--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:


Mas Heru ysh, alhamdulillah saya sudah kembali, dan sedikit mau
bercerita tentang beberapa hikmah yang sempat saya temukan. Pada
beberapa kesempatan saya coba membaca Al Qur-an dan tafsirnya secara
acak, dan selalu tertuntun tentang Bani Israil. Kiranya jelas sekali
kemarahan Allah swt terhadap Bani Israil ini, yang mengutuk, menyuruh
kita waspada, hingga berperang kepadanya. Pertanyaan terbesar adalah
kenapa Bani Israil, dan sehebat apa kesalahan yang mereka perbuat?
Kenapa bukan bangsa lain, dsb?



Saya coba cari jawabannya, dan bertemu dengan ayat yang menyebutkan bila
telah banyak kebenaran yang didatangkan kepada bangsa ini, termasuk
sebagian nabi-nabi juga berasal dari sini. Namun mereka senantiasa
memungkiri, menyalah-artikan, memalsukan,  memutarbalikkan ayat-ayat
Allah yang sampai kepada mereka, sebagaimana contohnya banyak disebutkan
dalam Al Qur-an, al. sapi betina. Dengan kata lain segala upaya
penyampaian pesan keilahiatan selalu menghadapi kebuntuan. Mungkin ini
karena Bani Israil merupakan bangsa yang terlalu cerdas, sehingga
terlalu sulit untuk percaya dan tawaddu'. Kita bisa membaca bila
Musa as harus berkali-kali mohon mu'jizat dari Allah swt untuk
meyakinkan umatnya. Namun ternyata mudah pula hati umatnya itu untuk
berbelok.



Kiranya Allah swt menyuruh Ibrahim as untuk hijrah ke Makkah, dan
mempercayakan penerusan risalah kepada bangsa Arab hingga Nabi Muhammad
saw. Karena bangsa Arab cenderung amanah, pandai
menyimpan/mendokumentasikan informasi, dan meneruskan apa adanya
berbagai ayat-ayat tersebut (naïf). Selain itu konteks penggunaan
bahasa Arab itu untuk informasi universal adalah `paling mudah
dipahami', tidak mudah adanya duplikasi pengertian (Yusuf : 2).
Mungkin kita perlu mempelajari dulu tabiat bangsa-bangsa (antropologi)
untuk bisa menangkap pesan kenapa Allah swt mempercayakan Al Qur-an
diturunkan pada komunitas Arab.



Terlepas dari itu, sekalian menanggapi postingan Cak Andri, kalau kita
perhatikan secara seksama, ayat-ayat Al Qur-an (termasuk Al Hadits)
merupakan bahasa universal, tidak mengenal perbedaan bangsa. Namun
jangan dicampurkan dengan `urf', atau tradisi Arab, yang bisa
saja dengan pengamatan sekilas akan mengecewakan kita. Bagaimanapun
`urf itu melekat dalam kebiasaan orang Arab, namun mereka sejauh ini
tidak mengotori atau mencampurinya dengan aqidah dan syariat. Mungkin
disitulah letak keluguan Arab.



Syariat sendiri dalam beberapa hal bersifat situasional, sehingga
terdapat perbedaan cara dalam kita beribadah. Dengan kata lain terdapat
`ukuran' yang tidak setiap orang atau bangsa sama melakukannya,
jadi ada ukuran ergonomis. Sebagai contoh, Rasulullah melaksanakan
sholat lail setiap malam dan menghabiskan separuh waktu malam. Tidak
semua sahabat dapat melakukan hal itu, namun potensial dilakukan oleh
orang Arab pada umumnya karena kondisi fisik, iklim, lingkungan, dsb.
Namun bila harus dilakukan orang-orang Indonesia, Allahu alam, hanya
sedikit orang yang saya kira dapat melakukannya; jadi tidak dapat
menjadi syariat umum.



Jadi perlu kita secara cermat memahami dan membedakan hal-hal yang
bersifat syariat dan kebiasaan Arab ('urf). Sebagai contoh adalah
masalah pakaian, bila gamis tidak cocok digunakan di Indonesia, kita
bisa berpakaian seperti biasanya. Termasuk kebiasaan lainnya. Dengan
kata lain, ber-Islam bukan berarti menjadi Arab.



Kembali ke Palestina, memang benar disebutkan bila untungnya ditempatkan
orang Arab Palestina (leluhur Nabi Ibrahim as) yang struggle
berabad-abad menghadapi Bani Israil (leluhur Nabi Musa as). Coba kalau
yang ditempatkan di situ orang Jawa atau orang Padang, kan berabe. Namun
melawan Bani Israil adalah tuntunan dalam Al Qur-an untuk seluruh
bangsa.



