Dear Andri,

Membaca tulisan2 Anda cukup menarik untuk disimak , walhasil jari-
jemari ini ingin sekali mengomentari bahkan menghina.
Subhanallah...mudah2 ini hanya pikiran negatif saya.

Dulu waktu di ngaji di Al-wasliyah Kabanjahe, saya sempat membaca 
hadist yang kira2 artinya kalau tangan kanan berbuat kebaikan, 
tangan kiri tak perlu tahu.

Logika saya berkata: 
- kebaikan/kehebatan anda tak layak di share ke forum, akan lebih 
baik di-share lansung ke orang yang bertanya.
- kemiskinan anda tak layak di share ke forum, apalagi untuk mencari 
simpati, dewasalah anakku!
- kekayaan anda tak perlu diceritakan ke-forum, anda sudah tahu 
jawabnya mau dikemanakan
- kebaikan/kehebatan orang lain, atau yang positif2 dari orang lain, 
akan lebih baik di-share ke forum.

Mudah2an logika saya ini bisa memberikan perspective yang berbeda.

Wassalam,
Yusri Amsal
TF94

 

--- In [email protected], Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> KEMUDAHAN UNTUK MELAKUKAN KKN BAGI SEORANG ANDRI
> 
> Saya akui bahwa saya sebenarnya - menurut banyak pihak - dalam 
posisi 
> yang "sangat bagus" apabila ingin ber-Kura-Kura Ninja di Sumatera 
Utara 
> maupun Pusat.
> 
> Salah satu contohnya adalah karena ysh Bapak Erry Nuradi yang 
menjabat 
> Bupati Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, adalah adik 
kandung 
> dari Mama saya.
> 
> Berikut ini website Sergai: http://www.serdangbedagaikab.go.id/
> 
> Sedikit cerita, saya adalah lulusan S2 bidang Sains Komputer, dari 
The 
> University of New South Wales, Australia, dan tahun 2005 saya 
merugi 
> dalam bisnis dan berhutang kira-kira 250 juta.
> 
> Sangat berat bagi saya dan istri. Dan juga sangat membebani orang 
tua 
> saya yang sudah memasuki masa pensiun sebagai guru besar di 
Universitas 
> Sumatera Utara.
> 
> Pak Erry tentu merasa kasihan melihat kondisi depresif keluarga 
kami.
> 
> Dan melihat saya mempunyai pengalaman mengembangkan website dan 
juga 
> mempunyai kredensial ilmu sains komputer, saya diminta beliau 
untuk 
> mengerjakan proyek "Website Kabupaten Sergai" yang nilainya < 50 
juta, 
> yang dengan sendirinya - saya tidak begitu mengerti peraturannya - 
tidak 
> perlu tender.
> 
> ***
> 
> PILIHAN ANDRI
> 
> Saya memilih untuk berbisnis yang lain saja - saya kuatir nanti 
> penilaian masyarakat terhadap keluarga saya. Walaupun itu bisa 
saya 
> kerjakan karena saya seorang profesional dalam bidang komputer & 
IT.
> 
> Saya pun kerja unprofessionally sebagai pemasok makanan untuk para 
buruh 
> yang sedang membangun suatu bangunan berlantai lebih dari tujuh di 
Medan.
> 
> Alhamdulillah, dengan bisnis ini - dan kegiatan lainnya, termasuk 
> menulis di surat kabar dll. - yang awalnya tidak menjanjikan dan 
relatif 
> tertatih-tatih - utang saya tahun 2006 menjadi nol.
> 
> Dan tahun 2007, saya bisa aktif lagi di berbagai milis 
untuk "memaksakan 
> kehendak saya untuk memberantas korupsi" dengan prinsip 3M (mulai 
