tergabung dalam salah satu milis Pantau, dan tidak pernah menerima 
email itu sebelumnya.

Aku punya kebiasaan yang seringkali mengganggu beberapa teman, untuk 
selalu mencek semua email "fwd" yang diterima. Dan, tulisan Bapak 
Budiman Bachtiar Harsa ini tidak luput dari keingintahuanku, apakah ini 
cerita benar atau tidak.

Googling adalah cara paling gampang, dan saya temukan beberapa link 
dengan kata kunci Budiman Bachtiar Harsa. Sebuah blog pribadi, sebuah 
blog komunitas, sebuah forum dan sebuah situs berita memuat sebagian 
dari isi email tersebut. Liputan 6 menulis "Donald ternyata bukanlah 
korban pertama kekerasan polisi Malaysia. Budiman Bachtiar Harsa, 
eksekutif sebuah BUMN di Jakarta mengirim e-mail tentang pengalaman 
pahit berwisata ke Malaysia." Saya jadi bertanya-tanya, mengirim email 
ke siapa? Ada ketidakyakinan kalau Bapak Budiman mengirimkan email itu 
langsung ke Liputan 6. Atau, ini kekuatiran berlebihan? Kalau ternyata 
itu memang email yang langsung diterima redaksi, aku akui, aku salah. 
Tidak apa-apa. Malah barangkali aku akan dapat cerita dari tangan 
pertama, tokh?

---opinion ends---

Kirim email ke