Sementara demikian dulu Cak. Salam.



-ekadj


--- In [email protected], "Heru Prabowo" zhiya@
wrote:
>
> Di tengah gambar & berita derita anak2 dan warga Gaza, di tengah
hiruk-pikuk reaksi emosional yang membanjiri indra lewat tv, milis,
facebook, saya mencari deskripsi yang proporsional dan analitis tentang
fenomena agresivitas Israel di Gaza ini. Salah satunya ini
http://tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/01/06/kol,20090106-49,id.html.
>
> Seperti pernah ditegaskan pejabat pemerintah Palestina (misalnya
Dubesnya di Jakarta), pimpinan Hamas, dan beberapa pimpinan Islam di
negeri ini yang paham situasi - pejuang dan rakyat Palestina tidak
terlalu membutuhkan relawan perang dari negeri lain, sesuatu yang justru
sedang digalang besar2an di berbagai pelosok negeri ini. Sesuatu yang
agak susah dipisahkan dari upaya menonjolkan eksistensi dan pengaruh
beberapa partai dan ormas memanfaatkan momentum ini.
>
> Perjuangan rakyat Palestina, yang saat ini menonjol terorganisir dalam
wadah Hamas, adalah perjuangan panjang, bukan satu atau dua minggu
pertempuran. Email ini tidak akan membahas topik ini, akan tetapi
mencoba mengangkat artikel yang mengantarkan kita untuk lebih memahami
apa sebenarnya yang ada di benak pemerintahan yang sedang berkuasa di
Israel, apa yang ada dalam pikiran pimpinan Hamas, dan terutama apa yang
ada dalam hati rakyat Palestina.
>
> Selamat membaca.
> (text merah oleh saya)
> - hp -
>
> Gaza
> Selasa, 06 Januari 2009 | 08:52 WIB
>
> TEMPO Interaktif, Jakarta: Omong kosong Israel bilang mau menghabisi
Hamas. Di Libanon, pada 2006, mereka juga bilang mau menghabisi
Hizbullah. Namun, setelah meriam tank-tank Ma'rev dibungkam oleh
perlawanan Hizbullah, Israel terpaksa mengakui bahwa Hizbullah tidak
bisa dibasmi. Seperti halnya dengan Hizbullah, Hamas pun tak mungkin
dihabisi.
>
> Sudah lebih dari sepuluh tahun Israel melakukan operasi pembunuhan
pimpinan garis keras Palestina. Puluhan komandan pasukan gerilya
Palestina mati, tapi ratusan sukarelawan berebut menawarkan diri untuk
dilatih mengisi lowongan yang ditinggalkan mereka yang dibantai. Sepuluh
dibunuh, seratus yang maju. Politik basmi yang ditujukan pada gerakan
yang didukung rakyat adalah pengantar ke jalan buntu.
>
> Koalisi partai yang berkuasa di Israel kepepet waktu. Paling sedikit
ada dua ketidakpastian di benak mereka. Benar Obama menempatkan dua
tokoh pro-Israel pada posisi utama dalam pemerintahannya, Rahm Emmanuel
sebagai Kepala Staf Gedung Putih dan Hillary Clinton, menteri luar
negerinya. Tapi mengapa hal itu dilakukannya setelah menang pemilu
secara amat meyakinkan? Buat apa merayu masyarakat Zionis Amerika lagi?
Bukankah suara mereka sudah dikantonginya? Israel bimbang akan bentuk
perubahan yang dijanjikan Obama. Akankah Amerika menjalankan politik
luar negeri baru yang lebih menguntungkan bagi Amerika sendiri, atau
melanjutkan politik luar negeri lama yang cetak birunya dibuat di meja
gambar Tel Aviv? Yang jelas, Amerika sedang kehabisan uang. Nafsu terjun
dalam avontur seperti Perang Vietnam atau serbu Irak mungkin masih
besar, tapi tenaga dan dana sudah berkurang.
>
> Partai yang berkuasa di Israel juga kepepet waktu karena pada Februari
2009 Israel akan mengadakan pemilihan umum. Diperkirakan, koalisi yang
bisa digalang Partai Kadima warisan Ariel Sharon akan menang tipis
karena semburan api naga murka bernama Benyamin Netanyahu. Partai
politik Netanyahu, Likud, penganut garis keras dalam politik Israel.
Netanyahu condong pada kebijakan libas-sana-libas-sini, gagal atau
berhasil perkara belakang. Likud mengecam pemimpin Kadima berpolitik
lembek, lemah, mengorbankan Yahudi untuk berkompromi dengan kebohongan
Arab.
>