dari 
> diri sendiri & keluarga, mulai dari yang terkecil, dan mulai 
sekarang 
> juga) karena saya sudah punya bisnis sampingan yang insya Allah 
tidak 
> berhubungan dengan keluarga saya manapun yang menjabat.
> 
> Dan insya Allah, kami istiqamah.
> 
> Bahasa Indonesia-nya: konsisten.
> 
> ***
> 
> ALLAH SELALU MEMBERIKAN REZEKI HALAL BAGI HAMBA-NYA
> 
> Idealisme dan konsistensi adalah suatu entitas, bila tidak tidak, 
maka 
> ia cenderung bersifat munafik. Atau, sebut saja, "lip service".
> 
> Segala puji bagi Allah swt yang tidak pernah wanprestasi dengan 
> janji-Nya untuk memberikan rezeki kepada ciptaan-ciptaan-Nya yang 
memang 
> ia maksudkan untuk masuk ke dalam surga, semuanya.
> 
> Sebagai bukti dalam Islam, bila bayi meninggal, ia masuk surga. 
Dan 
> orang tuanya yang sabar pun, insya Allah akan digantikan yang anak 
lebih 
> baik lagi - dan juga masuk surga.
> 
> Ini sudah janji-Nya.
> 
> Dan janji siapa yang harus kita percayai kecuali janji-Nya?
> 
> Dan memang mudah bagi saya untuk berbicara pemberantasan korupsi, 
karena 
> - insya Allah, bersarkan fakta dan testimoni banyak pihak di 
Sumatera 
> utara - keluarga kami adalah profesional: dokter, insinyur, 
pengusaha, 
> dll. yang tidak berhubungan "anything mysterious" dengan keluarga 
kami 
> yang lain yang menjabat di Sumatera Utara maupun Pusat.
> 
> ***
> 
> SALAM HORMAT, DOA, DAN MAAF BAGI PARA PEMIMPIN KAMI DI SUMATERA 
UTARA
> 
> Saya menaruh hormat kepada dua pemimpin kami di Sumatera Utara, 
yaitu 
> alm. mantan Gubsu E.W.P. Tambunan dan alm. mantan Gubsu Tengku 
Rizal 
> Nurdin yang anti-KKN walaupun kadang-kadang "tertindas" oleh oknum 
anak 
> buah sendiri.
> 
> Untuk Paman kandungku tercinta, Tengku Rizal Nurdin, semoga akhlak 
yang 
> telah engkau contohkan kepadaku sejak engkau menjadi mentorku 
mulai 
> kuliah di ITB tahun 1993 menjadi pintu pembuka maaf dari Allah 
swt, 
> setelah engkau dikabarkan syahid dalam kecelakaan pesawat Mandala, 
5 
> September 2005 yang lalu.
> 
> Saya mohon maaf kepadamu, karena saya masih terlalu miskin untuk 
bisa 
> membantu anakmu, Tengku Armilla Madiana, S.H., sepupu kandungku, 
yang 
> sekarang membuka bordiran kecil-kecilan di rumah mertuanya di 
Jakarta, 
> karena engkau hanya "mewariskan" asuransi kecelakaan pesawat.
> 
> Bukan kebun sawit.
> 
> ***
> 
> KONDISI SURGA DAN SUMUT SEKARANG
> 
> Pak Rizal, insya Allah, bidadari yang lebih cantik dari Jennifer 
Aniston 
> sudah menunggumu di surga.
> 
> Mohon jemput saya ke sana. Dengan cara apapun yang diridhai Allah 
swt.
> 
> Dan mudah-mudahan, telah menunggu Anda juga kebun-kebun yang bebas 
dari 
> kebon binatang seperti di SUMUT (Semua Urusan Masih Uang Tunai - 
setelah 
> Anda tinggalkan).
> 
> Dan melihat siapa oknum yang bakal memimpin Sumut ke depannya, 
saya rasa 
> sebaiknya saya menyusul Anda.
> 
> Bila Allah tidak menghendaki lain.
> 
> Terbaik bagi Allah terbaik bagi rakyat.
> 
> Bukan terbaik bagi rakyat, terbaik bagi [sebut nama pemimpin 
munafik 
> atau organisasi preman tertentu].
> 
> Pernyataan berbau "lip-service" terakhir sudah biasa dimanfaatkan 
oknum 
> tertentu untuk mengembalikan "pucuk kepemimpinan" ke tangan 
keluarga 
> pejabat korup.
> 
> Anda rela?
> 
> You could try and think about anything else, but to prove 
otherwise is 
> probably hard if you don't want to play a little game below.
> 
> ***
> 
> A GOOGLE GAME
> 
> Untuk fakta dan opini terhadap artikel di atas, silakan di-search 
di 
> Google dengan kata kunci: "rizal", "nurdin", "korupsi"
> 
> Mungkin yang hasil search yang nomor dua akan berbunyi:
> 
> http://kompas.com/kompas-cetak/0508/04/sumbagut/1947720.htm
> 
> "Dalam perkembangannya, Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin malah 
meminta 
> anggota KPUD Sumut mengembalikan dana sebesar Rp 1,128 miliar itu, 
> sesuai dengan jumlah kerugian yang disebutkan dalam laporan Badan 
> Pemeriksa Keuangan (BPK) beberapa waktu lalu."
> 
> 
> Kemudian, rasakan bedanya dengan: "walikota", "[sebut nama 
kotanya]", 
> "korupsi"
> 
> atau
> 
> "[sebut nama pimpinan di daerah Anda]", "korupsi"
> 
> 
> Kalau merasa jagoan: "soeharto", "korupsi"
> 
> 
> Inilah yang dinamakan dengan pembuktian terbalik.
> 
> 
> Google sulit dibohongi (baca: *bukan* tidak mungkin), karena bila 
kata 
> kunci itu adalah:
> 
> "[sebut nama CEO Google]", "[tindakannya yang anonoh = tidak 
senonoh]" 
> dan Google akan menyampaikan opini dan juga, fakta.
> 
> Contoh: "google" "ceo" crazy"
> 
> Dan baca artikel berikut:
> 
> "Is Google Evil?" (sumber: 
> http://www.motherjones.com/news/feature/2006/11/google.html)
> 
> "So can you trust Google only as far as you can trust the Bush 
> administration? 'I don't know,' Wong replied. 'I've never been 
asked 
> that question before.'"
> 
> 
> Dari milyaran jumlah halaman HTML, Anda harus membayar ribuan tim 
ahli 
> khusus untuk bisa mengedit-nya sesuai kepentingan organisasi Anda.
> 
> 
> So, you could forget the PageRank technology being used by a 
corrupt 
> government officer to popularize him/herself.
> 
> You could try: "bush", "war", "lies".
> 
> Anything you like, buddy.
> 
> ***
> 
> TANTANGAN UNTUK IKUT GOOGLE-GAME BAGI ANDA (TERUTAMA KELUARGA 
PEJABAT)
> 
> Ada sebuah tantangan manis untuk Anda:
> 
> "[nama keluarga Anda]", "Korupsi"
> 
> Bila search yang terakhir tidak berani Anda lakukan,
> berarti ada kemungkinan besar keluarga Anda terlibat korupsi.
> Kalau sudah begitu, mohon jangan terlalu berani me-reply, nanti 
bisa 
> malu sendiri. Apalagi bila masih "belajar", dan setelah "lulus" 
dan 
> "menjabat" justru berbuat lebih kejam dari koruptor yang sudah 
berlalu.
> (Angkatan 66, anyone?)
> 
> Berani?
> 
> Simply put, Anda transparan, atau Anda korupsi.
> 
> ***
> 
> Wassalam,
> 
> Andri
> "Bias-Bias Cak Andri"
> http://mandrib.kuyasipil.net/
> http://mandrib.multiply.com/
>


Kirim email ke