> Untuk menangkis tuduhan ini harus dibuktikan bahwa Kadima bisa main
kasar. Perlu juga diketahui bahwa operasi "habisi Hamas" sudah
dirancang lebih dari setahun. Hanya alasannya yang baru muncul ketika
Hamas mengakhiri gencatan senjata secara sepihak. Penembakan roket ke
selatan Israel sebagai alasan perang kurang meyakinkan. Lima tahun
penembakan roket Qassam ke Israel menimbulkan enam korban jiwa di
Israel; perang lima hari membantai 400 orang Palestina dan melukai
2.000. Hamas juga sudah lama mempersiapkan perang. Terowongan-terowongan
digali untuk menyelundupkan senjata dan amunisi menembus blokade dan
masuk ke Gaza.
>
> Apa sebenarnya yang dituntut pejuang di Gaza? Hamas berkeras minta jam
Palestina diputar kembali ke zaman pra-1940-an. Palestina harus diberi
cap Islam yang jelas, di samping cap Kristen dan Yahudi. Hamas mau hidup
berdampingan dengan umat Kristen dan Hibrani dalam satu negara
Palestina. Mereka tidak suka solusi dua negara, karena tanah subur dan
sumber air akan tetap dikuasai Israel. Namun demikian, Hamas bersedia
menerima konsep dua negara untuk sementara dan dalam keadaan gencatan
senjata jangka panjang, bukan damai. Hak Palestina yang direbut Israel
harus dikembalikan, termasuk kampung halaman yang sekarang terletak di
Israel.
>
> Garis keras Hamas merupakan pantulan struktur kependudukan di Gaza.
Delapan puluh persen penduduk Gaza yang berjumlah 1.500.000 orang adalah
pengungsi beserta anak, cucu, dan cicit mereka. Dulu, ketika para Zionis
tinggal dalam pengasingan diaspora, dalam setiap kesempatan berkumpul
mereka melepas kerinduan akan tanah leluhur mereka dengan seruan
"tahun depan di Yerusalem". Para pengungsi Palestina yang diusir
tentara pendudukan Israel dari kampung halaman mereka juga terus
mendambakan kembali ke rumah mereka yang direbut orang Yahudi. Mereka
juga secara turun-temurun merindukan mudik, dan berseru "tahun depan
di Haifa, di Tel Aviv, Al-Quds".
>
> Di dalam kanun Hibrani orang Yahudi dilarang melupakan kezaliman yang
mereka alami. Dalam tradisi oral bangsa Arab juga ditemukan hikayat
derita atas perlakuan kejam terhadap mereka. Seperti memori Yahudi akan
pogrom dan holocaust, ratapan Palestina juga ditembangkan
antar-generasi, supaya terus diingat dan terukir dalam memori peradaban
mereka. Memori semacam inilah yang menjadi rintangan terbesar bagi
perdamaian dan pemicu terkuat untuk perang. Untuk berdamai orang harus
bersedia belajar lupa.
>
> Israel sejak semula tidak mengizinkan pengungsi Palestina pulang ke
kediaman asalnya. Israel tidak berminat membentuk negara kesatuan
Islam-Kristen-Yahudi, yang dalam waktu singkat akan dibanjiri warga
negara keturunan Arab. Dibandingkan dengan penduduk Kristen dan Yahudi,
orang Arab Palestina memang paling suka, paling sering, dan paling
banyak bikin anak. Bisa jadi pada pertengahan abad ke-21 mayoritas warga
negara Palestina di negara kesatuan semacam itu adalah pemeluk agama
Islam. Itu sebabnya mengapa usul negara kesatuan ditolak Israel setiap
kali muncul dalam perundingan damai Arab-Israel. Penolakan itu
memperkuat kesan bahwa Israel menjalankan politik apartheid seperti
Afrika Selatan. Kesimpulan ini bahkan dibukukan oleh Jimmy Carter,
mantan Presiden Amerika Serikat.
>
> Dalam konfrontasi Arab-Israel orang banyak berasumsi bahwa semua
negara di Timur Tengah yang bernapaskan Islam akan membantu Palestina.
Kenyataannya tidak demikian. Hamas didukung Iran, Irak, dan Libanon,
tiga negara dengan mayoritas Syiah. Gaza sudah lama diblokade oleh
Israel. BBM, bahan makanan, dan obat-obatan dipersulit masuk ke Gaza.
Ketika Israel mulai melancarkan bombardemen terhadap Gaza, banyak
penduduk, terutama perempuan, orang jompo, dan anak, berduyun lari
menuju pintu gerbang Mesir untuk mengungsi ke negeri umat terdekat.
>
> Pemerintah Hosni Mubarak mengerahkan tambahan 300 penjaga gerbang
untuk menutup rapat gerbang penyelamat. Mesir dan Israel bekerja sama
dalam blokade ekonomi terhadap Gaza. Hamas dibentuk oleh Ikhwanul
Muslimin Mesir 20-an tahun yang lalu. Rezim militer di negeri itu merasa
terancam oleh organisasi itu, yang tambah lama tambah berakar di
kalangan rakyat jelata Mesir. Membantu Hamas identik dengan membantu
Ikhwanul Muslimin, pesaing kekuasaan Mubarak yang amat potensial.
>
> Solidaritas antar-umat pada umumnya juga tampak lemah. Lapangan
terbang militer Turki dipakai oleh pesawat tempur Amerika untuk mengebom
Irak. Tadinya Amerika mempersenjatai dan membiayai Irak untuk berperang
melawan Iran. Saudi berupaya keras agar program nuklir Iran dicegah.
Struktur kepentingan di antara negara-negara Arab tidak memberikan
banyak harapan manfaat bagi Palestina dari pertemuan Liga Arab yang
direncanakan sebagai reaksi terhadap perang Gaza.
>
> Di Palestina sendiri organisasi warisan Yasser Arafat terus dipojokkan
oleh Hamas dengan tuduhan antek Barat, musuh Islam. Kampanye yang
mengalahkan Fatah di Gaza berbunyi "Fatah mau berunding terus!
Hasilnya Nol Besar. Hamas memilih jalan perang. Hasilnya Israel enyah
dari Gaza". Jika sekarang Mahmud Abbas mulai berbicara tentang
tekadnya menghentikan semua perundingan dengan Israel, itu harus
diartikan sebagai sukses kampanye Hamas, dan munculnya kemungkinan Hamas
dan Fatah merapatkan barisan.
>
> Hamas mengakhiri gencatan senjata secara sepihak dengan tiga tujuan.
Pertama, Hamas ingin menunjukkan bahwa garis Fatah yang terus berunding
dengan Israel telah gagal karena tidak menghasilkan manfaat apa pun bagi
Palestina. Sebaliknya, garis keras Hamas telah mengenyahkan Israel dari
Gaza. Kedua, Hamas ingin memancing Israel agar menggunakan infanteri
untuk berperang gerilya di kota. Ketiga, Hamas ingin meyakinkan lawan
bahwa ia adalah satu-satunya pihak yang berdaulat untuk berunding atas
nama rakyat Palestina.
>
> Dengan alasannya masing-masing, Israel dan Hamas memilih jalan perang.
Setiap kali debu perang mengendap dan orang menghitung harga, korban
jiwa, dan materi di pihak Arab berjumlah 100 kali korban di pihak
Israel. Tapi mereka terus berperang, tanpa menang sepenuhnya, tanpa
kalah meyakinkan, tanpa kesudahan. Dalam kegelapan itu hanya tampak dua
titik terang: sebelum bombardemen Israel suatu survei di kalangan
penduduk Gaza menunjukkan bahwa sebanyak 74 persen orang Palestina
menginginkan diteruskannya gencatan senjata. Hasil polling itu
menunjukkan bahwa betapapun cacatnya gencatan senjata dalam kondisi
cekikan blokade ekonomi, rakyat Palestina tetap memilih damai ketimbang
perang. Suara dari bawah berbunyi "hentikan perang".
>
> Titik terang yang satu lagi adalah kesediaan Hamas menerima solusi dua
negara dalam suasana gencatan senjata jangka panjang. Titik terang ini
perlu dikembangkan. Gencatan senjata biasanya sekadar stasiun
persinggahan antara keberangkatan dan ketibaan. Gencatan senjata jangka
panjang secara konsepsional tetap bermakna sebagai stasiun persinggahan,
tetapi dibebani harapan bahwa penumpang kereta, masinis, dan kondektur
menjadi terbiasa pada kenyamanan lingkungan stasiun sehingga tidak
merasa terdorong lagi untuk repot-repot menuju stasiun ketibaan.
>
> Gencatan senjata jangka panjang dijadikan sinonim perdamaian dengan
tiga syarat: pengawasan internasional yang ketat, tidak berpihak, dan
bergigi; bantuan ekonomi yang terarah pada kesehatan dan pendidikan
rakyat; dan pengembalian wilayah secara bertahap sesuai dengan tahapan
kepatuhan pada perjanjian gencatan senjata.
>
> NONO ANWAR MAKARIM, Penasihat hukum di Jakarta
>

--- End forwarded message ---


Kirim email ke